Sultan HB X: DIY Hidup Berdampingan dengan Bencana, Kesiapsiagaan Harus Jadi Budaya

8 hours ago 5

REPUBLIKA.CO.ID, SLEMAN - Peringatan 20 tahun gempa besar Yogyakarta 2006 menjadi momentum refleksi penting bagi pemerintah dan masyarakat DIY untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi ancaman bencana di masa depan. Di tengah potensi gempa megathrust di selatan Jawa, Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X menegaskan bahwa kesiapsiagaan tidak boleh hanya hadir saat bencana terjadi, tetapi harus menjadi budaya hidup sehari-hari.

Pesan Sultan itu disampaikan melalui sambutan yang dibacakan Sekretaris Daerah DIY, Ni Made Dwipanti Indrayanti, dalam agenda peringatan dua dekade gempa Jogja di kompleks Candi Prambanan, Sabtu (23/5/2026).

"Budaya Jawa mengajarkan eling lan waspada, sadar terhadap keadaan, waspada terhadap kemungkinan, dan tetap menjaga harmoni hidup. Dalam semangat Hamemayu Hayuning Bawono, menjaga keselamatan manusia dan lingkungan adalah bagian dari tanggung jawab moral kita semua," demikian pesan Sultan yang dibacakan Sekda DIY.

Sultan menekankan DIY hidup berdampingan dengan berbagai ancaman bencana mulai dari gempa bumi, erupsi Merapi, banjir, tanah longsor, kekeringan, cuaca ekstrem hingga potensi tsunami di wilayah selatan. Karena itu, masyarakat diminta tidak memandang bencana sebagai peristiwa yang jauh atau sesekali datang.

"Di DIY, kita hidup berdampingan dengan ancaman gempa bumi, erupsi merapi, banjir, tanah longsor, kekeringan, cuaca ekstrem hingga potensi tsunami di wilayah Selatan. Karena itu kita tidak boleh memandang bencana sebagai peristiwa yang jauh, asing atau sesekali datang. Bencana adalah bagian dari realitas ruang hidup kita," katanya.

"Memori gempa Jogja harus berubah menjadi kebijakan. Mari kita jadikan kesiapsiagaan sebagai budaya hidup sehari-hari," pesan Sultan HB X.

Adapun kesiapsiagaan ini tidak hanya soal evakuasi saat darurat, tetapi mencakup ekosistem yang lebih luas, mulai dari infrastruktur aman bencana, sistem peringatan dini, pendidikan kebencanaan sejak dini, hingga penguatan desa tangguh bencana dan komunitas relawan. Ni Made juga mengingatkan pentingnya koordinasi lintas instansi sebelum kondisi darurat terjadi. Peralatan kebencanaan yang dimiliki disebut harus benar-benar siap digunakan dan dioperasikan personil yang kompeten. 

"Alat yang lengkap tanpa kemampuan operasi hanya akan menjadi benda mati. Sebaliknya, personil yang terlatih, peralatan yang siap, dan prosedur yang jelas akan menjadi kekuatan penyelamatan," katanya.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |