MENTERI Perdagangan Budi Santoso mengatakan kenaikan harga minyak goreng saat ini terjadi karena krisis plastik. “Ada sedikit juga naik. Karena kan imbas dari kan mereka kemasannya plastik semua,” kata Budi di JIEXpo Kemayoran, Jakarta, Kamis, 16 April 2026.
Konflik di kawasan Timur Tengah memengaruhi rantai pasok industri petrokimia global, khususnya pada komoditas nafta yang menjadi bahan baku plastik. Hal itu berdampak kepada dinamika harga dan pasokan bahan baku plastik.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Data Kementerian Perdagangan mencatat harga Minyakita saat ini berada di level Rp 15.974 per liter atau naik 0,03 persen dibandingkan 15 April 2026.
Kenaikan harga juga terjadi pada minyak goreng premium yang saat ini di level Rp 21.706 per liter atau naik 0,06 persen secara harian. Begitupun pada harga minyak goreng curah yang kini di level Rp 19.437 per liter atau naik 0,18 persen dibandingkan kemarin.
Meskipun terjadi kenaikan harga minyak goreng, Budi memastikan pasokan komoditas tersebut tidak langka.
Ia menjelaskan, pasokan minyak goreng komersial seperti second brand dan premium justru melimpah. Namun, berbeda dari minyak goreng komersial, Budi mengatakan pasokan Minyakita terbatas karena produksinya mengandalkan hasil dari pemenuhan kewajiban dalam negeri (DMO) pengusaha sawit.
Ia mengatakan, kondisi harga dan pasokan Minyakita tidak bisa menjadi indikator harga minyak goreng saat ini. “Seolah-olah kalau Minyakita mahal, orang bilang minyak goreng mahal. Kalau Minyakita enggak ada, (minyak goreng) langka. Padahal kan banyak, ada minyak second brand,” tuturnya.
Soal pasokan Minyakita, Budi bercerita dirinya menghubungi Direktur Utama ID Food Ghimoyo soal kewajiban produsen mendistribusikan minimal 35 persen minyak untuk Minyakita.
Ia mengatakan, Kementerian Perdagangan akan memfasilitasi business to businerss (B2B) jika ada rencana kenaikan jumlah pasokan Minyakita menjadi 65–70 persen. “Banyak kan distributor yang swasta juga jalan. Jadi semua jalan bareng enggak ada masalah,” kata politikus PAN itu.
Sebelumnya, dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR, Direktur Utama PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) atau ID Food Ghimoyo bercerita perusahaannya mulai kesulitan mendapatkan produk kemasan plastik. “Lagi terasa di pihak kami sebagai pemain pangan, yaitu kesulitan kemasan,” kata Ghimoyo dalam rapat kerja bersama Komisi IV DPR, Selasa, 7 April 2026.
Ghimoyo mengatakan krisis plastik terjadi karena pabrik produsen mulai mengalami kelangkaan bahan baku atau biji plastik terimbas konflik Timur Tengah. Menurutnya, kemasan plastik sangat penting untuk produk pangan seperti beras dan minyak goreng hingga pupuk. “Ini lebih krusial, karena ini seluruh pangan, seluruh pupuk, seluruh beras itu menggunakan karung plastik,” tuturnya.
















































