REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebanyak tujuh orang warga negara Indonesia (WNI) yang tergabung dalam Global Peace Convoy Indonesia (GPCI) dan Misi Global Sumud Flotilla sedang dalam misi menembus blokade Gaza melalui jalur darat untuk mengantarkan bantuan kemanusiaan. Pada Rabu (20/5/2026), GPCI dalam misi menembus blokade Gaza jalur darat tertahan di Buerat, wilayah pesisir di Libya Barat.
"Kondisi saat ini konvoi tertahan di wilayah Buerat 74 kilometer dari Sirte," kata perwakilan GPCI, Rikar Tayusani kepada Republika, Rabu (20/5/2026).
Rikar saat ini bersama enam orang perwakilan GPCI lainnya masih bertahan di Buerat. Di antaranya Hakam Ahmad, Diki Taufik, Zayyin Ahmad, Syukron, Yahya Ilyas dan Imam Alfaruq.
Rikar menyampaikan bahwa ada kabar milisi Haftar bentukan Zionis telah bersiap melakukan aksi provokatif untuk menghalangi Global Sumud Flotilla jalur darat.
Selain itu, Rikar mengatakan, konvoi juga belum dapat lampu hijau dari pemerintah Libya Timur untuk bergerak melanjutkan perjalanan menembus blokade Gaza.
"Kemarin sempat membuat mini tim dari Eropa berpaspor kuat untuk berkirim pesan menyerahkan bantuan ke Red Crescent Libya (Bulan Sabit Merah Libya)," ujar Rikar yang perjalanannya tertahan di wilayah pesisir di Libya Barat.
Untuk sementara, ia menyampaikan, konvoi bertahan di Buerat, sambil menunggu kesempatan untuk dapat melanjutkan perjalanan menembus Gaza.
"Tapi kita sedang susun rencana sebagian tim ini akan kembali ke Tripoli dan terbang dengan pesawat dan melanjutkan konvoi dari Mesir, rencana ini dilakukan jika tidak memungkinkan menembus Libya Timur," ujarnya,
GPCI menyampaikan bahwa ada konvoi melalui laut dan darat, sembilan orang WNI yang tergabung dalam GPCI dan Global Sumud Flotilla telah ditangkap Israel di laut. GPCI mengungkapkan, konvoi melalui jalur darat, kondisinya tidak jauh berbeda karena sama-sama berbahaya.
"Kondisinya tidak jauh berbeda, sangat berbahaya karena yang dihadapi adalah benteng-benteng yang dibangun pasukan Zionis," ujar pewakilan GPCI yang tertahan di Libya.
Perwakilan GPCI, Zayyin Ahmad menambahkan, konvoi dipaksa berhenti di satu tempat di perbatasan Libya Barat dan Timur. Libya sejak konflik sudara terbagi menjadi dua pemerintahan dan semunya memiliki otoritas masing-masing.
"Kami dipaksa untuk membubarkan konvoi dengan ancaman dari milisi Haftar," ujarnya.
Zayyin mengatakan bahwa konvoi menghadapi tekanan dari berbagai pihak, ditambah ada peningkatan serangan opini di media. Dikarenakan tersebarnya hoaks AI yang dibuat untuk memfitnah konvoi ini menjadi gerakan politik.
"Kondisi ini menimbulkan ancaman bagi konvoi, termasuk kemungkinan konvoi dihentikan di beberapa titik seperti Sirte, perbatasan Libya, atau sebelum memasuki Mesir," ujarnya.

1 hour ago
1















































