Tajrid dan Kasab dalam Perjalanan Menuju Allah

3 hours ago 4

Image Admin

Agama | 2026-07-17 06:35:56

 

Koderi, Guru Besar UIN Raden Intan Lampung

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Perjalanan seorang mukmin menuju Allah tidak hanya memerlukan semangat ibadah, tetapi juga membutuhkan pemahaman yang benar terhadap kehendak Allah. Banyak orang mengira bahwa meninggalkan dunia dan menyibukkan diri dengan ibadah merupakan jalan tercepat menuju kedekatan dengan Allah. Sebaliknya, ada pula yang terlalu sibuk dengan urusan dunia sehingga melupakan tujuan utama penciptaannya sebagai hamba Allah.

Persoalan tersebut dijelaskan secara mendalam oleh Imam Ibnu Athaillah as-Sakandari dalam Al-Hikam:

إِرَادَتُكَ التَّجْرِيدَ مَعَ إِقَامَةِ اللّٰهِ إِيَّاكَ فِي الْأَسْبَابِ مِنَ الشَّهْوَةِ الْخَفِيَّةِ، وَإِرَادَتُكَ الْأَسْبَابَ مَعَ إِقَامَةِ اللّٰهِ إِيَّاكَ فِي التَّجْرِيدِ انْحِطَاطٌ مِنَ الْهِمَّةِ الْعَلِيَّةِ

"Keinginanmu untuk hidup dalam tajrid ketika Allah menempatkanmu dalam dunia sebab-akibat merupakan syahwat yang tersembunyi. Sebaliknya, keinginanmu kepada sebab-sebab dunia ketika Allah menempatkanmu dalam tajrid merupakan kemunduran dari himmah yang tinggi" (Ibn 'Aṭā'illāh, 2007).

Hikmah ini mengajarkan bahwa kesempurnaan penghambaan bukan terletak pada pilihan manusia terhadap suatu keadaan, tetapi pada kerelaan menerima keadaan yang dipilihkan Allah.

Memahami Makna Tajrid, Kasab, Syahwat dan Himmah.

Secara bahasa, tajrid berarti melepaskan atau mengosongkan.

Tajrid dalam terminologi tasawuf berarti keadaan seorang hamba yang Allah bebaskan dari kesibukan dunia sehingga ia dapat memusatkan perhatian pada ibadah, zikir, dakwah, ilmu, dan penyucian jiwa.

Kasab berarti usaha atau ikhtiar mencari penghidupan melalui sebab-sebab yang Allah sediakan.

Allah berfirman:

فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ

"Berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya."

(QS. Al-Mulk [67]: 15)

Ayat ini menunjukkan bahwa bekerja dan mencari nafkah merupakan bagian dari syariat yang diperintahkan Allah.

Syahwat merupakan keinginan jiwa kepada sesuatu yang menyenangkan dirinya.

Imam Al-Ghazali menjelaskan:

الشَّهْوَةُ مَيْلُ النَّفْسِ إِلَى مَا يُلَائِمُهَا

"Syahwat adalah kecenderungan jiwa kepada sesuatu yang dianggap sesuai dan menyenangkan baginya" (Al-Ghazali, 2005, Juz III, hlm. 61).

Syahwat dalam hikmah ini, tidak selalu berarti keinginan kepada harta atau lawan jenis, tetapi juga keinginan spiritual yang tidak sesuai dengan kehendak Allah.

Himmah adalah cita-cita ruhani yang tinggi menuju Allah.

Imam Ibn Qayyim menjelaskan:

الْهِمَّةُ سَفَرُ الْقَلْبِ إِلَى اللّٰهِ وَالدَّارِ الْآخِرَةِ

"Himmah adalah perjalanan hati menuju Allah dan negeri akhirat" (Ibn al-Qayyim, 1996, Juz II, hlm. 10).

Dengan demikian, himmah merupakan orientasi hati yang selalu mencari keridaan Allah.

Ketika Tahrid Menjadi Syahwat yang Tersembunyi

Sebagian orang yang sedang bersemangat beribadah beranggapan bahwa pekerjaan, keluarga, jabatan, dan aktivitas sosial menghalangi kedekatannya dengan Allah. Oleh karena itu, ia ingin meninggalkan seluruh aktivitas tersebut demi memperbanyak ibadah.

Pandangan ini tidak selalu benar.

Jika Allah masih menempatkan seseorang sebagai guru, petani, pedagang, dosen, pemimpin, suami, istri, atau orang tua, maka meninggalkan semua amanah tersebut demi mengejar kehidupan uzlah dapat menjadi syahwat yang tersembunyi.

Allah berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

"Aku tidak menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku."

(QS. Adz-Dzariyat [51]: 56)

Ayat ini tidak membatasi ibadah hanya pada shalat dan zikir. Mengajar, bekerja, memimpin, menafkahi keluarga, dan melayani masyarakat juga dapat menjadi ibadah apabila dilakukan karena Allah.

Ketika Kasab Menjadi Kemunduran Himmah

Sebaliknya, ada orang yang telah Allah mudahkan untuk fokus pada ilmu, dakwah, ibadah, dan pelayanan agama, tetapi justru tergoda untuk mengejar dunia.

Keadaan tersebut disebut oleh Ibnu Athaillah sebagai:

انْحِطَاطٌ مِنَ الْهِمَّةِ الْعَلِيَّةِ

"Kemunduran dari cita-cita ruhani yang tinggi."

Allah memperingatkan:

بَلْ تُؤْثِرُونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا ۝ وَالْآخِرَةُ خَيْرٌ وَأَبْقَى

"Tetapi kamu lebih mengutamakan kehidupan dunia, padahal kehidupan akhirat lebih baik dan lebih kekal."

(QS. Al-A'la [87]: 16-17)

Ayat ini menunjukkan bahwa seorang mukmin harus menjaga orientasi akhirat dalam seluruh aktivitas kehidupannya.

Pandangan Ulama tentang Menyesuaikan Kehendak dengan Kehendak Allah

Imam Abu al-Qasim al-Qusyairi menjelaskan:

الرِّضَا سُكُونُ الْقَلْبِ إِلَى اخْتِيَارِ اللّٰهِ لِلْعَبْدِ

"Rida adalah ketenangan hati terhadap pilihan Allah bagi hamba-Nya" (Al-Qusyairi, 2007, hlm. 299).

Pernyataan ini menunjukkan bahwa seorang salik tidak boleh memaksakan keinginannya sendiri. Ia harus menerima posisi yang Allah tentukan baginya.

Syekh Abdul Qadir al-Jailani berkata:

كُنْ مَعَ اللّٰهِ كَالْمَيِّتِ بَيْنَ يَدَيِ الْغَاسِلِ يُقَلِّبُهُ كَيْفَ يَشَاءُ

"Jadilah bersama Allah seperti mayat di tangan orang yang memandikannya; Dia membolak-balikkanmu sesuai kehendak-Nya" (Al-Jailani, 1994, hlm. 87).

Perumpamaan tersebut mengajarkan kepasrahan total terhadap pengaturan Allah.

Teladan Para Nabi dalam Dunia Asbab

Para nabi merupakan manusia yang paling dekat dengan Allah, tetapi sebagian besar mereka hidup dalam dunia asbab.

Nabi Dawud bekerja sebagai pembuat baju besi.

Nabi Zakaria bekerja sebagai tukang kayu.

Nabi Muhammad berdagang, memimpin masyarakat, mengatur negara, dan berinteraksi dengan umat.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

"Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik daripada hasil kerja tangannya sendiri."

(HR. Al-Bukhari No. 2072)

Hadis ini menunjukkan bahwa bekerja bukan penghalang ibadah, melainkan bagian dari ibadah itu sendiri.

Relevansi bagi Kehidupan Kontemporer

Fenomena yang sering terjadi saat ini adalah munculnya anggapan bahwa kesalehan hanya dapat dicapai dengan meninggalkan aktivitas sosial dan ekonomi. Sebaliknya, ada pula yang terlalu tenggelam dalam pekerjaan sehingga melupakan tujuan hidupnya.

Hikmah Ibnu Athaillah mengajarkan keseimbangan. Seorang dosen dapat mencapai kedekatan dengan Allah melalui pengajaran. Seorang petani dapat mencapai kedekatan dengan Allah melalui pekerjaannya. Seorang pejabat dapat mencapai kedekatan dengan Allah melalui keadilan yang ditegakkannya.

Ukuran kedekatan dengan Allah bukan jenis pekerjaan seseorang, tetapi sejauh mana ia menjalankan amanah yang Allah pilihkan baginya.

Kesimpulan

Hikmah tentang tajrid dan kasab mengajarkan bahwa kesempurnaan suluk terletak pada kesesuaian kehendak seorang hamba dengan kehendak Allah. Ketika Allah menempatkan seseorang dalam dunia usaha dan sebab-akibat, ia harus menjalankannya dengan penuh tanggung jawab. Sebaliknya, ketika Allah memberikan kesempatan untuk fokus pada ilmu, dakwah, dan ibadah, ia harus mensyukurinya.

Syahwat yang tersembunyi muncul ketika seseorang memaksakan kehendaknya sendiri atas nama agama. Adapun himmah yang tinggi lahir ketika seorang hamba menerima dan menjalankan pilihan Allah dengan penuh kerelaan, kesungguhan, dan keikhlasan.

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |