Penuhi Gizi Anak di Tengah Keterbatasan, Ahli Sarankan Pilih Sumber Protein Terjangkau

2 hours ago 1

President of Indonesian Nutrition Association, ?Dr. dr. Luciana B. Sutanto, MS, SpGK(K) menyampaikan paparan dalam acara penyampaian hasil studi IHDC di Jakarta, Rabu (15/4/2026). IHDC, sebagai organisasi independen di bidang kesehatan komunitas, didukung Danone Indonesia meluncurkan publikasi hasil studi berbasis data lokal yang membahas keterkaitan antara stunting, anemia defisiensi besi, serta asupan gizi dengan fungsi working memory anak usia sekolah. Dari hasil studi IHDC ini semakin memperkuat pentingnya peran berbagai pihak dalam memastikan pemenuhan gizi anak sejak dini. Sebagai riset berbasis data lokal, temuan ini diharapkan dapat menjadi landasan dalam mendorong upaya penanganan masalah gizi anak yang lebih terarah dan berkelanjutan, mulai dari pendekatan preventif, edukasi gizi, hingga penguatan peran keluarga dan lingkungan sekolah dalam membentuk kebiasaan makan sehat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Protein dan zat besi menjadi dua zat gizi penting dalam menu keseharian keluarga, sebagai penunjang tumbuh kembang anak. Tapi bagaimana bila orang tua tidak selalu sanggup memenuhi kebutuhan protein anak secara optimal?

President of Indonesian Nutrition Association, Dr dr Luciana B Sutanto, MS, SpGK(K), menjelaskan pemenuhan gizi yang optimal memegang peranan penting dalam mendukung tumbuh kembang dan fungsi kognitif anak usia sekolah. “Dalam mendukung tumbuh kembang dan kemampuan belajar anak, penting untuk memastikan asupan gizi yang optimal dan seimbang setiap hari. Protein dan zat besi menjadi dua zat gizi penting karena berperan dalam pembentukan jaringan tubuh serta mendukung perkembangan otak, konsentrasi, dan daya ingat anak," katanya, dalam temu media yang digelar Indonesia Health Development Center (IHDC), Rabu (15/4/2026).

Protein dan zat besi saja namun tidak cukup. Dalam piring makan tetap perlu didukung asupan zat gizi lain, seperti karbohidrat, lemak, vitamin, dan mineral. Oleh karena itu, anak perlu mendapatkan pola makan bergizi seimbang dengan beragam sumber pangan.

"Bagaimana bila ada masalah keterbatasan ekonomi? Makanan memang harus dibeli tapi kalau sudah terbatas ekonominya pilih makanan yang lebih sesuai dengan kebutuhan," kata Dr Luciana.

Ia memberi contoh, karbohidratnya bisa dari nasi yang lebih murah dari kentang. Proteinnya bisa dari telur, yang lebih murah dari ayam atau daging. Sayurnya juga dapat memilih aneka sayuran lokal, begitu pula dengan buah. Sehingga harganya akan lebih ekonomis.

Pada keluarga dengan ekonomi lebih mapan, ia menyarankan ada asupan protein di setiap waktu makan. "Sarapan telur, makan siang ayam, makan malam ikan. Ini misalnya. Idealnya begitu. Sesuai dengan anjuran makan sehat 20 varian makan sehat dalam seminggu," katanya.

Studi IHDC menunjukkan sekitar satu dari lima anak (19,7 persen) mengalami anemia, sementara 22,1 persen mengalami kesulitan dalam working memory. Studi ini juga menemukan kadar hemoglobin yang lebih rendah berkaitan dengan performa working memory yang lebih rendah. Temuan ini menunjukkan anemia tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga dapat memengaruhi kemampuan anak dalam belajar. Anemia bisa terjadi akibat ketidakcukupan gizi, salah satunya protein yang kaya zat besi.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |