PM Libanon Upayakan Penarikan pasukan Israel

5 hours ago 3

PERDANA Menteri Libanon Nawaf Salam mengatakan dalam pidato yang disiarkan televisi pada Ahad bahwa ia sedang berupaya menghentikan perang Israel-Hizbullah. Pernyataan ini muncul meskipun PM Israel Benjamin Netanyahu menegaskan kepada pasukan yang menginvasi Libanon selatan bahwa pertempuran di sana masih jauh dari selesai.

“Kami akan terus berupaya untuk menghentikan perang ini, untuk memastikan penarikan Israel dari seluruh wilayah kami,” kata Salam dalam pidatonya menjelang peringatan dimulainya perang saudara Libanon pada 1975-1990 seperti dilansir Al Arabiya.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

“Kami terus berupaya untuk bernegosiasi guna menghentikan perang,” tambahnya, menjelang pembicaraan yang direncanakan pada Selasa 14 April 2026 di Washington antara pejabat Libanon, Israel, dan AS.

Salam merupakan politikus Muslim Sunni.

Pemerintahan Libanon diatur oleh sistem sektarian berdasarkan Pakta Nasional 1943 yang membagi kekuasaan utama: Presiden harus seorang Kristen Maronit, Perdana Menteri seorang Muslim Sunni, dan Ketua Parlemen seorang Muslim Syiah.

Sistem ini membagi kursi parlemen dan jabatan publik secara merata antara Kristen dan Muslim, bertujuan menjaga keseimbangan komunitas.

Mengomentari pembicaraan yang direncanakan untuk pekan depan, Netanyahu mengatakan pada Sabtu bahwa "kami menginginkan pelucutan senjata Hizbullah, dan kami menginginkan perjanjian perdamaian sejati yang akan berlangsung selama beberapa generasi."

Agresi Israel

Kementerian Kesehatan mengatakan setidaknya enam orang tewas pada Ahad di selatan, termasuk seorang paramedis Palang Merah, setelah “musuh Israel secara langsung menargetkan tim ambulans Palang Merah Libanon.”

Sementara pasukan penjaga perdamaian PBB UNIFIL mengatakan pada Ahad sebuah tank Israel menabrak kendaraan mereka dalam dua kesempatan, “dalam satu kasus menyebabkan kerusakan yang signifikan.”

Israel mengatakan gencatan senjata sementara yang rapuh dalam perang Asia Barat (Timur Tengah) yang lebih luas tidak berlaku untuk pertempurannya dengan Hizbollah di Libanon. Israel justru terus melanjutkan serangannya terhadap negara itu, terutama di wilayah selatan yang diklaim sebagai wilayahnya.

Pada Rabu, ratusan serangan udara Israel selama 10 menit menewaskan lebih dari 300 orang. Meski Israel mengklaim menargetkan Hizbullah, saksi mata di lapangan menyatakan target serangan merupakan wilayah sipil dengan korban tewas adalah warga sipil Libanon.

Libanon terseret ke dalam konflik Asia Barat pada 2 Maret ketika Hizbullah menembakkan roket ke Israel setelah serangan AS-Israel menewaskan pemimpin tertinggi Iran. Israel telah merespons dengan serangan besar-besaran dan invasi darat. Namun sebelum 2 Maret, Israel telah melakukan serangan udara dan darat setiap hari meski terhdap kesepakatan gencatan senjata pada November 2024.

‘Akuntabilitas’

Netanyahu mengklaim pada Ahad bahwa pasukan Israel telah menghilangkan ancaman invasi oleh militan Hizbullah selama kunjungan ke pasukan di Lebanon selatan. “Masih banyak yang harus dilakukan, dan kami sedang melakukannya.”

“Perang berlanjut, termasuk di dalam zona keamanan di Libanon,” kata Netanyahu dalam sebuah video yang dirilis oleh kantornya, yang menunjukkan dirinya mengenakan rompi anti peluru dan dikelilingi oleh tentara bertopeng.

Para pejabat Israel berulang kali mengatakan bahwa Israel ingin membangun "zona keamanan" di Lebanon selatan untuk membantu mencegah serangan Hizbullah.

Kantor Berita Nasional (NNA) milik pemerintah Lebanon melaporkan serangan Israel di lebih dari 30 lokasi di selatan pada Ahad, dengan serangan tambahan di daerah Bekaa Barat yang berdekatan.

Kementerian Kesehatan menaikkan jumlah korban tewas akibat perang menjadi 2.055 orang, termasuk 165 anak-anak dan setidaknya 87 petugas kesehatan, sejak 2 Maret.

Kementerian juga mengatakan serangan Israel di Qana menewaskan lima orang, termasuk tiga wanita, dan melukai 25 lainnya.

Seorang fotografer di kota selatan tersebut melihat kerusakan yang signifikan saat sebuah ekskavator bekerja untuk membersihkan puing-puing dan petugas pertolongan pertama membawa jenazah keluar dari bawah reruntuhan.

Kementerian Kesehatan berjanji untuk "menindaklanjuti tindakan hukum internasional untuk memastikan pertanggungjawaban atas kejahatan ini" terhadap petugas darurat setelah paramedis Palang Merah tewas dalam serangan terpisah, sehari setelah tiga petugas penyelamat lainnya tewas dalam serangan Israel.

Militer Israel berulang kali menuduh Hizbullah menggunakan ambulans untuk tujuan militer. Serangan terhadap fasilitas kesehatan, termasuk ambulans, adalah pelanggaran hukum internasional. Aksi serupa juga dilakukan Israel di Gaza.

‘Kewajiban Moral’

Di Bazuriyeh, Lebanon selatan, Hassan Berro, seorang petugas penyelamat dari asosiasi Pramuka Risala – yang berafiliasi dengan gerakan Amal yang bersekutu dengan Hizbullah – mengatakan: “Pusat darurat kami terkena serangan dan hancur total, beserta seluruh isinya, termasuk tempat tidur dan peralatan medis.”

Fotografer melihat jendela-jendela pecah dan puing-puing menutupi beberapa tempat tidur rumah sakit di gedung tersebut, di mana dinding dan langit-langit juga rusak.

Pada Ahad, tentara Israel juga menuduh Hizbullah menggunakan kompleks rumah sakit di Bint Jbeil, Lebanon selatan, “untuk tujuan militer.”

Hizbullah mengatakan telah melancarkan serangan terhadap target Israel di seberang perbatasan dan di dalam Lebanon, termasuk terhadap pasukan di Bint Jbeil, tempat NNA melaporkan pertempuran sengit.

Paus Leo XIV, yang mengunjungi Lebanon akhir tahun lalu, menyatakan kedekatannya dengan rakyat Lebanon pada Ahad. Ia mengatakan ada "kewajiban moral untuk melindungi penduduk sipil dari dampak mengerikan perang."

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |