AS Kirim Drone Mata-mata ke Kawasan Perang, Sanggup Terbang 60 Jam Tanpa Mendarat

2 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON — Angkatan Udara Amerika Serikat berencana mengirim versi terbaru pesawat nirawak Unmanned Long-endurance Tactical Reconnaissance Aircraft (ULTRA) ke Timur Tengah untuk menjalani evaluasi operasional.

Drone pengintai tersebut dikembangkan oleh perusahaan DZYNE Technologies dan dirancang mampu terbang lebih cepat, lebih tinggi, serta bertahan di udara selama berhari-hari.

ULTRA Turbo merupakan pengembangan dari drone ULTRA generasi sebelumnya yang memiliki desain menyerupai pesawat layang dengan mesin turbo. Pesawat tanpa awak ini menjadi bagian dari upaya militer AS memperkuat kemampuan intelijen, pengawasan, dan pengintaian udara atau Intelligence, Surveillance, and Reconnaissance (ISR) dengan biaya operasional lebih rendah.

Dokumen anggaran Angkatan Udara AS tahun anggaran 2027 menyebut evaluasi operasional akan dilakukan di wilayah tanggung jawab Komando Pusat AS (CENTCOM), yang mencakup kawasan Timur Tengah. Pendanaan untuk program tersebut telah dialokasikan sejak Tahun Fiskal 2026 dan akan dilanjutkan pada 2027 guna mendukung peningkatan kemampuan drone.

“Pendanaan FY26 akan mendukung penilaian operasional di luar wilayah kontinental Amerika Serikat di area tanggung jawab CENTCOM sebagai langkah berikutnya dalam pengembangan sistem ULTRA,” demikian tertulis dalam dokumen anggaran Angkatan Udara AS, sebagaimana diberitakan sejumlah media Amerika beberapa hari lalu.

Drone ULTRA disebut memiliki konfigurasi “Multi-INT” yang memungkinkan penggunaan berbagai sensor pengintaian, mulai dari kamera elektro-optik, inframerah, radar pencitraan apertur sintetis, hingga perangkat intelijen sinyal.

Versi terbaru drone ini menggunakan mesin Rotax 916, mesin piston empat silinder yang juga digunakan pada sejumlah drone militer lain, termasuk Hermes 900 buatan Israel. Mesin tersebut memungkinkan ULTRA Turbo terbang di ketinggian lebih dari 25 ribu kaki dan meningkatkan fleksibilitas operasi di cuaca buruk.

Pada Februari lalu, DZYNE mengumumkan ULTRA Turbo berhasil menyelesaikan penerbangan selama 60 jam di ketinggian 25 ribu kaki dengan kecepatan 100 knot. Drone tersebut diklaim mampu membawa muatan hingga 450 pon dan memiliki waktu terbang lebih dari dua hari tanpa henti.

Kemampuan daya tahan panjang itu dinilai penting bagi operasi militer AS di Timur Tengah, terutama di tengah meningkatnya kebutuhan pengawasan udara setelah konflik terbaru dengan Iran serta pengawasan jalur pelayaran di kawasan Teluk.

Sebelumnya, drone ULTRA generasi awal telah menjalani evaluasi operasional di Timur Tengah pada 2024. Dalam salah satu misi, drone tersebut disebut mampu terbang dari Pangkalan Udara Al Dhafra di Uni Emirat Arab menuju Afghanistan dan kembali lagi. Jangkauan itu melampaui kemampuan operasional drone MQ-9 Reaper yang selama ini menjadi tulang punggung pengintaian udara AS di kawasan tersebut.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |