REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN -- Holding BUMN sektor aviasi dan pariwisata atau InJourney, terus melakukan transformasi dalam pengelolaan destinasi wisata nasional. Transformasi ini tidak hanya menyentuh aspek infrastruktur dan layanan, tetapi juga mengubah cara pengelolaan terhadap destinasi warisan budaya agar mampu menghadirkan pengalaman wisata yang lebih relevan bagi wisatawan modern tanpa meninggalkan nilai pelestariannya.
Corporate Secretary SVP InJourney, Yudhistira Setiawan menyampaikan, transformasi tersebut dilakukan dengan pendekatan tematik pada setiap destinasi, sehingga memiliki identitas dan pengalaman yang berbeda. InJourney ingin memastikan bahwa setiap destinasi yang dikelola memiliki positioning yang jelas, baik dari sisi budaya, spiritualitas, hingga pengalaman wisata yang ditawarkan kepada pengunjung.
Salah satu transformasi dilakukan pada kawasan Candi Borobudur yang diarahkan menjadi destinasi spiritual heritage. Yudhistira menjelaskan, kawasan ini dikembangkan sebagai pusat kegiatan budaya dan religi umat Buddha, baik dari Indonesia maupun mancanegara. Selain itu, Borobudur tidak hanya diposisikan sebagai situs wisata sejarah, tetapi juga sebagai cultural and spiritual heritage center yang mampu menjadi titik pertemuan kegiatan spiritual, budaya, serta refleksi keagamaan.
"Nanti akan ada event yang selalu ditunggu-tunggu setiap tahun yaitu Waisak di bulan Mei nanti. Jadi itu merupakan salah satu perwujudan dari transformasi yang dilakukan oleh InJourney di mana kami menggabungkan kultural dan religi dalam satu event yang mencerminkan transformasi yang sudah dilakukan oleh InJourney. Itu untuk Borobudur," katanya saat berbincang dengan Republika di Kompleks Candi Prambanan, Kamis (11/3/2026).
Yudhistira tak menampik, perayaan Hari Raya Waisak yang setiap tahun digelar di kawasan Borobudur itu selalu menarik perhatian umat Buddha dari berbagai negara. Melalui transformasi tersebut, InJourney berharap Borobudur tidak hanya menjadi destinasi wisata populer, tetapi juga memiliki peran global sebagai pusat spiritual dan budaya Buddha.
Berbeda dengan Borobudur, Yudhistira menyampaikan, kawasan Candi Prambanan dikembangkan dengan konsep living cultural heritage. Prambanan memiliki karakter yang lebih terbuka terhadap berbagai kegiatan kreatif, mulai dari festival budaya, pertunjukan seni, hingga berbagai aktivitas hiburan berbasis budaya. Oleh karenanya, destinasi ini diarahkan menjadi pusat kegiatan seni, budaya, dan pertunjukan yang hidup dan dinamis.
Berbagai acara telah digelar untuk memperkuat konsep tersebut, salah satunya melalui penyelenggaraan Prambanan Jazz Festival yang menghadirkan beragam pertunjukan seni dan budaya.
"Karena Candi Prambanan memang lebih modern (suasananya) dan juga (pengelolaannya) lebih memberikan atau mengedepankan event-event yang bersifat kebudayaan dan juga pertunjukan seperti Prambanan Jazz Festival," ucapnya.
Sementara itu, situs Ratu Boko dikembangkan sebagai natural heritage destination yang menonjolkan keaslian alam serta nilai sejarahnya. Kawasan ini dikenal sebagai salah satu lokasi terbaik untuk menikmati panorama matahari terbit dan terbenam di wilayah Yogyakarta. InJourney berupaya menjaga keaslian situs tersebut agar tetap merepresentasikan kondisi historisnya sejak masa kerajaan.
"Kalau Taman Mini saat ini sudah transformasi menjadi pusat kebudayaan dan juga showcase dari Indonesia secara miniatur. Karena memang disana akan ada banyak aktivitas kebudayaan, pertunjukan, teater, dan juga tari-tarian seperti Tari Kecak. Dan juga ada nanti anjungan-anjungan akan di revitalisasi sehingga memberikan pengalaman yang lebih berharga, bermakna mengenai bagaimana mengenal kebudayaan Indonesia dalam satu kompleks Taman Mini itu sendiri," ungkapnya.
Dia menegaskan, keberhasilan transformasi tersebut juga membutuhkan dukungan dari masyarakat dan wisatawan untuk menjaga kelestarian situs warisan budaya. Para pengunjung yang ingin naik ke struktur candi misalnya, diwajibkan melakukan reservasi serta menggunakan alas kaki khusus atau upanat sebagai bagian dari upaya pelestarian.
"Tujuannya adalah untuk memberikan pengalaman yang lebih berharga dan bermakna ke depannya," katanya.
"Tentunya kami juga memohon dukungan dari masyarakat, tetap berbondong-bondong datang ke destinasi wisata, tetapi mohon aturan-aturan yang sudah ada di dalam Candi, yang diterapkan di sana itu untuk dipatuhi, jangan dilanggar. Karena itu nanti sedikit banyak akan membawa kebaikan buat kita semua ke depan. Karena destinasi harus kita jaga pelestariannya," ucap Yudhistira menambahkan.
Lebih jauh, InJourney juga menargetkan terciptanya ekosistem pariwisata yang terintegrasi melalui konsep seamless experience bagi wisatawan. Dalam ekosistem tersebut, wisatawan dapat menikmati perjalanan yang saling terhubung mulai dari transportasi udara, destinasi wisata, perhotelan, hingga ritel yang menjual produk UMKM.
"Tetapi ekosistem ini tidak akan berjalan, tidak akan optimal, kalau tidak ada dukungan dari para stakeholders, khususnya wisatawan itu sendiri. Sehingga kami mengajak dalam hal ini, ayo kita berwisata di Indonesia, mari kita berlibur di Indonesia saja, kita ramaikan destinasi-destinasi wisata yang ada, dan mari kita galakan kembali dunia para wisata di Indonesia," ucapnnya.
Momentum Lebaran Jadi Peluang Kunjungan Wisata
Seiring dengan transformasi tersebut, InJourney juga memanfaatkan momentum libur Lebaran sebagai ajang menghadirkan berbagai pengalaman wisata baru yang selaras dengan konsep pengembangan destinasi yang tengah dilakukan. Direktur Komersial InJourney Destination Management, Gistang Panutur menyampaikan, bahwa InJourney melihat momentum libur Lebaran sebagai salah satu periode penting bagi sektor pariwisata domestik.
Pihaknya menghadirkan acara 'Lebaran di Candi' untuk memadukan momen silaturahmi dengan pengalaman rekreasi keluarga. Menurut dia, tren wisata saat ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak hanya mencari hiburan, tetapi juga pengalaman yang lebih bermakna.
"Pengunjung datang ke tempat destinasi kami, merasa aman, nyaman dan juga lebih dari itu mereka juga akan memiliki pengalaman-pengalaman yang lebih bermakna tadi. Makanya kami hadirkan berbagai macam program yang menyasar ke berbagai segmen dari para wisatawan sehingga mereka lebih datang ke tempat destinasi kami, mereka bisa merasakan makna lebih lagi pada saat hiburan," ujarnya.
Selain aktivitas hiburan, kawasan Prambanan juga menghadirkan kembali Pasar Medang, sebuah konsep ruang kuliner yang memadukan produk UMKM dengan pertunjukan budaya. Menurut Gistang, Pasar Medang telah menjadi salah satu identitas kuliner di kawasan Prambanan yang memadukan makanan, budaya, serta hiburan dalam satu ruang interaksi.
"Di Candi Prambanan pengunjung bukan hanya berfoto dengan latar candi, tetapi juga merasakan pengalaman kuliner dan budaya yang khas," ujarnya.

5 hours ago
5
















































