REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tekanan kerja yang semakin berat disebut mendorong sebagian pekerja Gen Z dan zillennial (generasi peralihan antara gencer asi milenial dan generasi Z) mengambil cara tidak biasa untuk menghadapi stres. Sejumlah karyawan bahkan memilih keluar kantor mereka selama jam istirahat untuk menyendiri atau menangis di tempat sepi.
Salah satu cerita yang viral datang dari Ben Sanderson. la mengeluarkan uang 15 dolar AS demi membeli tiket bioskop premium, tetapi bukan untuk menonton film. Sanderson justru datang untuk tidur di atas sofa bed bioskop. Setelah bangun, ia mengaku merasa seperti mendapatkan energi baru sebelum kembali ke meja kerjanya.
"Saya mengalami salah satu tidur siang terbaik dalam hidup saya," kata Sanderson dilansir laman Fortune, Jumat (31/7/2026).
la menyebut bioskop sebagai tempat sempurna untuk tidur siang di New York, terutama bagi pekerja komuter yang tinggal terlalu jauh dari kantor. Cerita tersebut kemudian ia unggah ke TikTok dan ditonton lebih dari satu juta kali. Banyak pengguna lain ikut membagikan lokasi favorit mereka untuk beristirahat dari tekanan pekerjaan.
Seorang pengguna TikTok bahkan membagikan daftar tempat di New York yang dianggap cocok untuk menangis diam-diam selama jam istirahat kerja. Daftar tersebut mencakup sejumlah stasiun kereta bawah tanah, Williamsburg Bridge, hingga ruang ganti Zara di kawasan Soho.
"Kamu bisa merasa aman kehilangan kendali di sana," tulis akun @posh_vip.
Meski disampaikan dengan nada bercanda, fenomena tersebut menggambarkan masalah yang lebih besar. Sebuah survei di Inggris pada 2025 menemukan bahwa sekitar 40 persen pekerja Gen Z yang baru memasuki dunia kerja pernah mempertimbangkan untuk mengundurkan diri dalam tahun pertama mereka bekerja. Selain karena tekanan kerja, lingkungan kerja yang toksis menjadi alasan di balik keinginan resign tersebut.
Sebuah laporan yang dirilis Fortune menyebut lebih dari 208 juta konflik di tempat kerja terjadi setiap hari di lingkungan kerja Amerika Serikat pada kuartal pertama 2025. Sementara itu, survei Resume Now menemukan bahwa 61 persen karyawan mengaku pernah disalahkan atas kesalahan yang sebenarnya dilakukan oleh orang lain di tempat kerja.
Di sisi lain, perkembangan teknologi kecerdasan buatan (Al) juga meningkatkan rasa tidak aman di kalangan pekerja muda terutama Gen Z. Sebuah laporan pada April mengungkap adanya peningkatan upaya dari karyawan untuk menghambat penerapan Al di perusahaan.
Dalam laporan Fortune, 29 persen pekerja yang disurvei mengaku pernah mengganggu penerapan strategi Al perusahaan mereka. Angka tersebut lebih tinggi di kalangan pekerja Gen Z yaitu mencapai 44 persen.
"Sebanyak 29 persen karyawan, termasuk 44 persen dari Gen Z, mengaku menyabotase strategi Al perusahaan mereka. Sebanyak 76 persen eksekutif tingkat C-suite mengatakan sabotase oleh karyawan menjadi ancaman serius bagi masa depan perusahaan," demikian isi laporan tersebut.

3 hours ago
2













































