Korban Dugaan Pemerkosaan di Ponpes Sleman Sempat Diungsikan ke Magelang

3 hours ago 4

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN - Santriwati berusia 21 tahun yang diduga menjadi korban pemerkosaan oleh pengurus pondok pesantren di Sleman sempat dibawa ke wilayah Magelang, Jawa Tengah. Kuasa hukum korban, Gusti Rian Saputra, menyebut korban ditempatkan di luar daerah setelah pihak pondok mengetahui kondisi korban yang tengah hamil, sebagai bagian dari upaya untuk mengasingkan korban.

Menurutnya, terdapat usulan agar korban dibawa ke luar kota hingga melahirkan. "Korban sempat dibawa ke Magelang karena, nah, itu di bagian selanjutnya yang akan saya ceritakan. Soal kronologi selanjutnya, bagaimana penjemputan keluarga korban," kata Gusti saat diwawancara wartawan, Kamis (10/9/2026).

Usulan tersebut disebut disampaikan oleh salah satu pengurus ponpes. Gusti mengatakan, solusi yang ditawarkan saat itu adalah membawa korban ke luar Jawa. Korban disebut akan melahirkan di daerah tersebut, kemudian kembali ke pondok setelah proses persalinan selesai.

"(Itu) solusinya itu diasingkan keluar kota. Salah satu kota di luar Jawa. Lahir anaknya di sana, pulang-pulang bersih," katanya.

Gusti menilai rencana tersebut merupakan pemikiran yang keliru. Ia mempertanyakan alasan korban yang dijauhkan dari keluarga dan lingkungan setelah mengalami dugaan kekerasan seksual. 

"Pemikiran ini sangat-sangat menyimpang dan keliru. Agama mana yang menganjurkan seperti itu?" tegasnya.

Gusti kemudian menjelaskan bahwa keluarga akhirnya melakukan penjemputan terhadap korban. Penjemputan itu dilakukan keluarga sekitar Juli 2026. Saat itu, keluarga disebut belum memperoleh penjelasan utuh mengenai dugaan kekerasan seksual yang dialami korban.

Namun, langkah penjemputan tersebut dilakukan untuk memastikan korban berada di tempat yang aman dan dapat menceritakan apa yang sebenarnya dialaminya. "Jadi sempat ada penjemputan memang untuk mengamankan posisi korban. Karena kalau tidak dijemput, dia tidak di posisi yang aman," ujarnya.

Pascadijemput, korban akhirnya menceritakan apa yang terjadi selama berada di pondok. Korban mengaku mengalami tekanan dan ancaman sehingga tidak leluasa menceritakan apa yang dialaminya.

"Ibu korban yang dikasih tahu, anaknya hamil. Dari luar pintu, keluar anaknya. Anaknya nangis-nangis. Ibunya nangis-nangis. Ibunya bilang, "Nduk, kok iso kepiye iki?"  Terus apa kata F? "Ibu, mohon maaf. F diperkosa dengan lirih"," ujarnya.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |