Upaya Jakarta Tangani Sampah, dari Gerakan Memilah hingga Teknologi Pengolahan

1 hour ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pemerintah Provinsi (Pemprov) DKI Jakarta terus memperkuat pengelolaan sampah dari hulu ke hilir. Langkah ini untuk mengurangi beban Tempat Pengolahan Sampah Terpadu (TPST) Bantargebang, yang mulai Agustus 2026 hanya menerima sampah residu.

Pada Ahad (10/5/2026) lalu, Pemprov DKI Jakarta mendeklarasikan gerakan “Jaga Jakarta Bersih, Pilah Sampah”. Melalui gerakan ini, warga didorong memilah sampah dari sumbernya, baik di rumah, lingkungan permukiman, sekolah, perkantoran, pasar, maupun fasilitas publik.

Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung mengungkapkan, Gerakan Pilah Sampah merupakan tindak lanjut Instruksi Gubernur DKI Jakarta Nomor 5 Tahun 2026 dan wajib dijalankan bersama dalam skala yang lebih luas.

“Kegiatan ini tidak setengah-setengah karena semuanya berjalan serentak di lima kota dan juga di Pulau Seribu untuk melakukan pilah sampah,” tegasnya.

Pramono menilai, apabila gerakan itu berjalan maksimal, volume sampah yang dikirim ke Bantargebang dapat berkurang secara signifikan.

“Saya meyakini kalau ini bisa berjalan berhasil, apa yang menjadi arahan dari Menteri Lingkungan Hidup, pada bulan Agustus Jakarta hanya akan bisa menimbun residunya. Kalau sekarang kan semuanya angkut, dumping di Bantargebang. Sekarang kita mulai dengan dipilah terlebih dahulu, organik dan anorganik dipisahkan,” jelasnya.

Dalam gerakan pilah sampah, warga diminta memilah sampah ke dalam empat jenis, yaitu sampah organik, anorganik, B3, dan residu. Sampah organik dapat diolah menjadi kompos, pakan maggot, atau melalui biodigester. Untuk sampah anorganik diarahkan ke bank sampah atau daur ulang, sedangkan B3 perlu ditangani sesuai prosedur keamanan lingkungan. Adapun residu akan diteruskan ke fasilitas pengolahan akhir.

Merespons gerakan tersebut, Zahra (26 tahun), warga Cawang, Jakarta Timur mengaku sangat mendukung. Menurutnya, gerakan itu dapat meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya memilah sampah. Namun demikian, ia usul agar Pemprov DKI Jakarta menambah sarana dan prasarana pemilahan sampah, mengingat fasilitas pendukung saat ini masih terbatas.

“Mungkin harus juga ditambah sarana dan prasarana tempat sampah. Selama ini belum ada, jadi kalau kita juga dimudahkan dalam memilah sampah,” ujarnya kepada Republika, Selasa (19/5/2026).

Zahra mengatakan, keluarganya telah melakukan pemilahan sampah sebelum adanya gerakan pilah sampah. Sampah plastik dipisahkan dari sampah lainnya sebelum diserahkan kepada petugas pengangkut sampah.

"Selama ini dibuang ke tempat sampah biasa, tapi plastik sudah dipisah. Sama petugasnya juga tidak dicampur," katanya.

Senada, Imas (61 tahun), warga Manggarai, Jakarta Selatan, juga mendukung gerakan ini. Ia mengaku telah mendapatkan informasi mengenai pemilahan sampah dari Dasawisma di lingkungan rumahnya.

“Sudah dapat info dari Dasawisma, katanya disuruh memilah sampah,” tukas Imas.

Meski begitu, ia mengaku belum mendapat informasi detail mengenai teknis pemilahan sampah yang harus dilakukan warga. Ia berharap sosialisasi dapat terus diperluas agar masyarakat memahami jenis sampah yang perlu dipilah dan cara mengelolanya.

“Saya setuju banget, tapi harus sosialisasi lagi biar semua paham,” ujarnya.

Siapkan Teknologi Pengolahan

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |