KONDISI kekeringan ekstrem memiliki dampak yang jauh lebih luas lagi daripada tekanan terhadap stok pangan dan air bersih. Hasil studi dalam jurnal The Lancet Planetary Health mengaitkan periode kekeringan dengan risiko lain, seperti bertambahnya kekerasan pada remaja.
Penelitinya menganalisis data jangka panjang dari 20 ribu anak berusia 13 hingga 24 tahun di Zimbabwe, Mozambik, dan Lesotho, untuk melihat bagaimana perubahan iklim mempengaruhi stabilitas rumah tangga. Hasilnya menunjukkan bahwa tekanan ekonomi dan psikologis ini utamanya dipicu oleh gagal panen atau krisis air akibat kekeringan di wilayah tersebut.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Dalam penelitian itu terungkap pula bahwa akses terhadap sumber daya dasar menyusut sebab kekeringan, sehingga memicu ketegangan di tingkat rumah tangga yang merugikan generasi paling muda. “Kondisi ini menciptakan lingkungan yang tidak stabil sehingga memicu perilaku agresif atau tindakan kekerasan fisik,” kata penulis studi, Bothaina Eltigani, dikutip dari Earth, Jumat, 5 Juni 2026.
Bothaina menyebut, penyebab dari para remaja berada dalam posisi paling rentan karena mereka menjadi sasaran pelampiasan frustasi orang tua yang tertekan oleh kondisi lingkungan. Studi yang dilakukan oleh peneliti University of Oxford dan International Institute for Applied Systems Analysis ini membeberkan pula bahwa 46 persen dari subjek penelitian tersebut menghadapi kekerasan seksual, dan 73 persen di antaranya kekerasan emosional.
Selain menyasar anak muda, penurunan kualitas hidup di lingkungan yang terdampak kekeringan juga mempengaruhi kesejahteraan mental orang dewasa secara keseluruhan. Tanpa dukungan psikososial yang memadai, siklus kekerasan ini berisiko terus berulang selama krisis lingkungan belum terselesaikan.
Hasil penelitian ini mendesak pemerintah yang di daerahnya rentan terhadap kekeringan untuk menyertakan aspek pelindungan anak dalam rencana mitigasi krisis iklim. Menurut penelitinya, kebijakan yang hanya fokus pada bantuan ekonomi dinilai tidak cukup untuk menekan angka kekerasan tanpa pendampingan kesehatan mental yang relevan.
















































