Dewan Keamanan Rusia: Tarif Baru AS Ancam Sistem Perdagangan Global

16 hours ago 4

TEMPO.CO, Jakarta - Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev pada Kamis menuturkan bahwa tarif baru yang diberlakukan oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump kepada hampir semua negara telah menjerumuskan sistem perdagangan global ke dalam situasi yang sangat menantang.

"Dampaknya akan berskala global. Rantai perdagangan lama akan terputus, tetapi rantai perdagangan baru akan muncul. Kami akan mengenakan tarif timbal balik (reciprocal tariff) terhadap barang-barang dari AS," tulis Medvedev di Telegram seperti dilansir Antara.

Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini

Medvedev juga mengungkapkan bahwa Rusia telah mempertahankan pembangunan yang kuat meskipun adanya sanksi yang dijatuhkan oleh AS dan Eropa terkait krisis Ukraina. "Ekonomi Rusia akan tumbuh sebesar 3 persen pada kuartal pertama 2025," kata Medvedev.

Presiden Trump mengecualikan empat negara, termasuk Rusia dan Korea Utara, dari kebijakan tarif impor yang baru.

“Kuba, Belarusia, Korea Utara, dan Rusia tidak termasuk dalam Perintah Eksekutif Tarif Resiprokal karena mereka sudah menghadapi tarif yang sangat tinggi dan sanksi yang telah kami jatuhkan sebelumnya menghalangi perdagangan dengan negara-negara itu,” kata seorang pejabat Gedung Putih yang berbicara secara anonim.

Trump, kata dia, baru-baru ini juga mengancam akan menjatuhkan sanksi berat terhadap Rusia.

Pengecualian terhadap Rusia menyulut kecaman di media sosial setelah Trump mengumumkan kebijakan tarif baru pada Rabu. Banyak netizen menuduh dia tunduk kepada Presiden Rusia Vladimir Putin.

Kebijakan AS yang baru itu menetapkan bahwa tarif impor minimum sebesar 10 persen akan diberlakukan. Besaran yang lebih tinggi dikenakan kepada negara-negara yang dianggap Trump sebagai pelanggar perdagangan “terburuk”.

Impor barang dari sekitar 60 negara akan dikenakan tarif di atas 10 persen, menurut seorang pejabat AS yang memberi pengarahan kepada wartawan secara anonim sebelum kebijakan baru itu diumumkan.

Sejumlah dokumen yang dibagikan kepada para wartawan menyoroti beberapa tarif resiprokal yang ditetapkan oleh presiden, termasuk tarif 34 persen terhadap barang dari Cina, 20 persen atas barang dari Uni Eropa, 46 persen atas barang Vietnam, dan tarif 44 persen atas impor dari Sri Lanka.

Turki termasuk di antara negara-negara yang akan dikenakan tarif sebesar 10 persen, bersama Inggris, Kenya, Islandia, Panama, Ethiopia, Lebanon, Togo, dan lainnya.

Pasar saham anjlok setelah kebijakan itu diumumkan. Investor khawatir tarif impor yang baru akan meningkatkan harga konsumen dan berpotensi menyeret AS ke dalam resesi.

Indeks Nasdaq yang didominasi saham teknologi telah merosot lebih dari 5,3 persen pada perdagangan menjelang siang, sementara indeks Dow Jones merosot lebih dari 3,3 persen.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |