CANTIKA.COM, Jakarta - Stroke masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia. Menurut data WHO tahun 2020, lebih dari 357 ribu orang meninggal setiap tahunnya akibat stroke, atau ekuivalen dengan satu dari lima kematian nasional, bahkan tingkat mortalitasnya mencapai 178,3 per 100.000 penduduk dan menempatkan Indonesia di peringkat ke-11 tertinggi di dunia. Angka tersebut pun menunjukkan bahwa beban stroke di Indonesia masih sangat besar dan menjadi tantangan serius bagi sistem kesehatan.
Sayangnya di tengah kenyataan tersebut, banyak masyarakat yang masih meremehkan gejalanya, mulai dari pusing mendadak, senyum yang tiba-tiba tidak simetris, kelemahan pada tangan, hingga penglihatan yang kabur. Tak hanya itu, banyak yang menganggap tanda tersebut sebagai kelelahan biasa, padahal setiap menit tanpa penanganan medis berarti jutaan sel otak berpotensi rusak secara permanen.
Menurut dr. Riski Amanda, Sp.N, FINA, Spesialis Neurologi Neurointervensi di Primaya Hospital PGI Cikini, waktu adalah faktor penentu. Dalam pernyataan tertulis yang diterima Cantika, ia menegaskan bahwa terdapat fase emas atau golden period selama 4,5 jam sejak gejala pertama muncul dan jika pasien datang ke rumah sakit dalam rentang waktu tersebut, peluang pulih tanpa kecacatan dapat meningkat secara signifikan. Ia juga menambahkan bahwa stroke bukan hanya penyebab utama kecacatan di Indonesia, tetapi juga di dunia.
Kombinasi Berbagai Faktor Risiko
Stroke dapat terjadi karena kombinasi berbagai faktor risiko, ada faktor yang tidak dapat dikendalikan, seperti usia, jenis kelamin, dan riwayat keluarga. Namun seiring bertambahnya usia, risiko stroke pun meningkat. Pria memiliki kecenderungan mengalami stroke pada usia lebih muda, namun perempuan sering mengalami stroke di usia lebih lanjut dengan kondisi yang lebih berat. Di sisi lain, terdapat faktor risiko yang dapat dikendalikan seperti hipertensi, kolesterol tinggi, diabetes, kebiasaan merokok, obesitas, pola makan tidak sehat, kurang aktivitas fisik, penyakit jantung, hingga konsumsi alkohol berlebihan. Dengan mengenali dan mengelola faktor-faktor tersebut, risiko stroke sebenarnya dapat ditekan secara signifikan.
Untuk mempermudah masyarakat mengenali tanda-tanda awal stroke, istilah FAST digunakan sebagai panduan sederhana. Pertama, face drooping menggambarkan kondisi wajah yang tiba-tiba menurun atau tidak simetris saat tersenyum. Kedua, arm weakness yaitu menunjukkan ketidakmampuan mengangkat satu lengan akibat kelemahan mendadak. Tanda selanjutnya adalah speech difficulty yang ditandai dengan ucapan yang pelo atau sulit dimengerti.
Waktu pun menjadi pengingat bahwa jika salah satu tanda ini muncul, waktu tidak boleh terbuang dan pasien harus segera dibawa ke rumah sakit. Gejala stroke pun tidak selalu muncul lengkap dan terkadang hanya berupa pusing hebat, penglihatan mendadak buram, atau kelemahan ringan pada satu sisi tubuh, karena itu, tindakan cepat sangat diperlukan.
Waktu Terjadinya Stroke
Secara medis, stroke terjadi ketika aliran darah ke otak terhenti, baik karena sumbatan atau pecahnya pembuluh darah. Sel otak sangat sensitif terhadap kekurangan oksigen dan mulai rusak dalam hitungan menit. Pada stroke iskemik, dokter dapat memberikan obat penghancur bekuan darah atau melakukan tindakan trombektomi mekanik untuk mengangkat sumbatan, namun prosedur tersebut hanya efektif jika diberikan pada fase emas.
Bagi pasien yang berhasil melewati fase akut, perjalanan pemulihan tidak berhenti begitu saja. Rehabilitasi menjadi tahap penting untuk mengembalikan fungsi tubuh dan kemampuan beraktivitas sehari-hari. Proses ini dapat mencakup fisioterapi, terapi wicara, hingga terapi okupasi, tergantung kondisi masing-masing pasien. Menurut dr. Riski, banyak pasien yang mengalami depresi setelah stroke karena merasa kehilangan kemampuan dan kemandiriannya. Namun, dengan dukungan keluarga, program terapi yang konsisten, dan pola hidup baru yang lebih sehat, banyak pasien yang dapat kembali produktif dan menikmati kualitas hidup yang lebih baik.
Pada akhirnya, stroke bukanlah kejadian yang datang tanpa tanda dan bukan pula takdir yang tidak dapat dicegah, dengan pemeriksaan kesehatan rutin, terutama bagi mereka yang berusia di atas 40 tahun, serta perubahan gaya hidup seperti mengendalikan tekanan darah, mengurangi konsumsi garam, berhenti merokok, aktif bergerak, dan menjaga pola makan sehat, risiko stroke dapat ditekan secara signifikan.
Pilihan Editor: 5 Gaya Hidup Sehat untuk Kurangi Risiko Stroke di Usia Muda
Halo Sahabat Cantika, Yuk Update Informasi Terkini Gaya Hidup Cewek Y dan Z di Instagram dan TikTok Cantika.














































