VARgentina, Saat Teknologi Dianggap Menodai Piala Dunia

19 hours ago 3

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK -- Tak sedikit penggemar yang belakangan merasa bahwa Argentina mendapatkan keputusan yang menguntungkan sepanjang perjalanan mereka di Piala Dunia, hingga menjuluki skuad tersebut sebagai "VARgentina." Benarkah penggunaan VAR secara selektif menguntungkan tim yang diujungtombaki Lionel Messi tersebut?

Kini, analisis terhadap data statistik telah mengungkap fakta sebenarnya di balik hubungan Argentina dengan tinjauan VAR. Sebuah grafik yang dibuat oleh NetSI Sport dan disajikan oleh Northeastern Global News memperlihatkan "tim mana saja yang mendapatkan keputusan VAR paling menguntungkan (berwarna biru) dan mana yang paling sedikit (berwarna merah) selama Piala Dunia tahun ini."

Berdasarkan grafik yang disajikan pada 11 Juli—sebelum kemenangan Argentina di perempat final atas Swiss, terungkap bahwa dari semua tim yang mencapai perempat final, hanya Argentina yang tidak satu pun pelanggarannya ditinjau oleh VAR, sekaligus menjadi tim yang paling sering mendapatkan keuntungan dari peninjauan VAR atas pelanggaran lawan.

Dalam pertandingan melawan Swiss, Argentina kembali mendapat keuntungan setelah tinjauan VAR membalik kartu kuning terhadap pemain Argentina menjadi hukuman yang berujung pengusiran pemain Swiss Breel Embolo.

Brennan Klein, direktur kelompok riset Northeastern NetSI Sport, tidak sampai menyimpulkan bahwa Argentina mendapatkan perlakuan istimewa.

"Mengapa Argentina dan Meksiko memuncaki daftar ini?" ujarnya. "Mereka memuncaki daftar ini karena wasit melewatkan pelanggaran yang menurut VAR seharusnya dianggap sebagai pelanggaran. Hanya butuh satu langkah kecil untuk beralih ke anggapan: 'Mereka bias melawan tim saya atau memihak tim itu'."

Walau begitu, temuan ini tentu tidak meredam narasi di kalangan penggemar yang menyebut bahwa FIFA memihak Argentina.

Mantan wasit FIFA Christina Unkel dikutip Reuters, menilai penerapan protokol baru perwasitan di Piala Dunia justru memicu polemik baru terkait persepsi publik terhadap keadilan pertandingan. Menurut dia, kontroversi terbaru yang melibatkan timnas Argentina semakin memperkuat keluhan suporter mengenai keputusan wasit sepanjang turnamen.

Perjalanan Argentina menuju semifinal melawan Inggris pada Rabu (15/7/2026) diwarnai serangkaian protes dari tim lawan terkait sejumlah keputusan wasit. Di media sosial, muncul pula spekulasi bahwa sistem perwasitan di turnamen kali ini lebih menguntungkan tim yang diperkuat Lionel Messi tersebut.

Kontroversi memuncak saat Argentina menyingkirkan Swiss di perempat final pada Sabtu (11/7/2026). Dalam laga itu, penyerang Swiss Breel Embolo diusir keluar lapangan setelah menerima kartu kuning kedua karena dianggap melakukan simulasi. Keputusan tersebut diambil melalui penerapan aturan Video Assistant Referee (VAR) yang oleh pelatih Swiss Murat Yakin disebut sebagai sesuatu yang "tidak dapat diterima".

Saat dimintai tanggapan pada Senin (13/7/2026), FIFA merujuk Reuters pada wawancara 8 Juli dengan Kepala Komite Wasit FIFA Pierluigi Collina. Dalam wawancara itu, Collina membantah tuduhan bahwa Argentina diuntungkan oleh keputusan wasit saat mengalahkan Mesir pada babak 16 besar.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |