REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menyebut Indonesia berpeluang menjadi model pembangunan pertanian dunia. Fondasi kebijakan dan capaian sektor pertanian dinilai cukup kuat untuk mendorong posisi tersebut.
Rachmat mengatakan, penguatan sektor pertanian perlu didukung konsolidasi petani melalui organisasi seperti Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI).
“Sudah waktunya Indonesia kembali lagi menjadi model pembangunan, tidak hanya di Asia Pasifik, tapi dunia,” kata Rachmat di Jakarta, Senin (27/4/2026).
Rachmat menjelaskan, capaian pertanian saat ini merupakan hasil proses panjang sejak awal kemerdekaan. Kebijakan yang berkelanjutan dinilai menjadi kunci keberhasilan sektor ini.
Ia menyinggung sejarah pembangunan pertanian pada 1952 saat pendirian Fakultas Pertanian Universitas Indonesia dan pembangunan kampus IPB Baranangsiang.
“Pada waktu itu Presiden Soekarno menyampaikan bahwa pangan adalah hidup matinya bangsa Indonesia,” ujarnya.
Menurut Rachmat, keberhasilan swasembada pangan tidak terjadi secara instan. Strategi yang dirancang sejak awal terus berlanjut lintas pemerintahan.
“Swasembada yang kita rasakan sekarang bukan kebetulan, bukan tiba-tiba, tapi adalah strategi yang dirancang sejak awal oleh para pendahulu kita,” katanya.
Rachmat menilai posisi Indonesia relatif kuat di tengah tekanan global. Sejumlah negara menghadapi krisis pangan dan energi, sementara Indonesia masih mampu menjaga stabilitas.
Kondisi ini didukung kebijakan yang memperhatikan kebutuhan dasar petani seperti pupuk, irigasi, benih, dan harga hasil panen.
Ia juga menekankan pentingnya keseimbangan antara produksi dan harga untuk menjaga keberlanjutan sektor pertanian. Program makan bergizi disebut menjadi instrumen baru dalam menyerap produksi pangan dan menstabilkan komoditas. “Begitu ada makan bergizi, persoalan telur dan ayam terselesaikan,” ujar Rachmat.
Rachmat menjelaskan stabilitas komoditas tersebut turut berdampak pada sektor lain, termasuk peningkatan penyerapan jagung dalam rantai produksi.
Di sisi lain, ia menekankan pentingnya peran riset dalam mendukung keberlanjutan pertanian.
“Tanpa penelitian jangan harap kita bisa berkesinambungan,” katanya.
Rachmat menilai hasil riset harus dapat diterapkan langsung oleh petani. Dalam hal ini, HKTI dinilai berperan sebagai penghubung antara inovasi dan praktik di lapangan.
Sektor pertanian juga diproyeksikan tidak hanya berfungsi sebagai penyedia pangan, tetapi juga sumber energi, serat, dan bahan baku industri. Rachmat optimistis, dengan dukungan kebijakan dan kolaborasi lintas sektor, Indonesia dapat memperkuat posisinya sebagai model pembangunan pertanian global.

1 hour ago
1
















































