SETIAP anak memiliki cara unik untuk belajar. Ada yang sangat cepat memahami angka, namun ada juga yang lebih mudah menyerap informasi secara visual. Dalam beberapa kasus, perbedaan tersebut tidak sekadar soal preferensi belajar, tetapi berkaitan dengan cara kerja otak yang memang berbeda.
Kondisi ini dikenal sebagai neurodivergen, di mana individu memiliki cara kerja otak yang berbeda dari kebanyakan orang. Seperti dilansir dari Scientific American, kondisi tersebut bukan “kerusakan” atau penyakit. Tapi variasi alami dalam cara seseorang berpikir, belahar dan berinteraksi. Termasuk pada kondisi seperti ADHD, autisme hingga disleksia.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Riset dalam publikasi yang sama menyebutkan bahwa salah satu kunci utama agar mendukung perkembangan anak adalah dengan membantu mereka memahami cara kerja otaknya sendiri. Ketika anak mengetahui mengapa sulit untuk fokus atau sangat mahir di bidang tertentu, konsep diri yang terbangun akan lebih positif. Anak menjadi percaya diri dan mampu mengkomunikasikan kebutuhan mereka.
Baca juga: Menyiapkan Si Kecil Bersekolah
Gejala awal neurodivergen
Namun, sebelum sampai pada tahap memahami diri sendiri, orang tua memegang peran penting. Hal pertama yang harus dilakukan orang tua adalah memahami gejala awal neurodivergen. Gejala ini dapat dikenali melalui pengamatan sederhana di rumah.
Ries Sansani, lead coach sekaligus terapis okupasi, mengatakan gejala neurodivergen sering kali muncul dalam bentuk hambatan interaksi yang sangat spesifik, bukan sekadar keterlambatan bicara (speech delay).
"Salah satu tandanya adalah hambatan bicara dan susah fokus. Kontak mata tidak ada, dan keinginan interaksi anak tidak muncul bahkan ketika kita berikan challenge," kata Ries, dalam diskusi media,di Atelier of Minds, Jakarta, Jumat 10 April 2026.
Ia mencontohkan saat orang tua berinteraksi seperti menyapa atau membuat ekspresi lucu, anak tidak memberikan respons timbal balik secara alami. Tanda-tanda ini, dalam beberapa kasus, mulai terlihat sejak bayi, melalui respons terhadap stimulasi sosial di sekitarnya.
Selain itu, validasi dari tenaga profesional juga penting, agar orang tua tidak salah dalam memberikan stimulasi. Diagnosis yang tepat akan menentukan apakah anak memerlukan terapi tertentu atau penanganan khusus sebelum memasuki jenjang pendidikan formal.
Lingkungan Sekolah
Pertanyaan besar yang sering kali muncul apakah anak neurodivergen dapat bersekolah di sekolah umum. Ries mengatakan, berdasarkan pengalamannya, hal tersebut tetap memungkinkan. Terutama bagi anak dengan spektrum ringan (mild) yang memiliki kemampuan kognitif cukup baik. Namun, keberhasilan ini juga menuntut adanya modifikasi strategi di dalam kelas.
Salah satunya melalui kehadiran shadow teacher atau guru pendamping untuk membantu anak tetap fokus selama kegiatan belajar. Jika pendampingan belum memungkinkan, pengaturan lingkungan kelas yang sederhana seperti menempatkan posisi duduk anak di barisan depan atau lebih dekat dengan guru dapat mengurangi distraksi. Selain itu, pengaturan tata ruang kelas yang disesuaikan dengan kebutuhan sensorik anak akan membuat mereka merasa lebih aman dan tidak cepat mengalami kelelahan mental.
Sedangkan anak yang berada pada spektrum yang lebih sulit, Ries menyarankan agar orang tua tidak terpaku pada target akademik. "Dibandingkan mengejar target akademik yang mungkin tidak sesuai dengan kapasitas IQ-nya, orang tua bisa lari ke jalur profesional," ujarnya. .
Misalnya anak yang memiliki kelebihan luar biasa di satu area, seperti seni, dengan pendekatan yang tepat potensi tersebut dapat menjadi kekuatan utama. Fokus pada potensi anak bukan kekurangan, namun menjadi cara yang tepat untuk membangun resiliensi dan kepercayaan diri.
Tantangan sosial
Selain proses belajar, tantangan lainnya dari datang dari lingkungan sosial. Seperti yang dialami publik figur Wina Natalia. Anaknya, kerap dianggap "aib" saat menunjukkan perilaku tantrum di ruang publik. Pandangan negatif ini dapat menjadi tambahan beban mental bagi orang tua.
Sebab itu, Ries menekankan pentingnya dukungan keluarga, termasuk tidak membanding-bandingkan anak yang satu dengan yang lain. "Jangan membandingkan dengan kakak atau adiknya, karena tiap anak berbeda," katanya.
Imanda Zahwa berkontribusi dalam penulisan artikel ini
Piliihan editor: Pameran Lukisan Oliver Wihardja, Antara Autisme dan Alkitab















































