REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON – Presiden AS Donald Trump mengumumkan larangan bagi Israel melakukan serangan ke Lebanon. Hal ini menyusul sikap Iran yang mendesak Lebanon dimasukkan dalam kesepakatan gencatan senjata.
Dalam cuitannya di Truth Social pada Jumat, Trump menyayakan situasi di Lebanon dan kehadiran kelompok bersenjata Hizbullah di negara tersebut akan ditangani secara terpisah dari Iran dan dengan “cara yang tepat”, kata presiden AS.
“Israel tidak akan lagi membom Lebanon,” kata Trump di Truth Social. “Mereka DILARANG melakukan hal tersebut oleh AS. Cukup sudah!!!.”
Sermentara, Israel belum selesai berurusan dengan Hizbullah, kata Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu. Ia berjanji untuk melanjutkan “pembongkaran” kelompok Lebanon hanya beberapa jam setelah gencatan senjata 10 hari mulai berlaku.
"Kami belum menyelesaikan pekerjaan ini. Ada beberapa hal yang kami rencanakan untuk dilakukan untuk mengatasi sisa ancaman roket dan ancaman pesawat tak berawak," katanya dalam rekaman pidatonya, seraya mengatakan bahwa tujuan utamanya adalah "melucuti Hizbullah".
Kecepatan kesepakatan gencatan senjata Lebanon-Israel menunjukkan pengaruh Trump terhadap Netanyahu ketika ia memilih untuk menggunakannya, kata Michael Hanna, direktur program AS di International Crisis Group.
“Seperti pada masa jabatan keduanya di Yaman, Iran dan Gaza, Trump telah menunjukkan kemampuannya untuk membawa Israel sejalan ketika kebijakan Israel mengancam prioritasnya sendiri,” kata Hanna kepada Al Jazeera.
Seperti analis lainnya, Hanna meremehkan prospek perjanjian yang lebih komprehensif antara Israel dan Hizbullah, namun mengatakan gencatan senjata di Lebanon meningkatkan peluang untuk meredakan perang regional yang lebih luas.
Sejak Israel melakukan agresi ke Lebanon pada 2 Maret korban jiwa telah mencapai 2.294 orang. Setidaknya 7.544 orang juga terluka, kata Kementerian Kesehatan Lebanon.
Blok parlemen Ezbollah dengan hati-hati mendukung gencatan senjata – tetapi hanya jika gencatan senjata komprehensif, mencakup seluruh wilayah Lebanon, dan menjadi awal penarikan penuh Israel.
Kelompok tersebut memuji Iran karena berhasil mengamankan gencatan senjata, dengan mengatakan bahwa gencatan senjata tersebut “dicapai terutama karena adanya tekanan dan kontak diplomatik Iran.”
Hizbullah dengan tajam mengecam pemerintah karena melakukan perundingan langsung dengan Israel, dan memperingatkan bahwa pihak berwenang telah menempatkan Lebanon pada “jalur konsesi yang berbahaya” yang tidak dapat mereka penuhi. “Pemerintah telah mengingkari setiap komitmen yang sebelumnya dinyatakan sebagai prasyarat untuk memasuki proses negosiasi apa pun,” katanya.

3 hours ago
1














































