TEMPO.CO, Jakarta - Kepala Satgas Operasi Damai Cartenz Brigadir Jenderal Faizal Ramadhani mengatakan pertikaian antara dua kubu pendukung calon kepala daerah di Pilkada Puncak Jaya, Papua Tengah, menyebabkan 12 orang tewas. Belasan korban tersebut tewas dalam sejumlah bentrokan selama tiga bulan terakhir.
“Dari hasil pendataan, korban meninggal sebanyak 12 orang. Delapan di antaranya berasal dari kubu pasangan calon nomor urut 1,” kata Faizal melalui melalui keterangan tertulis, Sabtu, 5 April 2025.
Baca berita dengan sedikit iklan, klik di sini
Pilkada Kabupaten Puncak Jaya diikuti oleh dua pasangan calon, yaitu Yuni Wonda dan Mus Kagoya (nomor urut 1) dan Miren Kogoya dan Mendi Wonorengga (nomor urut 2).
Konflik antara kedua pendukung calon Bupati Puncak Jaya ini memuncak setelah Mahkamah Konstitusi mengabulkan permohonan pasangan calon nomor urut 1, Yuni Wonda-Mus Kagoya. Dalam permohonannya, mereka menilai telah terjadi pelanggaran yang terstruktur, sistematis dan masif. Salah satunya yaitu dugaan sabotase dalam penyebaran logistik oleh pasangan calon nomor urut 2 di empat distrik.
Atas permohonan tersebut, MK memerintah Komisi Pemilihan Umum melakukan rekapitulasi ulang. Mahkamah memerintahkan rekapitulasi ulang itu digelar di 22 distrik di Puncak Jaya.
Sebelum hasil Pilkada Puncak Jaya ini disengketakan, pasangan calon nomor urut 2, Miren Kogoya dan Mendi Wonerengga, meraup 111.079 suara atau unggul 25.277 atas pesaingnya.
Selain belasan korban tewas, Faizal mengatakan bentrokan tersebut menyebabkan 658 orang luka-luka. Rinciannya, 423 korban luka dari pendukung paslon 01 dan 230 korban luka dari pihak pendukung paslon 02.
Dia mengatakan pertikaian itu juga menimbulkan kerugian material juga tercatat cukup besar. Sebanyak 201 bangunan terbakar, terdiri dari 196 unit rumah warga, satu bangunan sekolah (SD Pruleme Belakang Toba Jaya), satu kantor balai kampung Trikora, satu kantor distrik Irimuli, satu kantor Partai Gelora, serta satu kantor balai desa Pagaleme.
Faizal juga mengatakan pertikaian dua kubu calon kepala daerah Puncak Jaya ini turut dimanfaatkan oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB). Dia mengatakan sejumlah korban tewas diduga ditembak oleh KKB. “Mereka memanfaatkan situasi politik di tengah pelaksanaan Pilkada. Ini menjadi perhatian serius kami, karena KKB sengaja memanfaatkan situasi konflik untuk melancarkan aksinya,” kata dia.