Manhaj Tarjih Muhammadiyah di Tengah Tantangan Modern

2 hours ago 3

Image Arum Kamalia

Agama | 2026-07-16 20:47:54

Unsplash" /> Sumber: Unsplash

Perkembangan zaman membawa tantangan baru bagi umat Islam. Cara manusia bekerja berubah, teknologi semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari, dan persoalan sosial yang muncul pun makin beragam. Kondisi ini ikut mempengaruhi cara umat Islam memandang banyak hal, mulai dari ekonomi digital sampai isu kemanusiaan yang sebelumnya tidak banyak dibahas dalam konteks klasik.

Di tengah perubahan tersebut, muncul pertanyaan sederhana: bagaimana ajaran Islam dapat tetap relevan ketika realitas masyarakat terus berubah?

Jawaban atas pertanyaan ini tidak cukup hanya dengan membaca teks secara literal. Teks agama tentu selalu menjadi fondasi utama, tetapi realitas juga menuntut pembacaan yang lebih luas.

Karena alasan inilah Manhaj Tarjih Muhammadiyah memiliki posisi penting. Muhammadiyah mencoba menghadirkan pendekatan keagamaan yang tetap berakar pada Al-Qur’an dan As-Sunnah, namun tidak menutup diri terhadap perkembangan zaman.

Pendekatan ini membuat tarjih tidak lagi dipahami sebatas memilih dalil yang lebih kuat. Fungsinya berkembang lebih jauh, seperti menjadi kerangka berpikir untuk menjawab persoalan baru yang dihadapi oleh umat islam.

Apa Itu Manhaj Tarjih Muhammadiyah?

Secara bahasa, tarjih berarti menguatkan atau memilih satu pendapat yang dinilai lebih kuat dibandingkan pendapat lain.

Dalam tradisi keilmuan Islam, istilah ini awalnya lekat dengan aktivitas membandingkan dalil atau pandangan ulama yang berbeda. Tujuannya sederhana, yaitu mencari argumentasi yang paling kokoh diantara beberapa sumber.

Namun, di lingkungan Muhammadiyah, makna tarjih berkembang. Tarjih tidak sekedar berhenti pada aktivitas memilih pendapat. Ia diposisikan sebagai bagian dari ijtihad, yaitu proses intelektual untuk membaca persoalan sosial dan kemanusiaan melalui perspektif Islam.

Dengan kata lain, tarjih tidak hanya berbicara tentang hukum yang sudah ada, tetapi juga tentang bagaimana Islam merespons situasi baru yang ada di dunia.

Melalui Majlis Tarjih dan Tajdid, Muhammadiyah terus berupaya menjaga agar keputusan keagamaan tidak berhenti pada pembacaan masa lalu semata.

Pilar Utama dalam Manhaj Tarjih Muhammadiyah

Wawasan Paham Agama

Bagi Muhammadiyah, agama tidak dipahami hanya sebagai ritual individual. Islam dipandang sebagai sistem dengan nilai yang membimbing kehidupan manusia secara menyeluruh. Tidak hanya hubungan spiritual dengan Tuhan, tetapi juga perilaku sosial, etika, pendidikan, hingga aktivitas ekonomi.

Pandangan ini membuat agama hadir dalam ruang yang lebih luas. Agama tidak sekedar berhenti di masjid atau ruang ibadah, tetapi ikut membentuk cara seseorang berpikir dan bertindak.

Wawasan Tajdid

Muhammadiyah dikenal kuat dengan gagasan tajdid atau pembaruan.

Akan tetapi, pembaruan yang dilakukan bukan berarti mengubah ajaran dasar dari suatu agama. Tajdid lebih dikenal sebagai upaya menjaga kemurnian akidah sekaligus menghadirkan respons baru terhadap persoalan sosial.

Di satu sisi, ada semangat purifikasi, yaitu menjaga praktik ibadah tetap sesuai tuntunan Nabi.

Di sisi lain, terdapat dorongan dinamisasi agar persoalan sosial dan muamalah dapat berkembang mengikuti kebutuhan zaman. Dan dua hal ini berjalan beriringan.

Wawasan Toleransi

Magnific" /> Sumber: Magnific

Perbedaan pandangan dalam Islam bukan sesuatu yang baru. Sejak masa klasik, perbedaan pendapat sudah menjadi bagian dari tradisi intelektual Islam. Karena itu, Muhammadiyah tidak memandang hasil tarjih sebagai satu-satunya kebenaran yang wajib diterima semua orang.

Perbedaan justru dipahami sebagai ruang diskusi. Selama argumentasinya jelas dan dilakukan dalam berdasarkan etika, keberagaman dari perbedaan pandangan tetap dihargai.

Pendekatan seperti inilah membuat wajah Islam terasa lebih dewasa.

Wawasan Keterbukaan

Hasil ijtihad pada dasarnya adalah produk pemikiran manusia. Artinya, ia tidak bersifat absolut. Muhammadiyah menyadari bahwa kondisi sosial terus berubah. Pengetahuan juga berkembang.

Oleh karena itu, keputusan tarjih tetap terbuka terhadap kritik dan evaluasi. Jika ditemukan pendapat argumentasi yang lebih kuat atau konteks baru yang menuntut penyesuaian, koreksi tersebut dapatlah dilakukan.

Ijtihad, dalam hal ini, dipahami sebagai proses yang hidup.

Tidak Berafiliasi pada Mazhab Tertentu

Muhammadiyah tidak mengikatkan diri secara eksklusif pada satu mazhab tertentu.

Meski begitu, hal ini bukan berarti menolak pandangan ulama klasik. Pendapat dari berbagai mazhab tetap dipelajari dan dijadikan bahan pertimbangan.

Yang menjadi fokus bukan siapa yang berpendapat, tetapi seberapa kuat argumentasinya dan apakah relevan dengan persoalan yang sedang dihadapi. Pendekatan seperti ini memberi ruang gerak yang lebih fleksibel.

Sumber Hukum dalam Manhaj Tarjih Muhammadiyah

Dalam struktur pemikirannya, Muhammadiyah tetap menempatkan Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai sumber utama. Namun, ada istilah yang cukup khas, yaitu As-Sunnah al-Maqbulah.

Istilah ini digunakan untuk menegaskan bahwa hadis yang dapat dijadikan dasar hukum tidak terbatas pada satu hadis shahih saja, tetapi juga terdapat hadis hasan yang diterima secara ilmiah.

Sementara hadis dhaif pada dasarnya tidak dijadikan landasan, kecuali memenuhi syarat tertentu dan tidak bertentangan dengan Al-Qur’an.

Unsplash" /> Sumber: Unsplash

Pendekatan Bayani, Burhani, dan Irfani dalam Manhaj Tarjih Muhammadiyah

Salah satu kekuatan metode tarjih Muhammadiyah terletak pada penggunaan tiga pendekatan yang saling melengkapi, Diantaranya adalah :

Pendekatan Bayani

Bayani berfokus pada teks. Al-Qur’an dan As-Sunnah menjadi dasar utama dalam memahami hukum, khususnya dalam persoalan ibadah mahdhah seperti salat, puasa, dan zakat.

Karena ibadah bersifat ritual, landasan dalil menjadi sangat penting.

Pendekatan Burhani

Berbeda dengan bayani, pendekatan burhani memberi ruang pada akal, logika, dan ilmu pengetahuan. Pendekatan ini sangat relevan untuk merespons isu kontemporer, mulai dari ekonomi digital hingga kesehatan.

Salah satu contohnya terlihat pada penggunaan metode hisab dan ilmu falak dalam menentukan awal bulan hijriah. Ini menunjukkan bahwa agama dan sains tidak harus dipertentangkan.

Pendekatan Irfani

Selain teks dan rasio, Muhammadiyah juga mempertimbangkan aspek spiritual melalui pendekatan irfani.

Pendekatan ini menekankan kebersihan hati, kedalaman nurani, dan sensitivitas kemanusiaan.

Tujuannya sederhana, agar keputusan hukum tidak hanya benar secara logika, tetapi juga mengandung hikmah yang dapat dipetik.

Hierarki Norma dalam Manhaj Tarjih Muhammadiyah

Muhammadiyah tidak langsung menetapkan sebuah persoalan ke dalam kategori halal atau haram. Ada struktur norma yang digunakan.

Pertama, prinsip dasar seperti tauhid, keadilan, persamaan, dan kemaslahatan.

Kedua, asas umum yang menjadi turunan dari prinsip dasar tersebut.

Ketiga, norma konkret yang digunakan untuk menjawab persoalan hukum secara praktis.

Struktur ini membuat keputusan hukum tetap kokoh, tetapi tidak kaku.

Fleksibilitas Hukum dalam Manhaj Tarjih Muhammadiyah

Salah satu hal yang cukup menarik adalah pengakuan bahwa hukum dapat berubah sesuai kondisi. Tentu saja, perubahan ini tidak dilakukan sembarangan.

Ada syarat yang harus dipenuhi, seperti adanya maslahat yang nyata, berada di luar ranah ibadah mahdhah, serta tidak bertentangan dengan dalil qath’i.

Contoh yang sering dibahas adalah isu kepemimpinan perempuan.

Melalui analisis terhadap prinsip keadilan dan kemaslahatan, Muhammadiyah membuka ruang bagi perempuan untuk memimpin di ranah publik. Ini menunjukkan bahwa ijtihad tidak berhenti pada pembacaan literal semata.

Unsplash" /> Sumber: Unsplash

Mengapa Manhaj Tarjih Muhammadiyah Relevan Saat Ini

Pada dasarnya, sistem tarjih Muhammadiyah berusaha menjembatani dua hal: teks wahyu yang bersifat tetap dan realitas manusia yang terus berubah.

Di tengah perubahan yang berlangsung cepat, model ijtihad seperti ini terasa semakin relevan.

Islam tidak hadir untuk membekukan kehidupan. Sebaliknya, ia memberi arah moral agar perubahan tetap berjalan dalam koridor nilai.

Di sinilah kekuatan Muhammadiyah terlihat. Perubahan zaman tidak dianggap sebagai ancaman, melainkan tantangan yang perlu dijawab dengan pemikiran yang matang dan terbuka.

Referensi

  • Manhaj Tarjih Muhammadiyah
  • Suara Muhammadiyah: Memahami Ketarjihan
  • Himpunan Putusan Tarjih Online

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |