
Oleh : Duta Besar Polandia, H.E. Barbara Szymanowska*)
Merupakan suatu kehormatan besar bagi saya untuk mewakili Polandia di Indonesia selama hampir satu tahun terakhir. Ini adalah Ramadhan kedua yang saya jalani di negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia.
Sepanjang karier diplomatik saya, saya telah bertugas di berbagai lingkungan budaya dan keagamaan, termasuk di negara-negara mayoritas Muslim. Namun, sebagai seseorang yang berasal dari Polandia, sebuah negara dengan tradisi Katolik yang dominan, saya merasakan Ramadhan di Indonesia dengan penuh penghormatan dan perhatian mendalam.
Energi spiritual, semangat kebersamaan, serta ritme kehidupan khas yang hadir selama Ramadhan di Indonesia mendorong saya untuk merefleksikan bagaimana bulan suci ini dijalankan di Polandia.
Ramadhan di Polandia memiliki karakter yang unik dan inspiratif. Ibadah ini berlangsung di negara di mana umat Muslim merupakan kelompok minoritas, namun Islam telah hadir selama lebih dari 600 tahun melalui komunitas historis Tatar Lipka.
Perpaduan antara tradisi yang mengakar kuat dan keberagaman multikultural modern menciptakan suasana Ramadhan yang sangat khas — bahkan mungkin mengejutkan bagi banyak pembaca di Indonesia.
Saat ini, diperkirakan terdapat sekitar 40 ribu hingga 50 ribu Muslim di Polandia, termasuk sekitar lima ribu hingga 10 ribu anggota komunitas Tatar Lipka. Selain itu, terdapat pula mahasiswa, profesional, pengusaha, serta keluarga dari berbagai negara mayoritas Muslim — termasuk semakin banyak warga Indonesia yang belajar maupun bekerja di Polandia.
Banyak di antara mereka membagikan pengalaman Ramadhan di Polandia melalui media sosial maupun wawancara dengan media Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa semangat Ramadhan melampaui batas geografis.
Gambaran menarik disampaikan oleh Muhammad Inditiya Gegar Laras, mahasiswa Indonesia di Warsawa. Dalam wawancara dengan Radio Republik Indonesia, ia menyatakan: “Ramadhan tentunya berbeda jauh disini (Polandia), karena Islam adalah agama minoritas sedangkan agama mayoritas di Polandia adalah Katolik, dan penganut Katolik yang taat. Tetapi hal tersebut bukan menjadi halangan, teman-teman disini sangat tolerir, dan disini (Polandia) merupakan salah satu negara yang memiliki rasa toleransi yang tinggi terhadap umat beragama”.
Iman, puasa dan ikatan kebersamaan
Sebagaimana di Indonesia, umat Muslim di Polandia menjalankan rukun utama Ramadhan, antara lain:
• sahur sebelum fajar,
• berpuasa dari makan, minum (termasuk air), merokok, dan berbagai kenikmatan lainnya,
• berbuka puasa saat matahari terbenam,
• serta melaksanakan salat tarawih pada malam hari.
Namun, konteks geografis Polandia memberikan dinamika tersendiri. Karena letaknya di Eropa Tengah, durasi puasa sangat dipengaruhi musim.
Pada musim panas, waktu siang dapat berlangsung hingga 16–17 jam sehingga puasa menjadi lebih menantang. Sebaliknya, ketika Ramadhan jatuh pada musim dingin, seperti pada tahun 2026 yang dimulai pada 18 Februari, durasi puasa berlangsung sekitar 10 jam, relatif lebih ringan dibandingkan musim panas.
Di kota-kota besar seperti Warsawa, Kraków, Gdańsk, dan Poznań, komunitas Muslim rutin menyelenggarakan buka puasa bersama, baik setiap hari maupun pada akhir pekan. Kegiatan ini berlangsung di masjid, pusat kebudayaan Islam, maupun rumah-rumah pribadi, dan sering kali disponsori oleh individu atau institusi bagi masyarakat luas.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

2 hours ago
5
















































