Rupiah Akhir Pekan Anjlok 50 Poin ke Level 17.188

2 hours ago 1

NILAI tukar rupiah mencapai rekor terlemah pada penutupan perdagangan akhir pekan, Jumat, 17 April 2026. Pada perdagangan Jumat rupiah melemah ke level 17.188 per dolar Amerika Serikat atau merosot 50 poin.

Kurs dolar terus menguat terhadap rupiah sejak awal pekan ini. Data Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia menunjukkan mata uang rupiah pada 13 April 2026 tercatat 17.122 per dolar AS dan terus melemah sampai ke level 17.189 pada 17 April 2026.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

“Rupiah sepekan ini melemah berada di level 17.150-17.300 per dolar AS,” ucap pengamat mata uang dan komoditas sekaligus Direktur PT Traze Andalan Futures Ibrahim Assuabi lewat keterangan tertulis, Jumat, 17 April 2026.

Menurut Ibrahim, penguatan dolar AS terhadap sejumlah mata uang, termasuk rupiah, terjadi di tengah optimisme bahwa konflik Timur Tengah mungkin akan segera berakhir. Di tengah gencatan senjata 10 hari antara Lebanon dan Israel, Presiden AS Donald Trump mengisyaratkan kemungkinan pertemuan antara AS dan Iran dalam waktu dekat.  

Trump menyatakan adanya tawaran dari Teheran untuk menunda pengembangan senjata nuklir. Pernyataan itu disampaikan dalam upaya mengakhiri konflik setelah Iran menutup Selat Hormuz selama tujuh minggu dan mengganggu 20 persen pasokan minyak global.

Operasi militer Israel di Lebanon menjadi kendala utama dalam kesepakatan damai yang direncanakan sejak akhir Februari. Akibatnya, negosiator AS dan Iran kini menurunkan ekspektasi dari kesepakatan komperhensif dan fokus pada memorandum sementara untuk mencegah eskalasi konflik kembali terjadi.

Dari sisi domestik, pelemahan mata uang yang konsisten sejak 1 April membuat pengusaha khawatir. Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani menyatakan dampak langsung yang akan dialami dunia usaha adalah inflasi akibat kenaikan biaya produksi atau cost push inflation. Selain itu, perusahaan semakin sulit menciptakan kebutuhan arus kas atau cash flow untuk mempertahankan volume produksi yang ada. 

Dampak negatif berikutnya muncul dalam bentuk penipisan keuntungan atau profit margin agar beban cost push inflation tak terlalu menganggu harga pasar. Risiko ini juga bisa dirasakan masyarakat sebagai konsumen maupun pekerja.

"Semua memiliki dampak yang jelas kepada pasar tenaga kerja, yakni job freeze, job tightening atau bahkan layoff, tergantung seberapa lama kondisi ini terjadi dan bisa ditahan oleh perusahaan," ucap Shinta.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |