Logo Nahdlatul Ulama (NU) / Ilustrasi.

Oleh : Muhammad Husain Sanusi*
REPUBLIKA.CO.ID,Pertemuan di Pesantren Bina Insan Mulia (BIMA), Cirebon, pada malam 14 April 2026 itu bukan sekadar silaturahmi biasa. Di sana, dua kutub "energi" NU bertemu: KH Imam Jazuli Lc., MA dan Prof. KH Asep Saifuddin Chalim.
Mungkin ini adalah pertemuan "dua tokoh" identik, tetapi tidak saling berbenturan, melainkan saling menyinari.
Menjelang Muktamar NU, resonansi dan aroma "koalisi" dari pertemuan ini terasa sangat kuat.
Sebab mereka adalah prototipe dua kiai masa depan: mandiri secara ekonomi, progresif secara intelektual, namun tetap merunduk dalam tradisi.
Setidaknya ada sepuluh benang merah yang menyatukan keduanya. Pertama; ada darah biru yang mengalir dari Gunung Jati. Keduanya bukan "orang baru" dalam peta spiritual Nusantara.
Ada genetik kepemimpinan yang kuat karena sama-sama menyambung ke Trah Sunan Gunung Jati. Inilah modal sosial sekaligus spiritual. Darah dakwah yang moderat namun tegas sudah mengalir di nadi mereka jauh sebelum gelar akademik mentereng itu tersemat.
Kedua; sama-sama "selesai" dengan urusan perut. Ini yang langka.
Banyak orang ingin memimpin organisasi karena mencari hidup, tapi Kiai Imam dan Kiai Asep justru sudah "selesai dengan dirinya sendiri".
Mereka diberikan keberlimpahan kekayaan. Bagi mereka, harta bukan lagi tujuan, melainkan sekadar alat untuk melayani umat. Kalau kiai sudah kaya, ia tidak bisa dibeli, dan itulah awal dari independensi.
Ketiga; ada tangan di atas yang tak pernah lelah. Kedermawanan keduanya sudah menjadi buah bibir (masyhur).
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

3 hours ago
2















































