Bahlil Minta Investor Lakukan Transfer Teknologi untuk Industri Baterai EV Nasional

21 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia meminta para investor yang masuk ke Indonesia tidak hanya berorientasi pada aspek bisnis. Pemerintah mendorong proses transfer teknologi secara berkelanjutan.

Bahlil menyampaikan hal tersebut saat memberikan sambutan pada acara penandatanganan kerangka kerja sama konsorsium PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM), PT Industri Baterai Indonesia (IBI), dan HYD terkait pengembangan ekosistem baterai kendaraan listrik (electric vehicle/EV) terintegrasi di Jakarta, Jumat (30/1/2026). Ia bersyukur proyek tersebut akhirnya direalisasikan sembari menaruh perhatian pada dampak jangka panjang yang dihasilkan.

“Karena mereka yang punya teknologi (rekanan asing). Dan kalau bisa habis ini, transfer teknologi. Jadi habis ini kampus-kampus kami, kau ajarin mereka. Supaya kalau kami sudah mati, anak-anak yang sekarang, yang muda-muda ini, bisa meneruskan perjuangan untuk bangsanya,” kata Menteri ESDM.

Bahlil menjelaskan, proyek baterai EV terintegrasi mencakup rantai industri mulai dari pertambangan, smelter, high pressure acid leaching (HPAL), precursor, katoda, hingga battery cell dan fasilitas daur ulang. Proyek ini menjadi bagian dari percepatan hilirisasi nasional dengan nilai investasi sekitar 6 miliar dolar AS. Pemerintah menargetkan Indonesia tidak hanya berperan sebagai pemasok bahan mentah, tetapi sebagai negara industri baterai yang menguasai nilai tambah dan rantai pasok strategis global.

“Kalau ini mampu kita lakukan, maka Indonesia menjadi salah satu negara setelah China yang membangun ekosistem baterai mobil terintegrasi dari hulu ke hilir. Di dunia belum ada. Baru China dan Indonesia,” ujar tokoh asal Papua ini.

Bahlil menuturkan, proyek ekosistem baterai tersebut bertumpu pada basis sumber daya nikel nasional yang sebagian besar berada di Maluku Utara. PT Aneka Tambang Tbk menjadi pemegang saham mayoritas di sektor hulu pengelolaan nikel.

“Untuk nikel, kita yang paling besar. Insya Allah ke depan akan menjadi salah satu pemain terbesar di dunia terkait bahan baku dan baterai mobil untuk menuju energi baru terbarukan,” ucapnya.

Bahlil juga mengaitkan pengembangan baterai EV terintegrasi dengan agenda ketahanan energi nasional. Saat ini, Indonesia masih bergantung pada impor bahan bakar fosil untuk jutaan kendaraan bermotor. Karena itu, penguatan industri baterai dalam negeri dinilai menjadi kunci transisi menuju kendaraan listrik dan energi bersih.

“Cara kita adalah bagaimana mengonversi motor menjadi motor listrik, mobil menjadi mobil listrik. Tapi kalau motor listrik dan mobil listrik baterainya masih dari luar, itu podo wae,” tutur Menteri ESDM.

Proyek baterai EV terintegrasi akan dibangun di dua wilayah utama. Fasilitas baterai kendaraan listrik direncanakan berlokasi di Jawa Barat, sedangkan tambang nikel, smelter, HPAL, precursor, dan katoda akan berpusat di Halmahera Timur, Maluku Utara, mengikuti lokasi sumber daya bahan baku.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |