Bangsa Besar tidak Pernah Menghemat Ilmu

1 hour ago 2

Image Lailatul Muniroh

Edukasi | 2026-07-17 12:14:52

Mengapa ada negara yang mampu melahirkan begitu banyak ilmuwan, penemu, dan inovator, sementara negara lain terus berkutat dengan persoalan yang sama dari tahun ke tahun?

Jawabannya tidak selalu terletak pada kecerdasan penduduknya. Tidak pula semata-mata pada besarnya anggaran riset. Yang lebih menentukan adalah cara sebuah bangsa memandang ilmu pengetahuan.

Bangsa yang maju tidak pernah menganggap pendidikan sebagai beban anggaran. Mereka melihatnya sebagai investasi peradaban. Sebaliknya, bangsa yang gagal membangun tradisi keilmuan sering kali menjadikan pendidikan sekadar urusan administratif: menghitung jumlah sekolah, jumlah lulusan, atau banyaknya program tanpa sungguh-sungguh memastikan bahwa ilmu berkembang dan dihormati.

Padahal seluruh kemajuan manusia lahir dari ilmu.

Tidak ada teknologi tanpa riset. Tidak ada kemajuan ekonomi tanpa inovasi. Tidak ada pelayanan kesehatan yang baik tanpa penelitian. Tidak ada kebijakan publik yang berkualitas tanpa kajian ilmiah.

Karena itu, ketika sebuah negara berbicara tentang masa depan, sesungguhnya yang sedang dibicarakan adalah masa depan ilmu pengetahuan.

Sayangnya, dalam praktiknya, ilmu sering kali belum benar-benar ditempatkan sebagai prioritas.

Kita masih menjumpai mahasiswa yang harus bekerja keras hanya untuk membayar biaya kuliah. Banyak peneliti menghabiskan energi mencari pendanaan dibanding mengembangkan riset. Guru dan dosen menghadapi beban administratif yang menyita waktu untuk membaca, menulis, dan membimbing. Di sisi lain, berbagai kebijakan sering lebih mengejar target jangka pendek daripada membangun kapasitas intelektual jangka panjang.

Akibatnya, pendidikan berjalan, tetapi tradisi berpikir tidak selalu tumbuh.

Yang lebih memprihatinkan, keberhasilan pendidikan sering diukur melalui angka-angka yang mudah dihitung: berapa banyak lulusan, berapa banyak publikasi, berapa banyak sertifikat, atau berapa banyak program yang selesai. Padahal ukuran sesungguhnya adalah apakah ilmu itu mampu menyelesaikan persoalan masyarakat.

Ilmu tidak boleh berhenti di ruang kelas. Ia harus hadir dalam kebijakan, menggerakkan inovasi, dan menjadi dasar pengambilan keputusan.

Di sinilah negara memegang peran yang sangat penting.

Negara tidak cukup hanya membuka akses pendidikan. Negara harus menciptakan ekosistem yang memungkinkan ilmu berkembang secara sehat. Pendidikan yang berkualitas membutuhkan pendanaan yang memadai, penghargaan terhadap profesi pendidik, kebebasan akademik, riset yang berkelanjutan, dan keberanian menjadikan bukti ilmiah sebagai dasar kebijakan.

Tanpa itu semua, ilmu akan berjalan terseok-seok.

Padahal sejarah menunjukkan bahwa hampir semua peradaban besar dibangun di atas penghormatan terhadap ilmu. Ketika negara menyediakan ruang bagi para ilmuwan untuk berpikir, meneliti, dan menyampaikan gagasan secara bebas, lahirlah berbagai lompatan besar dalam ilmu pengetahuan, teknologi, kesehatan, hingga tata kelola pemerintahan.

Sebaliknya, ketika ilmu dipinggirkan atau hanya diposisikan sebagai pelengkap pembangunan, yang terjadi adalah stagnasi. Kebijakan menjadi reaktif, inovasi melambat, dan bangsa kehilangan kemampuan menyelesaikan persoalannya sendiri.

Karena itu, investasi terbesar sebuah negara sesungguhnya bukan hanya jalan tol, bendungan, atau gedung-gedung megah. Semua itu memang penting. Namun tidak ada infrastruktur yang lebih menentukan masa depan selain manusia yang berilmu.

Jalan raya dapat dibangun dalam beberapa tahun. Gedung dapat selesai dalam hitungan bulan. Akan tetapi, membangun seorang ilmuwan, guru, dokter, insinyur, atau pemimpin yang berintegritas memerlukan waktu puluhan tahun.

Itulah sebabnya pendidikan tidak boleh dipandang sebagai pengeluaran yang bisa ditekan ketika anggaran terbatas. Setiap rupiah yang dihemat dari pendidikan pada akhirnya dapat berubah menjadi biaya sosial yang jauh lebih besar di masa depan.

Kita juga perlu mengubah cara memandang para pencari ilmu. Mereka bukan sekadar individu yang sedang mengejar gelar atau pekerjaan. Mereka sedang membangun kapasitas bangsa. Setiap mahasiswa yang berhasil menyelesaikan pendidikannya, setiap dosen yang menghasilkan penelitian bermutu, dan setiap guru yang membentuk karakter muridnya sesungguhnya sedang menanam fondasi bagi masa depan negeri ini.

Karena itu, ketika pendidikan menjadi semakin sulit dijangkau, sesungguhnya yang sedang dipersempit bukan hanya kesempatan individu untuk belajar, tetapi juga peluang bangsa untuk berkembang.

Sebuah bangsa tidak akan kekurangan sumber daya alam jika memiliki ilmu. Sebaliknya, bangsa yang kaya sumber daya pun dapat tertinggal apabila mengabaikan pembangunan manusianya.

Pada akhirnya, ukuran kemajuan suatu negara bukan hanya besarnya pertumbuhan ekonomi atau tingginya pembangunan fisik. Ukuran yang lebih mendasar adalah seberapa besar negara menghargai ilmu pengetahuan dan seberapa mudah setiap warganya memperoleh kesempatan untuk belajar.

Bangsa besar tidak lahir karena keberuntungan sejarah. Bangsa besar lahir karena memilih untuk menempatkan ilmu sebagai fondasi pembangunan.

Dan bangsa yang memuliakan ilmu tidak sedang membangun hari ini semata. Ia sedang membangun masa depan yang akan dinikmati oleh generasi yang bahkan belum dilahirkan

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |