KEGIATAN belajar mengajar di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN) 1 Soreang, Kabupaten Bandung, kembali normal, Selasa, 28 April 2026, setelah sehari sebelumnya sekitar pukul 15.00 WIB diterpa angin puting beliung yang disertai hujan deras.
Terjangan puting beliung itu membuat plafon dua kelas ambrol hingga melukai siswa saat belajar. “Siswa yang luka ringan enam orang, satu orang lagi shock,” kata guru sekaligus staf hubungan masyarakat SMKN 1 Soreang M. Arif Budiman kepada Tempo, Selasa.
Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca
Siswa korban dilaporkan mengalami luka lecet di tangan. Mereka terkena reruntuhan plafon yang seketika jatuh bersamaan di dua ruang kelas yang bersebelahan. Satu kelas saat itu berisi 50 orang siswa kelas X jurusan perhotelan yang sedang belajar teori bersama seorang guru.
Sementara satu kelas sebelahnya dalam keadaan kosong tanpa aktivitas. “Siswa yang terluka ditangani oleh unit kesehatan sekolah, pulangnya diantar oleh guru,” ujar Arif.
Asep mengatakan sebelum plafon runtuh, sempat didahului oleh retakan dan bocor. Siswa dan guru saat itu telah berusaha mengevakuasi diri ke luar ruangan. Kebanyakan berhasil selamat, namun ada beberapa siswa yang sebelum keluar, mengambil tasnya dulu hingga kejatuhan plafon.
Kejadian menjelang waktu pulang sekolah yang tidak terduga itu muncul ketika turun hujan deras selama sekitar satu jam. Sementara angin puting beliung berlangsung sekitar 15 menit. “Bergerak dari depan sekolah ke bagian tengah terus ke belakang tempat dua kelas yang rusak,” kata dia. Angin kencang itu juga merusak dan menerbangkan sebagian atap masjid sekolah yang berbahan baja ringan.
Bangunan kelas yang rusak tergolong baru dibangun. Dua kelas itu merupakan bagian dari total enam unit bangunan bantuan Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Ruangan kelas yang rusak sempat disegel oleh pita polisi namun kini telah dibuka. “Ruangan yang rusak sudah mulai diperbaiki oleh dinas,” ujarnya.
SMKN 1 memiliki enam jurusan, antara lain perhotelan, tata boga, teknik otomotif, dan teknik elektronika. Jumlah siswa per angkatan atau setiap tahun sebanyak 1.640-an orang. Jam sekolah dimulai pukul 06.30 WIB hingga 15.30 WIB.
Siswa yang ruangan kelasnya rusak sementara ini belajar di ruang kelas XII yang para siswanya telah lulus menunggu wisuda. “Mitigasi bencana ke depannya dikoordinasikan dengan kepolisian dan BPBD,” kata Arif.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung Uka Suska Puji Utama mengatakan siswa yang terdampak kejadian itu sebanyak enam perempuan dan satu laki-laki.
Menurutnya, di waktu yang sama di Desa Soreang ada 23 rumah warga yang juga terdampak angin kencang. “Dari laporan kepala desa sebagian besar kerusakan pada atap rumah, beberapa pohon juga tumbang,” katanya, Senin.


















































