REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Lembaga riset NEXT Indonesia Center menyebut arah penyaluran kredit perbankan nasional mulai bergeser ke sektor produktif, setelah sebelumnya ekspansi kredit lebih banyak ditopang oleh pembiayaan konsumsi.
Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center Christiantoko mengatakan perubahan arah penyaluran kredit tersebut menunjukkan industri perbankan semakin selektif terhadap sektor yang memiliki prospek pertumbuhan lebih baik dengan risiko yang tetap terkendali.
"Ini sinyal positif. Saat ini bank tidak hanya melihat besarnya kebutuhan pembiayaan, tetapi juga mempertimbangkan prospek usaha, kualitas risiko, dan potensi sektor tersebut dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Pergeseran ini menunjukkan fungsi intermediasi perbankan mulai lebih banyak mengalir ke sektor-sektor yang menciptakan nilai tambah," ujar Christiantoko dalam keterangannya di Jakarta, Ahad (28/6/2026).
Laporan terbaru NEXT Indonesia Center bertajuk Sektor Usaha Favorit Perbankan menunjukkan bahwa outstanding kredit bank umum terus meningkat dalam tiga tahun terakhir.
Per April 2026, total kredit bank umum mencapai Rp 8.755 triliun. Adapun kredit yang mengalir ke sektor ekonomi mencapai Rp 6.454 triliun, sedangkan kredit bukan sektor ekonomi (konsumsi rumah tangga) mencapai Rp 2.301 triliun.
Perubahan paling mencolok terlihat pada komposisi penggunaan kredit. Sepanjang periode 2024–2026, kredit investasi menjadi motor utama pertumbuhan.
Per April 2026, kredit investasi tumbuh 19,48 persen secara tahunan (year on year/yoy), jauh melampaui pertumbuhan kredit modal kerja sebesar 6,04 persen yoy maupun kredit konsumsi sebesar 6,13 persen yoy. "Kondisi ini menunjukkan semakin besarnya pembiayaan yang diarahkan untuk pembangunan aset produktif, ekspansi usaha, dan investasi jangka panjang," katanya.
Berdasarkan analisis NEXT Indonesia Center, terdapat lima sektor usaha yang saat ini menjadi tujuan utama ekspansi kredit perbankan, yaitu konstruksi, pengadaan listrik dan gas, aktivitas profesional dan perusahaan, real estat, serta aktivitas kesehatan manusia dan aktivitas sosial.
Menurut Christiantoko, dominasi kredit investasi menjadi indikator penting bahwa dunia usaha mulai kembali melakukan ekspansi. "Kredit investasi biasanya mencerminkan optimisme pelaku usaha terhadap prospek bisnis beberapa tahun ke depan. Ketika jenis kredit ini tumbuh paling cepat, berarti ada keyakinan bahwa aktivitas ekonomi masih memiliki ruang untuk berkembang," katanya.
Di sisi lain, kualitas kredit perbankan secara umum masih terjaga. Hal ini tercermin dari rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) gross yang berada di level 2,17 persen pada April 2026.
Namun, jika dilihat berdasarkan jenis penggunaan kredit, profil risikonya mulai menunjukkan perbedaan. Kredit investasi menjadi segmen dengan kualitas kredit paling baik dengan NPL sebesar 1,34 persen pada April 2026. Sebaliknya, kredit modal kerja tetap menjadi segmen dengan risiko paling besar dengan NPL mencapai 2,64 persen pada April 2026.
sumber : Antara

2 hours ago
3

















































