Peserta dari masyarakat sipil Peduli Palestinamenginjak bendera Israel saat menggelar aksi Solidaritas untuk Palestina di depan Kedutaan Besar Amerika Serikat, Jakarta, Ahad (14/6/2026). Dalam aksinya, massa mengecam tindakan zionis Israel atas genosida yang terjadi di Palestina, menuntut pemerintah di seluruh dunia untuk menangkap pelaku kejahatan genosida. Selain itu mereka mendesak otoritas internasional untuk segera membebaskan peserta land convoy Global Sumud Flotilla dalam misi kemanusiaan menembus blokade Gaza yang hingga saat ini masih ditawan oleh kelompok milisi bersenjata di Libya Timur serta mengajak masyarakat untuk peduli terhadap hak-hak kemerdekaan Palestina.
REPUBLIKA.CO.ID, YERUSALEM — Konferensi Herzliya tahunan ke-22 resmi berakhir dengan kesimpulan bahwa Israel sedang menghadapi fase yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam menghadapi tantangan keamanan dan politik.
Situasi ini dipicu oleh berlanjutnya perang di Jalur Gaza, meningkatnya ketegangan dengan Iran, eskalasi di Tepi Barat dan Lebanon, serta semakin tajamnya perpecahan internal mengenai masa depan sistem politik dan keamanan negara tersebut.
Dikutip dari Aljazeera, Jumat (3/7/2026), para peserta konferensi juga membahas batas-batas kekuatan militer, dampak perang di berbagai front, masa depan hubungan Israel dengan Amerika Serikat, hingga mempertanyakan kemampuan negara itu dalam mencapai tujuan-tujuan strategisnya sekaligus memperkuat ketahanan masyarakat di dalam negeri.
Konferensi yang berlangsung selama dua hari ini dibuka pada Selasa dengan tema "Antara Keamanan Nasional dan Ketahanan Bangsa: Akankah Kita Mencapai Tempat yang Aman?"
Acara yang diselenggarakan oleh Institut Kebijakan dan Strategi Universitas Reichman tersebut dihadiri para pejabat politik, militer, keamanan, serta peneliti dari Israel dan berbagai negara lain untuk membahas perubahan-perubahan besar yang tengah terjadi di kawasan.
Konferensi digelar di tengah dinamika regional dan internasional yang bergerak sangat cepat. Perhatian utama tertuju pada dampak perang dengan Iran, perang yang terus berlangsung di Jalur Gaza, perkembangan situasi di Tepi Barat dan Lebanon, serta berbagai persoalan domestik seperti masa depan sistem politik Israel, hubungan dengan Amerika Serikat, dan tingkat kesiapan keamanan maupun ketahanan masyarakat.
Berbagai sesi diskusi berfokus pada evaluasi lingkungan strategis baru yang dihadapi Israel, tantangan militer dan politik, mekanisme pengambilan keputusan, serta ancaman regional di masa mendatang.
Selain itu, peserta juga membahas isu permukiman Yahudi, situasi di Tepi Barat, Iran, dukungan Amerika Serikat, demokrasi, wajib militer, hingga transformasi yang sedang berlangsung di tubuh militer Israel.

2 weeks ago
31







































