PUSAT Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi mengembalikan radius zona rekomendasi di sekitar kawah puncak Gunung Slamet dari 3 menjadi 2 kilometer. Namun, status aktivitas gunung tertinggi di Jawa Tengah tersebut tak berubah, masih berada pada Level II (Waspada) hingga hari ini, Rabu 3 Juni 2026.
Pelaksana tugas Kepala Badan Geologi, Lana Saria, mengatakan keputusan tersebut diambil setelah hasil pemantauan visual dan instrumental menunjukkan aktivitas vulkanik yang masih relatif tinggi, tetapi tidak mengalami peningkatan signifikan. Kondisi itu dibandingkan dengan saat radius rekomendasi diperluas pada 4 April lalu.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
"Pengamatan secara intensif terus dilakukan untuk mengantisipasi perubahan aktivitas dan potensi bahaya yang dapat terjadi," kata Lana dalam keterangannya, Rabu, 3 Juni 2026.
Gunung Slamet merupakan gunung api stratovolcano berbentuk kerucut dengan ketinggian sekitar 3.432 meter di atas permukaan laut (mdpl). Secara administratif, gunung ini berada di wilayah Kabupaten Pemalang, Banyumas, Brebes, Tegal, dan Purbalingga.
Sebelumnya, radius rekomendasi dinaikkan dari dua menjadi tiga kilometer berdasarkan hasil analisis citra termal kawah yang menunjukkan peningkatan suhu. Sebaran anomali panas di sekitar kawah juga meluas. "Kenaikan suhu tersebut mengindikasikan peningkatan aktivitas termal di sekitar kawah," kata Lana. (Baca: Waspada Kemungkinan Gunung Slamet Akan Meletus Freatik)
Sebagai pembanding, anomali panas masih terlokalisasi di bagian pusat kawah pada 2024. Namun pada tahun ini sebarannya berkembang lebih luas dan membentuk pola melingkar di sekitar dinding kawah. Lana menjelaskan, kondisi itu menunjukkan berkembangnya sistem rekahan dan meningkatnya intensitas proses pelepasan gas vulkanik (degassing) di kawasan kawah.
Selama periode 4 April hingga 3 Juni 2026 tidak teramati adanya peningkatan aktivitas termal lebih lanjut. Hasil pengukuran suhu menggunakan drone termal menunjukkan suhu solfatara kawah berfluktuasi antara 407,2 hingga 478,7 derajat Celsius.
Hasil pengukuran tersebut mengindikasikan aktivitas termal masih relatif tinggi, namun cenderung stabil. Tidak ada eskalasi dibandingkan kondisi yang menjadi dasar peningkatan jarak rekomendasi pada 4 April 2026.
Selain parameter termal, sejumlah indikator pemantauan lainnya juga menunjukkan aktivitas yang masih berfluktuasi tetapi secara umum malah cenderung menurun. Meskipun aktivitas Gunung Slamet belum kembali ke tingkat normal atau kondisi dasar (background).
Lana mengimbau masyarakat, pendaki, maupun wisatawan untuk mematuhi radius rekomendasi yang telah ditetapkan. Saat ini, dia menambahkan, potensi bahaya yang masih perlu diwaspadai meliputi erupsi yang dapat menghasilkan abu vulkanik, hujan lumpur, serta lontaran material pijar yang berpotensi menjangkau area dalam radius 2 kilometer dari puncak.
Selain itu, terdapat potensi embusan gas vulkanik berkonsentrasi tinggi yang sebarannya terbatas di sekitar kawah. PVMBG juga mengingatkan bahwa hujan abu dapat terjadi di sekitar kawah maupun di wilayah lain yang berada pada jalur arah dan kecepatan angin.


















































