
Oleh: Muhammad Riza Diponegoro*
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di suatu sudut sunyi Kota Koga, Prefektur Ibaraki, sebuah bangunan berarsitektur sederhana berdiri tegak. Dari kejauhan, ia tampak seperti rumah biasa di tengah permukiman Jepang yang rapi, dan memang begitulah ia harus terlihat.
Ketika waktu salat tiba, azan hanya berkumandang ke dalam, mengisi ruang-ruang di balik dinding, menyentuh telinga jamaah yang telah lebih dulu menunggu. Tidak ada pengeras suara yang menghadap ke luar, tidak ada suara yang menembus halaman untuk menyapa tetangga.
Di negeri yang masih memandang Islam sebagai minoritas kecil, di tengah budaya yang eksklusif dan harmoni sosial yang dijaga dengan sangat ketat, azan yang terdengar sampai ke luar dinding bisa menjadi gesekan yang tak perlu. Para pengurus masjid memahami ini, dan memilih jalan yang bijak: berdakwah dengan kehadiran, bukan dengan kebisingan.
Meski demikian, di dalam dinding itu, panggilan salat tetaplah lantang dan penuh ruh, memanggil jiwa-jiwa yang merindu kampung halaman. Itulah Masjid NU At-Taqwa, sebuah oase bagi para perantau Indonesia, dan saksi bisu perjuangan komunitas Nahdliyin di negeri orang.
Hari itu, 20 Juli 2021, bertepatan dengan gemerlap takbir Idul Adha 1442 Hijriah, masjid ini resmi dibuka. Bukan sekadar peresmian; ia adalah puncak dari mimpi yang telah lama diperjuangkan dalam diam.
Namun sebelum bicara soal papan dan rangka bajanya, ada sesuatu yang lebih penting untuk dipahami lebih dulu: masjid ini lahir dari dua unsur yang tak terpisahkan. Yang pertama adalah fisiknya, lahan dan bangunan yang ditemukan dengan susah payah oleh tangan-tangan yang tak menyerah.
Yang kedua, dan inilah yang sesungguhnya menghidupkan segalanya, adalah ruhnya: sebuah jamaah yang telah lebih dulu tumbuh, berdenyut, dan bercahaya jauh sebelum ada gedung yang bisa mereka sebut milik sendiri.
Islam di Negeri Sakura: Benih yang Tumbuh Perlahan
Sebelum memahami mengapa kehadiran Masjid NU At-Taqwa begitu bermakna, perlu kiranya kita melihat peta besar Islam di Jepang. Sejarah mencatat, kehadiran Islam di negeri Matahari Terbit ini mulai tampak pada akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20, melalui interaksi dengan pedagang dan intelektual dari dunia Muslim. Masjid Kobe, yang dibangun pada 1935, tercatat sebagai masjid pertama dan tertua di Jepang, kokoh berdiri bahkan setelah terjangan Perang Dunia II.
Gelombang besar Islam baru benar-benar terasa sejak pertengahan 1980-an, ketika imigran dan pelajar Muslim dari Indonesia, Pakistan, Bangladesh, dan Iran mulai berdatangan. Mereka berasimilasi, membangun komunitas, dan mendirikan masjid. Kini, berdasarkan riset Profesor Hirofumi Tanada dari Universitas Waseda, jumlah Muslim di Jepang mencapai sekitar 230.000 jiwa pada 2020, dan diperkirakan melonjak hingga lebih dari 360.000 orang pada akhir 2024, sebagian besar dari mereka adalah warga Indonesia.
Data Kementerian Kehakiman Jepang mencatat, jumlah penduduk asing di Jepang mencapai rekor tertinggi 3,76 juta orang pada akhir 2024. Di antara mereka, menurut data KBRI Tokyo per Juni 2024, terdapat sekitar 173.000 hingga 199.824 Warga Negara Indonesia (WNI), meningkat 34 persen hanya dalam setahun. Mayoritas dari WNI ini beragama Islam, menjadikan mereka kelompok imigran terbesar dari negara bermayoritas Muslim di Jepang.
Di tengah populasi yang terus bertumbuh inilah, kebutuhan akan ruang ibadah, pendidikan, dan identitas keagamaan menjadi semakin mendesak. Dan di Kota Koga, Ibaraki, kebutuhan itu akhirnya menemukan jawabannya.
Ruh yang Lebih Dulu Hadir: Majelis Taklim Sakai
Sebuah masjid yang besar tidak lahir dari beton dan baja saja. Ia lahir dari duka, dari doa, dan dari kerinduan yang bertahun-tahun tidak menemukan wadahnya.
Kisah ini bermula dari sebuah kehilangan. Wafatnya seorang rekan yang dicintai, Almarhum Ali Power, menjadi titik balik yang mengubah segalanya. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam di kalangan perantau Indonesia di Ibaraki, namun sekaligus menyalakan sesuatu yang jauh lebih besar dari kesedihan: sebuah tekad untuk terus berkumpul, terus berdoa, dan terus saling menguatkan.
Yasinan dan tahlilan untuk mendoakan almarhum pun digelar rutin. Awalnya sederhana, di warung-warung kecil milik warga Indonesia dan di apartemen sempit para pekerja magang yang nyaris tak cukup menampung tubuh, apalagi kerinduan.
Namun dari kesederhanaan itulah benih-benih persaudaraan tumbuh. Di tengah ruang yang sesak dan dinginnya malam Jepang, doa-doa dilantunkan dengan aksen Jawa, Sunda, dan Indonesia, sebuah mozaik suara dari kampung halaman yang menyatu dalam rindu yang sama. Dari duka, lahirlah jamaah. Dari doa-doa yang tulus, terbentuklah kekuatan.
Perlahan, kegiatan berpindah ke tempat yang lebih luas: ke pabrik-pabrik tempat orang Indonesia bekerja dan berkumpul. Salah satu yang paling setia membuka pintu adalah pabriknya Pak Supri (Supriyono), tempat yang kemudian menjadi saksi bagaimana tradisi berkumpul semakin mengakar. Di sanalah jamaah mendapat ruang yang lebih leluasa, dan di sanalah ikatan persaudaraan itu semakin erat. Dan ketika bulan Ramadan tiba, jamaah membludak, ruang pabrik pun tak lagi cukup. Dari situlah kesadaran itu mengkristal: komunitas ini butuh rumah yang sesungguhnya.
Jauh sebelum ada lahan, sebelum ada nama resmi, sebuah komunitas bernama Majelis Taklim Sakai telah lebih dulu menjadi tulang punggung perjuangan ini. Di antara tokoh-tokoh yang merintisnya, ada Pak Ismail bersama Pak Supri, dua sosok yang setia membangun tradisi pengajian dari bawah, dari duka menjadi doa, dari doa menjadi gerakan. Bersama para jamaah lainnya, mereka bergerak dengan satu keyakinan: bahwa berjamaah adalah kekuatan yang tak bisa dipadamkan oleh jarak maupun dinginnya cuaca Jepang.
Perlahan namun pasti, Majelis Taklim Sakai menginisiasi pendirian Musholla At-Taqwa di daerah Bando, sebuah langkah sederhana namun penuh makna. Untuk pertama kalinya, ada ruang yang bisa benar-benar disebut tempat ibadah, tempat yang tidak perlu dikembalikan esok paginya. Pengajian rutin yang selama ini nomaden kini punya alamat tetap.
Di sinilah kemudian berbagai kegiatan digelar. Khotmil Quran di bulan Ramadan mengharukan hati para perantau yang rindu lantunan ayat di tanah air. Santunan anak yatim di Indonesia pun diorganisir dari jauh, bekerja sama dengan Gerakan Pemuda (GP) Ansor Jepang, bukti nyata bahwa meski ribuan kilometer dari kampung halaman, kepedulian sosial tidak ikut bermigrasi.
Kabar tentang musholla yang kian ramai ini menyebar. Dan di sinilah cerita dua majelis bertemu.
Majelis Al-Multazam, yang dipimpin oleh Mas Haikal dan Mang Ujang, pun bergabung. Dua majelis dengan latar belakang dan jalur yang berbeda, kini berpadu dalam satu tekad: memperkuat komunitas Muslim Indonesia di Jepang. Kehadiran Majelis Al-Multazam membawa energi baru, lebih banyak jamaah, lebih beragam kegiatan, dan lebih besar mimpi yang ingin diperjuangkan bersama.
Pertanda pertama dari besarnya jamaah yang telah terhimpun datang lebih awal dari yang diperkirakan. Ketika Salat Idul Fitri pertama kali diselenggarakan di Musholla At-Taqwa Bando, jumlah jamaah yang hadir ternyata meluap jauh melebihi kapasitas ruangan. Panitia pun mengambil keputusan cepat: salat harus digelar dua gelombang. Bukan masalah, bukan keluhan, justru sebuah pertanda. Pertanda bahwa ruh jamaah ini terlalu besar untuk terus-menerus tinggal di tempat yang terlalu kecil. Pertanda bahwa sudah waktunya bermimpi lebih besar.
Kedua majelis inilah, Majelis Taklim Sakai dan Majelis Al-Multazam, yang hingga hari ini menjadi dua pilar penyangga kehidupan jamaah Masjid NU At-Taqwa. Mereka adalah tulang punggung yang tidak selalu terlihat dari luar, tetapi terasa di setiap sudut masjid yang kini berdiri megah.
Disclaimer: Pandangan yang disampaikan dalam tulisan di atas adalah pendapat pribadi penulisnya yang belum tentu mencerminkan sikap Republika soal isu-isu terkait.

2 hours ago
6

















































