
Oleh : Yusuf Wibisono, Direktur Next Policy
REPUBLIKA.CO.ID, Di tengah hiruk pikuk mudik Lebaran 2026, terselip sebuah fakta tersembunyi yang mengkhawatirkan: jumlah pemudik secara konsisten terus menurun dalam tiga tahun terakhir. Jumlah pemudik tahun 2026 ini hanya 147,6 juta orang, turun hingga 7,0 juta orang dari tahun 2025 yang mencapai 154,6 juta orang. Jumlah pemudik tahun 2025 sendiri turun 7,6 juta orang dari tahun 2024 yang sebesar 162,2 juta orang.
Dengan demikian, antara 2024-2026 jumlah pemudik turun hingga 14,6 juta orang.
Turunnya jumlah pemudik adalah anomali. Di Indonesia, mudik adalah fenomena sosial terbesar yang telah menjadi ritual spiritual. Setiap tahun, di momentum hari raya Idul Fitri, ratusan juta orang pulang dari tanah rantau ke kampung halaman. Melalui mudik, kaum perantau menjaga nilai-nilai kekeluargaan, solidaritas, dan harmoni sosial dengan kerabat di kampung halaman.
Dahaga sosial kaum perantau bertemu dengan kesakralan Idul Fitri membuat mudik tidak hanya menjaga ikatan persaudaraan, namun bahkan telah dipandang sebagai bukti bakti kaum perantau terutama kepada orang tua di kampung halaman. Mudik juga berperan penting menjaga nilai-nilai kultural kaum perantau dengan daerah asal-nya.
Karena itu, bagi masyarakat Indonesia, mudik tidak hanya ritual sosial namun juga sekaligus ritual spiritual yang harus dilakukan dalam kondisi apapun. Hanya kondisi luar biasa yang akan membuat masyarakat tidak melakukan mudik, seperti pandemi atau kejatuhan ekonomi. Di masa pandemi, adopsi pembatasan sosial skala besar telah membuat mudik dilarang, hanya 1,5 juta orang pada 2021. Seiring berakhirnya pandemi dan pelonggaran restriksi mobilitas penduduk, jumlah pemudik melambung menjadi 85,5 juta orang pada 2022. Seiring pemulihan ekonomi pasca pandemi, jumlah pemudik melonjak menjadi 123, juta orang pada 2023 dan puncaknya 162,2 juta orang pada 2024.
Maka ketika antara 2024-2026 jumlah pemudik justru turun hingga belasan juta orang, hal ini mengindikasikan adanya kejatuhan pendapatan dan daya beli yang sangat signifikan yang dialami oleh banyak kalangan masyarakat, terutama kelas menengah dan bawah. Selain pandemi, hanya kejatuhan daya beli yang luar biasa yang membuat belasan juta orang memutuskan untuk tidak melakukan mudik. Hal ini dikarenakan mudik membutuhkan sumber daya ekonomi yang tidak kecil terutama untuk transportasi dan akomodasi, hingga remitansi yang dibawa pemudik ke kampung halaman.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

4 hours ago
2















































