REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pergeseran perilaku konsumen, khususnya generasi muda, mulai mengubah struktur industri kecantikan nasional. Permintaan terhadap produk yang aman, transparan, dan ramah lingkungan mendorong pelaku usaha meningkatkan standar produksi sekaligus menambah kebutuhan investasi.
Konsumen kini tidak lagi sekadar mencari hasil akhir, tetapi juga memperhatikan asal bahan, proses produksi, hingga dampaknya terhadap lingkungan. Perubahan ini membuat persaingan industri tidak lagi hanya bertumpu pada merek dan pemasaran, melainkan pada kemampuan riset dan pengembangan produk.
Forum Future Beauty Talk 4.0 yang digelar Martha Tilaar Group melalui PT Cedefindo pada Kamis (30/4/2026) menilai tren tersebut sebagai fase baru industri kecantikan, di mana sains dan keberlanjutan menjadi faktor utama daya saing.
President Director PT Cedefindo, Kilala Tilaar, mengatakan industri ke depan akan semakin bergantung pada inovasi berbasis riset. “Ke depan, industri ini tidak hanya berbicara tentang produk, tetapi juga tentang sains, keberlanjutan, dan bagaimana memahami kebutuhan konsumen secara lebih holistik,” ujarnya, dikutip dari keterangan tertulis yang diterima Sabtu (2/5/2026).
Seiring itu, tren global bergeser dari natural beauty menuju ethical beauty. Pergeseran ini meningkatkan standar industri sekaligus memperbesar kebutuhan investasi pada pengujian keamanan, sertifikasi, dan teknologi produksi.
Indonesia dinilai memiliki peluang besar di tengah perubahan tersebut. Kekayaan biodiversitas membuka ruang pengembangan bahan baku alami bernilai tinggi yang dapat diolah melalui pendekatan bioteknologi untuk masuk ke pasar global.
Namun, peluang ini diiringi tantangan. Tidak semua pelaku usaha memiliki kapasitas riset dan pendanaan yang memadai untuk mengikuti perubahan. Kebutuhan investasi yang meningkat berpotensi memperlebar kesenjangan antara pelaku industri besar dan kecil.
Dalam kondisi ini, kolaborasi menjadi faktor penting. Model manufaktur berbasis kontrak yang terintegrasi dengan riset mulai berkembang untuk membantu pelaku usaha menyesuaikan diri dengan standar baru tanpa harus membangun seluruh infrastruktur dari awal.
Di sisi lain, dorongan penggunaan bahan baku lokal mulai menguat sebagai upaya memperkuat rantai pasok domestik dan mengurangi ketergantungan impor.

2 hours ago
2

















































