Studi Ungkap Muka Laut Pernah Naik 38 Meter dalam Sekejap, Alarm Krisis Iklim

1 week ago 12

TEMPO.CO, Jakarta - Sebuah studi yang diterbitkan dalam jurnal Nature belakangan mengungkap kenaikan permukaan laut hingga 38 meter pada awal zaman Holosen, atau sekitar 11.700 tahun lalu. Penelitian itu menunjukkan respons lautan terhadap pencairan lapisan es di masa lalu dan dampaknya terhadap krisis iklim modern.

Riset ini dipimpin oleh para peneliti dari Deltares, Universitas Utrecht, dan Institut Penelitian Laut Kerajaan Belanda (NIOZ). Mereka menemukan bahwa permukaan laut tidak naik secara bertahap, namun sempat mendadak melonjak sehingga mengubah lanskap keseluruhan. Salah satu wilayah yang terdampak adalah Doggerland, daratan penghubung Inggris dengan Eropa daratan yang pada zaman ini sudah tenggelam di bawah Laut Utara.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Dengan menganalisis lapisan gambut kuno dan sampel bor dari dasar laut, para peneliti berhasil merekonstruksi perubahan permukaan laut dengan tingkat presisi tinggi. Mereka mengidentifikasi dua lonjakan besar yang terjadi sekitar 10.300 tahun silam, serta pada 8.300 tahun lalu. Para periode tersebut, air laut naik dengan kecepatan lebih dari satu meter per abad, sebanding dengan skenario terburuk proyeksi perubahan iklim saat ini.

Salah satu penyebab utama kenaikan air laut ini adalah peristiwa drainase katastrofik dari Danau Agassiz–Ojibway, sebuah danau glasial besar di Amerika Utara. Ketika bendungan es-nya runtuh, air tawar dalam jumlah besar mengalir ke lautan, menyebabkan lonjakan permukaan laut tercepat dalam sejarah.

Peneliti juga menghapus efek penyesuaian isostatik glasial—fenomena di mana daratan perlahan bangkit kembali setelah tekanan es mencair—dari data yang dikumpulkan. Hasilnya, mereka mendapatkan gambaran yang lebih akurat mengenai jumlah air yang masuk ke lautan, termasuk soal durasi proses tersebut.

Dalam studi di jurnal Nature, total kenaikan permukaan laut diperkirakan mencapai 38 meter. Para ilmuwan juga menemukan bahwa efek termosterik—pemuaian air laut akibat pemanasan—turut berkontribusi terhadap kenaikan permukaan laut, meski bukan termasuk penyebab utama.

Marc Hijma, ahli geologi dari Deltares sekaligus penulis utama studi ini, menegaskan pentingnya temuan tersebut untuk memahami perubahan permukaan laut setelah zaman es terakhir. “Kami telah mengambil langkah penting untuk memahami kenaikan permukaan laut setelah zaman es terakhir,” ujarnya, dikutip dari Earth.com, Rabu, 26 Maret 2025.

Setelah mengolah data dari kawasan Laut Utara, para peneliti menguraikan interaksi kompleks antara lapisan es, iklim, dan permukaan laut. Dengan modal wawasan, regulator dianggap bisa mempersiapkan diri ldengan ebih baik untuk memitigasi perubahan iklim. “Misalnya melalui strategi adaptasi,” kata Hijma.

Panel Antarpemerintah tentang Perubahan Iklim (IPCC) mengingatkan bahwa permukaan laut dapat naik beberapa meter pada 2300 bila tren pemanasan global terus berlanjut. Beberapa proyeksi bahkan menunjukkan kenaikan lebih dari satu meter per abad, setara dengan kondisi di akhir zaman es.

Perbedaan utama masa lalu dan masa kini adalah adanya miliaran individu yang menghuni kawasan pesisir. Wilayah itu juga menjadi pusat industri dan ekonomi global. Jika skenario kenaikan permukaan laut yang serupa terjadi, kota-kota besar seperti New York, Miami, London, dan Shanghai bisa tenggelam. Bila hal itu terjadi, ada ratusan juta hingga miliaran orang yang berpotensi menjadi pengungsi iklim.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |