PLTU Jadi Penyebab Pemulihan Listrik Sumatera Lambat

4 hours ago 1

WAKIL Kepala Badan Reserse Kriminal Polri Inspektur Jenderal Nunung Syaifuddin menyampaikan kabar terbaru setelah peristiwa padam listrik massal (blackout) di sejumlah wilayah Sumatera pada Jumat, 22 Mei 2026. Ia memastikan sistem kelistrikan di Sumatera kini telah pulih sepenuhnya.

“Berdasarkan keterangan resmi dari PT PLN, pasokan listrik di seluruh wilayah Sumatera telah kembali normal 100 persen serta beroperasi dengan aman dan stabil,” kata Nunung dalam konferensi pers di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta, Senin, 25 Mei 2026.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Transmisi PLN Edwin Nugraha Putra mengatakan pemulihan sistem kelistrikan di Sumatera berlangsung secara bertahap. Menurut dia, proses itu dipengaruhi kondisi sistem transmisi serta perbedaan jenis pembangkit di daerah terdampak.

Edwin menjelaskan, dua jam setelah kejadian, PLN memeriksa sistem transmisi melalui Gardu Induk Tegangan Ekstra Tinggi (GITET). “Ketika sistem transmisi normal, berikutnya kami beralih ke sistem pembangkitan,” ujarnya.

Ia mengatakan setiap jenis pembangkit membutuhkan waktu berbeda untuk kembali beroperasi. Setiap pembangkit, kata dia, memiliki kecepatan respons yang berbeda.

Pada tahap awal, Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) dan Pembangkit Listrik Tenaga Gas (PLTG) menjadi pembangkit yang paling cepat dinyalakan kembali. Pembangkit jenis ini memiliki kemampuan black start, yakni kemampuan menyala sendiri menggunakan bahan bakar yang tersedia tanpa memerlukan pemicu listrik dari luar.

Karena itu, listrik di wilayah yang menggunakan pembangkit jenis tersebut dapat kembali menyala dalam waktu 3 hingga 5 jam setelah sistem transmisi normal. Pembangkit itu juga langsung menyuplai sebagian kebutuhan (demand) listrik masyarakat. Beberapa wilayah yang menggunakan pembangkit jenis ini antara lain Banda Aceh, Titi Kuning di Medan, dan Riau.

Selanjutnya, PLN menyalakan Pembangkit Listrik Tenaga Gas dan Uap (PLTGU). Pembangkit jenis ini membutuhkan waktu 10 hingga 15 jam setelah sistem transmisi kembali normal. Menurut Edwin, PLTGU memiliki sistem yang lebih kompleks dibanding pembangkit diesel atau gas biasa karena harus menunggu proses pemanasan air hingga menjadi uap. Pembangkit jenis ini tersebar di Arun, Aceh; Belawan, Medan; dan Riau.

Tahap terakhir berlangsung di wilayah yang menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) berbahan bakar batu bara. “Yang lama adalah pembangkit-pembangkit PLTU yang tersebar di Aceh, Sumatera Utara, Jambi, dan Sumatera Selatan,” kata Edwin.

Ia menjelaskan, pembangkit jenis ini membutuhkan proses pembakaran batu bara untuk mendidihkan air hingga menghasilkan uap bertekanan tinggi yang mampu memutar turbin berukuran besar. Karena proses tersebut, listrik di wilayah dengan pembangkit PLTU baru pulih dalam waktu 20 hingga 30 jam.

Edwin menyampaikan permintaan maaf atas gangguan yang terjadi. Ia mengatakan pemadaman terakhir berlangsung pada Ahad, 24 Mei 2026, pukul 18.36 hingga 20.15. Menurut dia, seluruh pembangkit besar kini telah kembali masuk ke dalam sistem. “Insyaallah pada hari ini dan sore ini tidak ada lagi pemadaman di sistem Sumatera,” tutur Edwin.

Pilihan Editor: Polisi Evakuasi 2 WNI Korban Penganiayaan di Malaysia

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |