REPUBLIKA.CO.ID, BANDUNG, – Ketua Umum Perhimpunan Persahabatan Indonesia-Tiongkok (PPIT), Al Busyra Basnur, menekankan bahwa generasi muda Indonesia harus mengadopsi etos kerja masyarakat Tiongkok. Hal ini penting dilakukan agar Indonesia tidak terus-menerus menjadi pasar global. Pernyataan ini disampaikan Al Busyra saat diwawancarai di Bandung, Selasa.
Menurut Al Busyra, akselerasi kemajuan ekonomi Tiongkok dalam beberapa dekade terakhir tidak terlepas dari disiplin dan daya saing sumber daya manusia (SDM) mereka. "Budaya kerja masyarakat di Tiongkok perlu kita pelajari. Mereka adalah pekerja keras yang tidak pernah membuang-buang waktu, dan disiplin waktunya sangat tinggi," ujarnya.
Al Busyra, yang memiliki rekam jejak diplomatik hampir empat dekade di berbagai kawasan, menilai Indonesia memiliki modal besar untuk menjadi kekuatan ekonomi dunia. Potensi tersebut mencakup ketersediaan bahan baku, jejaring internasional, dan kualitas pendidikan. Namun, potensi ini belum optimal karena kalah bersaing dalam hal etos kerja.
Dia mengingatkan bahwa jika pembenahan mentalitas kerja tidak segera dilakukan, maka dominasi ekonomi asing akan sulit dibendung. "Indonesia potensinya sangat besar. Tetapi untuk kemajuan ekonomi nasional, kita perlu banyak melihat, belajar, dan memperkuat diri dengan mencontoh banyak negara di dunia, termasuk Tiongkok," katanya.
Peran Pendidikan dan Bahasa
Lebih lanjut, Al Busyra menyoroti sektor pendidikan yang mencerminkan bagaimana bahasa dan keterampilan menjamin masa depan profesi. Saat ini, penguasaan bahasa Mandarin menjadi magnet profesi karena menjanjikan pendapatan premium di pasar tenaga kerja domestik. "Tenaga kerja Indonesia yang bisa berbahasa Mandarin dan bekerja di perusahaan Tiongkok di Indonesia, gajinya jauh lebih besar," ujarnya.
Ketimpangan terlihat pada arus pertukaran pelajar. Jumlah mahasiswa Indonesia yang menempuh studi di Tiongkok hampir mencapai 20.000 orang, berkat stimulus beasiswa dari pemerintah setempat. Sebaliknya, jumlah mahasiswa Tiongkok di Indonesia masih minim.
Menyikapi realitas tersebut, PPIT berkomitmen menjembatani konektivitas antarmasyarakat, termasuk mendorong keseimbangan pemberian beasiswa bahasa bagi mahasiswa kedua negara. "Jujur, Indonesia masih banyak yang harus dibenahi, tidak hanya dari sisi ekonomi tetapi juga pendidikan," tambah Al Busyra.
Konten ini diolah dengan bantuan AI.
sumber : antara

2 hours ago
5

















































