REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ekspansi mobil China ke Eropa memasuki babak baru. Produsen kendaraan listrik asal China tidak lagi hanya mengandalkan ekspor dari negaranya, tetapi mulai mencari jalan untuk membangun basis produksi langsung di Benua Biru. Salah satu strategi yang paling menonjol datang dari BYD, raksasa kendaraan listrik China yang kini menjadi salah satu pesaing terkuat produsen otomotif Eropa.
Sebagaimana dilaporkan sejumlah media Barat pada Rabu, 10 Juni 2026, Wakil Presiden Eksekutif BYD, Stella Li, mengatakan perusahaan lebih memilih mengambil alih pabrik yang sudah ada untuk fasilitas kendaraan listrik keduanya di Eropa. “Kami lebih memilih mengambil alih pabrik yang sudah ada,” kata Li.
Pilihan itu menunjukkan strategi BYD yang pragmatis sekaligus agresif. Dengan mengambil alih fasilitas produksi yang sudah tersedia, perusahaan dapat mempercepat ekspansi, memangkas waktu pembangunan pabrik baru, serta memanfaatkan infrastruktur industri yang telah ada di Eropa. Langkah tersebut juga berpotensi membantu BYD mendekatkan produksi ke konsumen Eropa.
Strategi ini menjadi semakin penting di tengah meningkatnya tekanan tarif terhadap mobil listrik buatan China. Dengan memproduksi kendaraan langsung di Eropa, BYD dapat mengurangi dampak hambatan perdagangan, menyesuaikan diri dengan aturan lokal, dan memperkuat citra sebagai produsen yang hadir secara langsung di pasar Eropa, bukan sekadar eksportir dari China.
Bagi produsen otomotif Eropa, langkah BYD ini menjadi sinyal serius. Ketika sebagian pabrikan lama menghadapi tekanan biaya, restrukturisasi, dan kelebihan kapasitas produksi, produsen China justru melihat fasilitas industri yang sudah ada sebagai peluang untuk memperluas pengaruh. Artinya, persaingan tidak lagi hanya terjadi di ruang pamer kendaraan, tetapi juga di peta produksi dan rantai pasok Eropa.
Ekspansi BYD memperlihatkan bahwa gempuran mobil China ke Eropa tidak hanya berbentuk kendaraan murah atau teknologi baterai. China kini bergerak masuk ke jantung industri otomotif Eropa dengan strategi produksi lokal. Jika tren ini berlanjut, produsen Eropa bukan hanya menghadapi persaingan impor, tetapi juga kompetisi langsung dari pabrikan China yang beroperasi di tanah mereka sendiri.
Tarif Uni Eropa Gagal Membendung Mobil China?
Uni Eropa berupaya menahan laju mobil listrik China melalui tarif tambahan terhadap kendaraan listrik buatan China. Kebijakan itu dimaksudkan untuk melindungi produsen otomotif Eropa dari persaingan harga yang dianggap tidak seimbang. Namun, strategi tersebut tidak otomatis menghentikan ekspansi produsen China ke Benua Biru.
BYD justru mulai mencari jalan baru: memproduksi kendaraan langsung di Eropa. Dengan mengambil alih atau membangun fasilitas produksi di kawasan tersebut, produsen China dapat mengurangi tekanan tarif, memangkas biaya logistik, dan lebih mudah menyesuaikan diri dengan aturan lokal Uni Eropa.
Wakil Presiden Eksekutif BYD, Stella Li, mengatakan perusahaan lebih memilih mengambil alih pabrik yang sudah ada untuk fasilitas kendaraan listrik keduanya di Eropa. “Kami lebih memilih mengambil alih pabrik yang sudah ada,” kata Li.
sumber : Xinhua

2 hours ago
2

















































