Rupiah Tertekan Nyaris Tembus Rp 18.000, Imbas Terkoreksinya PMI Manufaktur Indonesia pada Juni 2026

2 weeks ago 41

Warga membeli uang dolar Amerika Serikat (AS) di Kantor Valuta Inti Prima, Jakarta, Jumat (5/6/2026). Pada perdagangan Jumat (5/6/2026), rupiah dibuka melemah 0,08 persen ke level Rp 18.064 per dolar AS. Pada sekitar pukul 12.55 WIB, mata uang Garuda terpantau bergerak fluktuatif di posisi Rp 18.035 per dolar AS. Namun pada penutupan perdagangan hari ini terjadi perubahan. Nilai tukar (kurs) rupiah menguat 13 poin atau 0,07 persen. Posisi rupiah naik menjadi Rp18.036 per dolar AS dibanding kurs pada penutupan sebelumnya Rp18.049 per dolar AS.

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS tertekan pada Kamis (2/7/2026), hingga nyaris menyentuh level Rp 18.000 per dolar AS. Pelemahan rupiah terjadi seiring dengan Data Purchasing Manager’s Index (PMI) yang dirilis S&P Global yang menunjukkan PMI Indonesia terkoreksi ke level 46,9 pada Juni 2026. 

Mengutip Bloomberg, rupiah melemah 43 poin atau 0,24 persen menuju level Rp 17.995 per dolar AS pada penutupan perdagangan Kamis (2/7/2026). Rupiah diketahui sempat menembus level terendahnya di Rp 18.000-an per dolar AS pada awal Juni 2026.

“Data Purchasing Managers' Index (PMI) yang dirilis S&P Global menunjukkan PMI Indonesia berada di 46,9 pada Juni 2026. Ini adalah tingkat penurunan yang paling kuat dalam setahun, pesanan baru yang masuk kembali menurun menyebabkan penurunan volume output terbesar sejak bulan April 2025,” kata Pengamat Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya, Kamis (2/7/2026). 

S&P mengungkapkan PMI Indonesia tersebut menunjukkan penurunan lebih lanjut pada kesehatan sektor produksi barang. Headline menunjukkan penurunan solid pada kondisi operasional pabrik, merupakan salah satu yang paling besar dalam setahun. 

“Penyebab utama penurunan pada Juni 2026 adalah penurunan permintaan atas barang manufaktur Indonesia. Pesanan baru turun untuk pertama kali dalam tiga bulan dan pada laju tercepat dalam setahun,” terangnya. 

Secara umum, Ibrahim mengatakan, kepercayaan pelaku pasar terhadap Indonesia menghadapi ujian cukup berat, setelah munculnya sejumlah sentiment negatif memasuki kuartal II 2026. Mulai dari kasus korupsi tingkat tinggi, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal pemerintah setelah neraca perdagangan indonesia bulan Mei defisit, inflasi melonjak, hingga penundaan pengumuman tentang pasar modal Indonesia oleh penyedia indeks global MSCI.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |