Syed Muhammad Naquib al-Attas dan Falsafah Sejarah Islam di Alam Melayu

3 hours ago 1

Oleh: PROF DR WAN MOHD NOR WAN DAUD, Direktur Center for Advanced Studies on Science, Islam, and Civilizasions (CASIS) Universitas Teknologi Malaysia, Kuala Lumpur

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ada kalanya sejarah tidak sekadar menghadirkan masa lalu sebagai rangkaian peristiwa, tetapi sebagai cermin yang memantulkan makna hidup sebuah bangsa. Tanpa kesadaran sejarah, manusia mudah terjebak dalam rutinitas zaman tanpa mampu menilai arah peradaban yang sedang dibangunnya.

Sejarah, dalam pengertian yang lebih dalam, bukan sekadar kumpulan fakta, melainkan usaha intelektual untuk memahami hakikat perjalanan manusia, nilai-nilai yang membentuknya, serta tujuan yang hendak dicapainya. Dalam tradisi intelektual Islam kontemporer, hanya sedikit sarjana yang berusaha mengangkat sejarah ke tingkat pemikiran yang demikian mendalam.

Di antara nama yang sering disebut dalam bidang ini adalah almarhum Malek Bennabi dari Aljazair dan Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib al-Attas. Banyak penulis sejarah yang mengumpulkan data dan peristiwa masa lampau, tetapi hanya sedikit yang mencoba merumuskan falsafah sejarah secara sistematis dan kreatif. Dalam pandangan banyak pengkaji, al-Attas memiliki keluasan pemikiran yang lebih komprehensif, baik dari segi kerangka filosofis maupun metodologinya, khususnya dalam memahami sejarah Islam di Alam Melayu.

Kepeloporan pemikiran al-Attas kembali ditegaskan melalui karya pentingnya, Historical Fact and Fiction yang diterbitkan oleh Universiti Teknologi Malaysia pada 2011. Buku ini merupakan hasil pemikiran yang matang setelah lebih dari empat dekade beliau menekuni kajian sejarah Melayu secara tekun dan konsisten. Dalam karya tersebut, al-Attas memperlihatkan bagaimana falsafah sejarah tidak dapat dilepaskan dari pandangan alam Islam (worldview) dan epistemologi yang lahir darinya.

Dalam kerangka keilmuan Islam, sumber pengetahuan tidak terbatas pada pengalaman empiris semata. Islam mengakui tiga saluran utama ilmu pengetahuan, yaitu pancaindra yang sehat, akal yang benar, serta laporan yang sahih (khabar shadiq). Prinsip ini telah dirumuskan secara sistematis oleh ulama klasik seperti Abu Hafs Najmuddin al-Nasafi pada abad ke-12 dan menjadi fondasi pemikiran akidah yang diajarkan di dunia Islam, termasuk di Alam Melayu selama berabad-abad.

Sebagai seorang sarjana yang berakar kuat dalam tradisi Ahlus Sunnah wal Jamaah, al-Attas menerapkan kerangka epistemologi ini dalam pendekatan sejarahnya. Baginya, ilmu tidak boleh dipahami secara terpisah-pisah. Pendekatan ilmiah harus bersifat tauhid, yaitu mempersatukan berbagai dimensi pengetahuan dalam satu pandangan yang utuh tentang realitas.

Pandangan tersebut telah lama menjadi perhatian al-Attas. Dalam karya klasiknya, Islam dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu, ia menekankan pentingnya sejarah bagi kehidupan manusia. Ia mengutip sebuah ungkapan puitis yang menggambarkan nilai sejarah bagi peradaban: hati yang tidak menyimpan sejarah tidak akan mampu menilai kemuliaan hidup, sedangkan orang yang menjaga catatan masa lalu seakan memperoleh kehidupan baru berulang kali.

Pengalaman pribadi banyak sarjana juga menunjukkan betapa besar pengaruh intelektual al-Attas. Pada awal 1980-an, ketika melakukan penelitian di University of Chicago, al-Attas dikenal sebagai sarjana yang sangat tekun dan mendalam dalam penelitiannya. Bahkan seorang pemikir besar seperti Fazlur Rahman pernah menyebutnya sebagai seorang genius setelah membaca karya-karyanya, termasuk Islam and Secularism dan The Concept of Education in Islam.

Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |