Irlan Adhan Qizwini
Bisnis | 2026-09-15 07:51:19
Dunia kerja sedang berubah dengan kecepatan yang tidak pernah terjadi sebelumnya. Kehadiran kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), otomatisasi, digitalisasi bisnis, dan perubahan perilaku konsumen membuat perusahaan harus terus menyesuaikan cara mereka bekerja. Pekerjaan yang dahulu membutuhkan banyak waktu dan tenaga manusia kini dapat diselesaikan dengan bantuan teknologi dalam waktu yang jauh lebih singkat.
Kondisi tersebut kemudian melahirkan kekhawatiran baru di kalangan pekerja: apakah teknologi akan mengambil pekerjaan manusia? Pertanyaan itu memang penting, tetapi ada pertanyaan lain yang sebenarnya jauh lebih mendesak: apakah keterampilan yang kita miliki hari ini masih relevan untuk kebutuhan dunia kerja beberapa tahun ke depan?
Kekhawatiran tersebut menjadi semakin penting jika melihat kondisi pasar kerja Indonesia. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pada Februari 2026 jumlah angkatan kerja Indonesia mencapai 154,91 juta orang, dengan 147,67 juta orang di antaranya bekerja. Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) tercatat sebesar 4,68 persen, sedangkan rata-rata upah buruh sebesar Rp3,29 juta per bulan. Dibandingkan Februari 2025, jumlah penduduk yang bekerja memang meningkat sekitar 1,90 juta orang dan TPT menurun 0,08 poin persentase.
Angka tersebut menunjukkan bahwa persoalan ketenagakerjaan Indonesia bukan hanya mengenai ada atau tidaknya pekerjaan. Lapangan kerja tetap berkembang dan jumlah orang yang bekerja meningkat. Namun, perkembangan teknologi membawa persoalan yang berbeda: pekerjaan yang tersedia dapat berubah lebih cepat daripada kemampuan pekerjanya. Dengan kata lain, seseorang mungkin masih memiliki pekerjaan, tetapi jenis keterampilan yang dibutuhkan untuk mempertahankan pekerjaannya bisa berubah secara signifikan.
Bayangkan seorang karyawan yang selama bertahun-tahun mengerjakan pekerjaan administratif secara manual. Ia terbiasa membuat laporan, memasukkan data, menyusun dokumen, dan melakukan pekerjaan rutin lainnya. Kemudian perusahaan mulai menggunakan sistem digital dan AI untuk mengotomatisasi sebagian pekerjaan tersebut. Apakah karyawan itu otomatis kehilangan pekerjaan? Belum tentu. Ia masih dapat bekerja, tetapi pekerjaannya mungkin berubah. Perusahaan mungkin membutuhkan dirinya untuk melakukan analisis data, memeriksa hasil sistem, berkomunikasi dengan pelanggan, atau mengambil keputusan berdasarkan informasi yang dihasilkan teknologi.
Di sinilah letak persoalan sebenarnya. AI tidak selalu menggantikan manusia, tetapi manusia yang mampu menggunakan AI dapat menggantikan manusia yang tidak mau beradaptasi. Kalimat tersebut menggambarkan perubahan kompetisi di dunia kerja modern. Persaingan tidak lagi hanya terjadi antara manusia dan mesin, tetapi juga antara pekerja yang mampu memanfaatkan teknologi dengan pekerja yang tidak mampu mengikuti perubahan.
Laporan Future of Jobs 2025 dari World Economic Forum menunjukkan bahwa keterampilan teknologi, khususnya AI dan big data, diperkirakan menjadi kelompok keterampilan yang tumbuh paling cepat kepentingannya dalam beberapa tahun mendatang. Namun, keterampilan teknologi tersebut tidak berdiri sendiri. Kemampuan berpikir kreatif, ketahanan menghadapi perubahan, fleksibilitas, kemampuan beradaptasi, rasa ingin tahu, dan kemauan belajar sepanjang hayat juga diproyeksikan semakin penting.
Artinya, menjadi relevan di dunia kerja tidak berarti semua orang harus menjadi programmer atau ahli AI. Seorang akuntan tidak harus berubah menjadi ahli teknologi informasi. Seorang tenaga pemasaran tidak harus menjadi ilmuwan data. Seorang pekerja administrasi juga tidak harus memahami seluruh sistem AI yang tersedia. Yang dibutuhkan adalah kemampuan untuk memahami perubahan dalam bidang masing-masing dan mengetahui bagaimana teknologi dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas pekerjaan.
Masalahnya, budaya belajar di dunia kerja belum tentu berjalan secepat perkembangan teknologi. Banyak pekerja masih melihat pelatihan sebagai kegiatan tambahan, bukan kebutuhan utama. Padahal, dalam kondisi sekarang, belajar seharusnya menjadi bagian dari pekerjaan itu sendiri. Ketika teknologi baru muncul, pekerja perlu bertanya: keterampilan apa yang mulai berkurang nilainya, keterampilan apa yang semakin dibutuhkan, dan kemampuan apa yang perlu saya pelajari agar tetap memberikan kontribusi?
Konsep upskilling dan reskilling menjadi semakin penting dalam kondisi tersebut. Upskilling berarti meningkatkan kemampuan yang sudah dimiliki agar dapat mengikuti tuntutan pekerjaan yang berkembang. Sementara itu, reskilling berarti mempelajari keterampilan baru untuk menjalankan jenis pekerjaan atau peran yang berbeda. Keduanya menjadi strategi penting agar perubahan teknologi tidak langsung diterjemahkan menjadi kehilangan pekerjaan.
Hal ini juga diperkuat oleh kajian International Labour Organization (ILO) mengenai dampak AI generatif terhadap pekerjaan. ILO menekankan bahwa dampak AI terhadap pekerjaan perlu dilihat berdasarkan tugas-tugas dalam suatu pekerjaan, bukan sekadar menganggap seluruh pekerjaan akan otomatis hilang. Artinya, teknologi dapat mengambil alih sebagian tugas, tetapi masih terdapat tugas lain yang membutuhkan keterlibatan manusia.
Perspektif tersebut seharusnya mengubah cara kita memandang AI. AI bukan hanya ancaman, tetapi juga alat. Persoalannya adalah siapa yang mampu memanfaatkan alat tersebut dengan baik. Seorang pekerja yang menggunakan AI untuk mempercepat pekerjaan administratif, misalnya, dapat mengalokasikan lebih banyak waktu untuk menganalisis informasi dan menyelesaikan persoalan yang lebih kompleks. Dengan demikian, teknologi seharusnya tidak hanya digunakan untuk menggantikan pekerjaan manusia, tetapi juga untuk meningkatkan kualitas pekerjaan manusia.
Namun, kemampuan beradaptasi tidak bisa sepenuhnya dibebankan kepada pekerja. Perusahaan juga memiliki tanggung jawab yang besar. Ketika perusahaan mengadopsi teknologi baru, mereka seharusnya tidak hanya menghitung berapa biaya tenaga kerja yang dapat dikurangi, tetapi juga berapa banyak pekerja yang perlu dipersiapkan agar mampu menggunakan teknologi tersebut. Investasi pada teknologi seharusnya berjalan bersama investasi pada manusia.
Jika perusahaan membeli sistem AI yang mahal tetapi tidak memberikan pelatihan kepada karyawannya, teknologi tersebut belum tentu menghasilkan manfaat maksimal. Sebaliknya, perusahaan yang membangun budaya belajar dapat memperoleh keuntungan yang lebih besar karena karyawannya mampu beradaptasi dengan perubahan. Karyawan tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga dapat memberikan masukan mengenai bagaimana teknologi tersebut sebaiknya diterapkan dalam pekerjaan sehari-hari.
Pemerintah juga memiliki peran penting. Indonesia membutuhkan kebijakan ketenagakerjaan yang tidak hanya berfokus pada jumlah lapangan kerja, tetapi juga kualitas dan kesesuaian keterampilan tenaga kerja. Data BPS menunjukkan bahwa pada Agustus 2025 terdapat 146,54 juta penduduk yang bekerja, sementara TPT berada pada 4,85 persen. Rata-rata upah buruh pada periode tersebut mencapai Rp3,33 juta dan meningkat 1,94 persen dibandingkan Agustus 2024.
Data tersebut menunjukkan bahwa pasar kerja Indonesia terus bergerak. Namun, perubahan jumlah pekerja dan tingkat pengangguran belum cukup untuk menggambarkan seluruh tantangan masa depan. Kita juga perlu memperhatikan apakah pekerja memiliki keterampilan yang sesuai dengan arah perkembangan industri. Jangan sampai Indonesia berhasil menciptakan banyak pekerjaan, tetapi sebagian pekerjaan tersebut memiliki produktivitas rendah sementara pekerjaan dengan keterampilan tinggi justru kekurangan tenaga kerja yang sesuai.
Karena itu, pendidikan juga harus ikut berubah. Perguruan tinggi tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dengan ijazah. Mahasiswa perlu dibekali kemampuan yang dapat digunakan untuk menghadapi perubahan dunia kerja, seperti berpikir kritis, analisis data, komunikasi, kreativitas, pemecahan masalah, literasi digital, dan kemampuan menggunakan teknologi secara bertanggung jawab. Dunia pendidikan harus semakin dekat dengan perkembangan industri tanpa kehilangan fungsi dasarnya dalam membentuk manusia yang mampu berpikir.
Bagi individu, pesan terpentingnya sederhana: jangan merasa aman hanya karena sudah memiliki pekerjaan. Pekerjaan hari ini bukan jaminan bahwa keterampilan yang sama akan tetap bernilai lima atau sepuluh tahun mendatang. Belajar tidak boleh berhenti ketika seseorang mendapatkan gelar atau diterima bekerja. Justru setelah masuk dunia kerja, proses belajar menjadi semakin penting karena tuntutan pekerjaan akan terus berkembang.
Namun, menjadi relevan bukan berarti harus mengikuti setiap tren teknologi. Tidak semua teknologi harus dikuasai. Yang lebih penting adalah memahami perubahan yang benar-benar berkaitan dengan pekerjaan dan industri masing-masing. Seorang pekerja perlu mengetahui teknologi apa yang memengaruhi bidangnya, bagaimana teknologi tersebut bekerja secara umum, serta bagaimana dirinya dapat memberikan nilai yang tidak mudah digantikan.
Di sinilah kemampuan manusia menjadi sangat penting. Kreativitas, empati, komunikasi, kepemimpinan, kemampuan bekerja sama, penilaian etis, dan kemampuan mengambil keputusan dalam situasi yang kompleks masih memiliki nilai besar. Teknologi dapat menghasilkan informasi dengan cepat, tetapi manusia tetap dibutuhkan untuk memahami konteks dan menentukan apa yang sebaiknya dilakukan.
Pada akhirnya, ketakutan terhadap kehilangan pekerjaan memang tidak akan hilang sepenuhnya. Setiap perubahan teknologi pasti membawa risiko bagi sebagian pekerjaan. Namun, terlalu fokus pada ketakutan tersebut dapat membuat kita lupa terhadap tantangan yang lebih besar. Dunia kerja tidak hanya membutuhkan orang yang memiliki pekerjaan, tetapi membutuhkan orang yang mampu terus memberikan nilai di tengah perubahan.
Indonesia memiliki modal besar berupa jumlah penduduk usia produktif dan pasar yang luas. Namun, modal tersebut harus diikuti dengan kemampuan beradaptasi. Pemerintah perlu memperkuat sistem pendidikan dan pelatihan, perusahaan perlu menyediakan kesempatan upskilling dan reskilling, sedangkan pekerja perlu membangun kebiasaan belajar sepanjang hayat.
Pada akhirnya, masa depan dunia kerja bukan sekadar pertarungan antara manusia dan mesin. Masa depan akan ditentukan oleh seberapa baik manusia mampu bekerja bersama teknologi. Mereka yang terus belajar memiliki peluang untuk berkembang bersama perubahan. Sebaliknya, mereka yang berhenti belajar berisiko tertinggal, bukan semata-mata karena pekerjaannya diambil oleh teknologi, tetapi karena keterampilan yang dimilikinya tidak lagi sesuai dengan kebutuhan zaman.
Jadi, persoalan dunia kerja hari ini bukan lagi sekadar takut kehilangan pekerjaan. Persoalannya adalah bagaimana memastikan diri tetap relevan ketika pekerjaan, teknologi, dan kebutuhan industri terus berubah.
Disclaimer
Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

2 hours ago
5















































