Karhutla Dekat Kebun Sawit, Kemenhut Evakuasi Orangutan dalam Kondisi Lemah

1 hour ago 1

Satu individu orangutan morio (Pongo pygmaeus morio) berada di kawasan Pusat Rehabilitasi Samboja Lestari, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, Rabu (29/4/2026). Berdasarkan data Yayasan Borneo Orangutan Survival Foundation (BOSF), kawasan konservasi seluas 1.853 hektare yang menjadi habitat bagi 111 orang utan, 75 beruang madu, dan bermacam satwa lainnya tersebut terancam oleh berbagai aktivitas alih fungsi lahan seperti tambang dan perkebunan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Kementerian Kehutanan (Kemenhut) mengevakuasi satu individu orangutan kalimantan (Pongo pygmaeus) dalam kondisi lemah yang diduga akibat paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sekitar kebun sawit masyarakat Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Dalam keterangan resmi Kemenhut yang diterima di Jakarta, Senin (31/8/2026), Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Murlan Dameria Pane mengatakan kondisi kebakaran di sekitar habitat dan ruang jelajah satwa perlu menjadi perhatian karena dapat memengaruhi pergerakan serta kondisi satwa liar.

"Kebakaran tidak hanya berdampak terhadap tutupan lahan, tetapi juga berpotensi memberikan tekanan terhadap satwa liar yang berada di sekitarnya. Karena itu, pemantauan terhadap pergerakan satwa di wilayah terdampak juga penting dilakukan. Kami mengapresiasi laporan masyarakat dan kerja sama seluruh pihak sehingga orangutan ini dapat segera mendapatkan pertolongan," kata Murlan.

Evakuasi dilakukan BKSDA Kalimantan Barat bersama Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI) terhadap satu individu orangutan jantan dewasa. Orangutan tersebut ditemukan dalam kondisi lemah di kebun sawit masyarakat di Dusun 1 Sempurna, Desa Kuala Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Kabupaten Ketapang, pada Ahad (30/8).

Tim Wildlife Rescue Unit (WRU) Seksi KSDA Wilayah I BKSDA Kalimantan Barat menerima laporan mengenai keberadaan orangutan tersebut pada pukul 07.27 WIB. Menindaklanjuti laporan itu, BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI segera menurunkan tim untuk melakukan penyelamatan.

Orangutan tersebut sebelumnya telah termonitor oleh tim Orangutan Protection Unit (OPU) YIARI pada 16 Agustus 2026 di sekitar lokasi penyelamatan. Namun, saat itu orangutan masih berpindah-pindah secara aktif.

Saat kembali ditemukan pada Ahad pagi, orangutan berada dalam kondisi lemah di area kebun sawit masyarakat.

Sekitar pukul 09.13 WIB, tim melakukan pembiusan secara terukur agar pemeriksaan dan proses evakuasi dapat dilakukan dengan aman. Dokter hewan YIARI selanjutnya melakukan pemeriksaan kesehatan dan memberikan penanganan awal berupa pemberian oksigen serta cairan melalui infus.

Tim medis juga mengambil sampel darah, feses, dan rambut untuk mendukung pemeriksaan lebih lanjut. Selain itu, dilakukan pemasangan microchip sebagai bagian dari identifikasi dan pemantauan individu orangutan.

sumber : ANTARA

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |