Suntik Botox Bikin Hubungan dengan Pasangan jadi Renggang, Kok Bisa?

3 hours ago 1

CANTIKA.COMJakarta - Selama bertahun-tahun, botox menjadi salah satu prosedur estetika yang paling populer di dunia. Banyak perempuan maupun laki-laki memilih suntikan ini untuk mengurangi garis halus dan kerutan, sehingga wajah tampak lebih muda dan segar.

Namun di balik manfaat kosmetiknya, sejumlah penelitian menemukan fakta yang cukup mengejutkan: Botox mungkin tidak hanya memengaruhi ekspresi wajah, tetapi juga cara seseorang memahami perasaan orang lain. Bahkan, beberapa peneliti menilai efek tersebut berpotensi berdampak pada kualitas hubungan romantis.

Salah satu penelitian yang dilakukan oleh profesor David T. Neal dan Tanya L. Chartrand pada 2011 mengungkap bahwa orang yang menerima suntikan Botox mengalami penurunan kemampuan untuk mengenali dan meniru ekspresi emosional orang lain.

Fenomena ini berkaitan dengan konsep yang dikenal sebagai embodied cognition atau kognisi yang terwujud. Dalam kehidupan sehari-hari, manusia secara alami meniru ekspresi lawan bicaranya tanpa disadari. Saat melihat seseorang tersenyum, otot wajah kita ikut bergerak membentuk senyum tipis. Ketika melihat seseorang sedih, wajah kita cenderung menunjukkan ekspresi serupa.

Proses meniru ekspresi tersebut ternyata bukan sekadar kebiasaan sosial. Sinyal yang dikirimkan oleh otot wajah ke otak membantu seseorang memahami dan merasakan emosi orang lain. Dengan kata lain, ekspresi wajah berperan penting dalam membangun empati.

Masalahnya, Botox bekerja dengan cara melumpuhkan sementara otot-otot tertentu pada wajah. Akibatnya, kemampuan untuk membentuk ekspresi menjadi lebih terbatas.

Mengapa Empati Penting dalam Hubungan?

Dalam hubungan romantis, empati merupakan salah satu fondasi utama yang membantu pasangan saling memahami kebutuhan, perasaan, dan perspektif masing-masing.

Ketika pasangan merasa didengarkan dan dipahami, konflik cenderung lebih mudah diselesaikan. Sebaliknya, kesulitan memahami emosi pasangan dapat memicu kesalahpahaman, komunikasi yang kurang efektif, hingga ketegangan dalam hubungan.

Penelitian sebelumnya tentang pernikahan juga menunjukkan bahwa pasangan yang memiliki hubungan harmonis sering kali memperlihatkan pola ekspresi wajah yang mirip satu sama lain. Seiring waktu, mereka bahkan dapat terlihat semakin menyerupai pasangan mereka karena sering berbagi respons emosional yang sama.

Temuan tersebut membuat para peneliti bertanya-tanya: apakah kemampuan untuk saling meniru ekspresi wajah menjadi salah satu faktor yang membantu pasangan mempertahankan kedekatan emosional?

Jika iya, bagaimana dampaknya ketika salah satu pihak memiliki kemampuan ekspresi wajah yang lebih terbatas akibat Botox?

Untuk menguji hipotesis tersebut, Neal dan Chartrand membandingkan dua kelompok perempuan. Kelompok pertama menerima suntikan Botox, sementara kelompok kedua menggunakan Restylane, filler yang tidak memengaruhi pergerakan otot wajah. Para peserta kemudian diminta mengidentifikasi emosi hanya berdasarkan foto area mata manusia.

Hasilnya cukup menarik. Perempuan yang menerima Botox terbukti lebih sering melakukan kesalahan dalam mengenali emosi dibandingkan kelompok yang menggunakan Restylane. Rata-rata, pengguna Botox melakukan dua kesalahan lebih banyak dari total 36 percobaan.

Meskipun perbedaannya tampak kecil, hasil tersebut menunjukkan adanya perubahan pada kemampuan seseorang dalam menangkap sinyal emosional yang halus.

Lebih dari satu dekade setelah penelitian pertama dipublikasikan, sejumlah studi lain masih menemukan pola serupa. Penelitian pada 2016 kembali menunjukkan bahwa pembatasan gerakan otot wajah akibat Botox dapat memengaruhi cara seseorang memproses informasi emosional.

Para peneliti menjelaskan bahwa temuan ini penting untuk diketahui oleh masyarakat, terutama mereka yang mempertimbangkan prosedur estetika berbasis injeksi.

"Kami ingin memahami konsekuensi yang mungkin muncul sehingga orang-orang dapat memperoleh informasi yang cukup sebelum menjalani perawatan ini," ujar salah satu peneliti yang terlibat dalam studi tersebut.

Dukungan terbaru datang dari penelitian pada 2023 yang menggunakan pemindaian otak fMRI sebelum dan sesudah peserta menerima suntikan Botox.

Hasil pemindaian menunjukkan adanya perubahan pada aktivitas otak yang berkaitan dengan pengolahan emosi. Para peneliti menemukan bahwa gangguan komunikasi antara otot wajah dan otak membuat peserta mengalami kesulitan yang lebih besar dalam menginterpretasikan ekspresi emosional orang lain.

Haruskah Pengguna Botox Khawatir?

Meski temuan-temuan tersebut menarik, para ahli menekankan bahwa hasil penelitian ini tidak berarti Botox secara otomatis merusak hubungan atau membuat seseorang kehilangan kemampuan berempati.

Empati merupakan kemampuan yang kompleks dan dipengaruhi banyak faktor, mulai dari pengalaman hidup, kepribadian, kecerdasan emosional, hingga kualitas komunikasi dalam hubungan.

Namun, penelitian ini menunjukkan bahwa ekspresi wajah memiliki peran yang jauh lebih penting daripada yang selama ini disadari. Wajah bukan hanya alat untuk menunjukkan perasaan kepada orang lain, tetapi juga membantu otak memahami emosi yang sedang dirasakan oleh orang-orang di sekitar kita.

Dengan kata lain, ketika seseorang memilih menjalani prosedur estetika seperti Botox, yang terpengaruh mungkin bukan hanya tampilan wajah, tetapi juga sebagian kecil dari mekanisme sosial yang membantu manusia terhubung satu sama lain.

YOUR TANGO 

Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |