Tekanan Panas Bikin Kumbang Sulit Deteksi Pasangan

1 hour ago 2

SEBUAH penelitian terbaru menemukan bahwa stres akibat suhu panas telah mengubah perilaku kawin dan kemampuan reproduksi kumbang pengubur (burying beetle).

Studi yang dipimpin oleh Solène Morelle, seorang peneliti dari University of St Andrews, Inggris, itu menunjukkan bahwa kenaikan suhu mengganggu sistem komunikasi penciuman pada serangga ektotermik tersebut. Akibatnya, kumbang jantan kerap kali salah mengenali pasangannya saat musim kawin.

Sebagai serangga yang sangat bergantung pada senyawa kimia untuk berinteraksi, kumbang pengubur mengandalkan lapisan khusus pada kulit luar mereka yang disebut cuticular hydrocarbons (CHC). Menurut studi, lapisan ini juga berfungsi sebagai pelindung agar tubuh kumbang pengubur tak mengalami dehidrasi saat cuaca ekstrem.

Dalam penelitian ini, ilmuwan menemukan suatu hipotesis bahwa ketika suhu lingkungan melonjak tinggi, tubuh kumbang secara otomatis mengubah profil kimiawi CHC menjadi rantai yang lebih panjang agar tidak mudah menguap. Kondisi ini yang diduga menjadi penyebab spesies ini kehilangan kemampuan untuk mengenali lawan kawin mereka.

“Perubahan profil CHC yang disebabkan oleh panas dapat mengubah perilaku dan hasil reproduksi,” kata Morelle dikutip dari laporan Earth pada Kamis, 16 Juli 2026. “Data menunjukkan ada pertukaran antara fungsi pemberian sinyal dan fungsi pelindung air pada CHC kumbang pengubur,” ujarnya.

Studi keterkaitan peningkatan suhu dengan interaksi reproduksi pada spesies ini juga dipresentasikan oleh peneliti dalam perhelatan Society for Experimental Biology di Florence, Italia, pada 7-9 Juli lalu. Konferensi tahunan tersebut jadi wadah diskusi antarilmuwan biologi di seluruh dunia ini.

Hasil Penelitian

Tim peneliti mengamati perilaku kumbang dalam dua kondisi, yakni pada tangki simulasi suhu normal terkontrol 20 derajat Celsius dan kondisi gelombang panas selama tiga hari di suhu 26 derajat Celsius. Metode yang digunakan memakai kromatografi gas-spektrometri massa (GC-MS) untuk menganalisis perubahan lapisan kimia pada tubuh kumbang.

Hasilnya menunjukkan bahwa gelombang panas selama tiga hari membuat kumbang jantan menunggangi sesama jantan. Namun, pada kondisi suhu normal, kondisi demikian juga terjadi, hanya saja intensitasnya tak sebanyak pada saat stres karena suhu panas.

Kekacauan komunikasi akibat gelombang panas ini dikhawatirkan membawa dampak yang jauh lebih berbahaya bagi kelangsungan hidup spesies kumbang pengubur. Kumbang jenis ini dikenal memiliki perilaku sosial yang kompleks, di mana induk jantan dan betina harus bekerja sama dengan sangat kompak untuk mengubur bangkai hewan, membangun sarang, memberi makan larva, hingga menghalau musuh.

"Koordinasi dalam seluruh proses tersebut sangat bergantung pada efektivitas komunikasi kimiawi. Jika stres akibat panas mengganggu jalur penciuman mereka, hal itu akan langsung berdampak pada penurunan kesuksesan reproduksi," kata Morelle.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |