REPUBLIKA.CO.ID, BEKASI - Suasana di kediaman almarhumah Gita Septia Wardani, Kamis (30/4/2026) sore itu terasa begitu mengharukan. Di tengah duka yang masih menyelimuti, hadir rombongan dari Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) yang dipimpin oleh Dwi Astuti, Kepala Biro Administrasi Keuangan dan Umum. Kedatangan mereka untuk memberikan penghormatan terakhir bagi salah satu mahasiswi terbaik mereka.
Gita, mahasiswi semester enam dari Program Studi Ilmu Komunikasi UBSI kampus Pemuda, Rawamangun, Jakarta Timur dikenal memiliki mimpi besar menjadi seorang reporter. Dia merupakan salah satu korban insiden kecelakaan pada Senin (27/4/2026) lalu di Stasiun Bekasi Timur, yang melibatkan KRL dan Kereta Api jarak jauh Argo Bromo Anggrek.
Cerita yang ditinggalkannya jauh lebih dalam dari sekadar berita kecelakaan.
"Yah, Jemputnya Santai Saja"
Pukul 10.30 WIB, Senin (27/4/2026) pagi itu masih terekam jelas di ingatan sang ayah. Seperti biasa, ia mengantar putri bungsunya itu untuk menimba ilmu.
Gita adalah sosok yang mandiri. Ia memilih kampus UBSI kampus Pemuda karena aksesnya yang mudah dijangkau dengan kereta dan JakLingko demi mengejar cita-citanya di dunia jurnalistik.
Malam harinya, sekitar pukul sembilan, sebuah pesan singkat masuk ke ponsel sang ayah. Gita mengabarkan kereta yang ditumpanginya tertahan di Stasiun Bekasi Timur karena menabrak sebuah mobil. "Yah, jemputnya santai saja," tulis Gita, kenang sang Ayah.
Itu adalah percakapan terakhir mereka yang terjadi lewat ponsel. Setelah itu, nada sambung telepon hanya berdering tanpa jawaban dari Gita, meninggalkan kecemasan yang perlahan membeku menjadi firasat buruk.
Pencarian di Bawah Guyuran Hujan Subuh-Subuh
Malam berganti dini hari, namun Gita tak kunjung pulang. Keluarga mulai menyisir stasiun hingga terminal. Di bawah guyuran hujan lebat saat subuh, sang ayah mendatangi satu per satu rumah sakit yang menjadi rujukan korban kecelakaan, mulai dari RS Plumbon, Siloam, Mitra Keluarga, hingga RSUD Kota Bekasi. Namun, nama Gita tak ada dalam daftar pasien.
Titik terang yang menyakitkan muncul ketika sebuah tas dengan tali terputus ditemukan di pos informasi. Di dalamnya terdapat KTP dan barang-barang milik Gita. Jejak itu membawa sang ayah ke RS Polri Kramat Jati. Di sana, di antara sepuluh jenazah tanpa identitas, ia harus mengenali putrinya melalui detail-detail kecil yang hanya diketahui oleh orang tua, susunan gigi dan bekas gigitan nyamuk di kaki, ciri fisik yang menjadi bukti bisu perjalanan hidup Gita.
"Gita nomor tujuh," kenang sang ayah dengan suara rendah.
Wajah Bersih Seperti Tersenyum
Meski kecelakaan kereta seringkali menyisakan pemandangan yang menyayat hati, ada keajaiban kecil yang dirasakan keluarga saat peti jenazah dibuka. Sang ibu bercerita bahwa wajah Gita terlihat begitu bersih, seolah ia sedang tertidur pulas dengan ulasan senyum di bibirnya.
Firasat itu mungkin sudah ada. Dua bulan terakhir, Gita berubah menjadi sosok yang lebih salehah. Ia lebih rajin berpuasa dan tak pernah meninggalkan salat. Teman-teman kampusnya pun mengenal Gita sebagai sosok yang friendly dan gemar bercanda, kontras dengan sifat pendiamnya saat berada di rumah.
Penghormatan Terakhir dari Kampus
Sebagai bentuk apresiasi terhadap perjuangan Gita selama enam semester kuliah, pihak UBSI mengambil langkah yang tidak biasa. Dwi Astuti menjelaskan seluruh biaya kuliah yang telah dibayarkan Gita sejak semester satu hingga semester enam, termasuk Biaya SPP, dikembalikan sepenuhnya kepada pihak keluarga.
"Kami ingin meringankan beban keluarga. Semua berkas kami bantu urus agar pihak keluarga tidak perlu lagi repot datang ke kampus," kata Dwi sebagai perwakilan dari yayasan Bina Sarana Informatika (BSI).
Gita memang tidak sempat menggenggam mikrofon di depan kamera sebagai seorang reporter hebat seperti yang ia impikan. Namun, lewat kisahnya, ia telah "melaporkan" sebuah pesan yang jauh lebih kuat: tentang bakti kepada orang tua, ketekunan mengejar mimpi, dan senyum ketulusan yang tak luntur bahkan di titik akhir perjalanannya.
Kini, Gita telah beristirahat dengan tenang di Wana Jaya, meninggalkan kenangan manis yang akan selalu tersimpan di hati keluarga dan almamaternya. Selamat jalan, Gita. Tugasmu telah usai, dan namamu akan selalu dikenang sebagai sang calon reporter yang berpulang dengan senyuman.

4 hours ago
2















































