Warga Iran berkumpul di Lapangan Enqelab untuk menunjukkan dukungan kepada Pemimpin Tertinggi yang baru dilantik, Ayatollah Mojtaba Khamenei, di Teheran, Iran, 9 Maret 2026. Almarhum Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam operasi militer gabungan Israel dan AS di seluruh Iran pada dini hari tanggal 28 Februari 2026.
REPUBLIKA.CO.ID,TEHERAN — Pemimpin Tertinggi Iran yang baru saja ditunjuk, Mojtaba Khamenei, merilis pernyataan perdana yang menegaskan arah kebijakan Teheran di tengah kecamuk perang yang melanda Timur Tengah. Dalam pesan yang dibacakan melalui saluran Press TV pada Kamis (12/3/2026), Mojtaba menyerukan persatuan nasional dan menegaskan bahwa "arteri global" Selat Hormuz akan tetap ditutup untuk menekan musuh-musuh Iran.
Dalam pernyataan tersebut, Mojtaba meminta agar seluruh pangkalan militer AS di kawasan segera ditutup. Jika tidak, ia memperingatkan bahwa fasilitas-fasilitas tersebut akan terus menjadi target serangan. Meski menekankan keinginan Iran untuk bersahabat dengan negara-negara tetangga, ia menegaskan, operasi militer terhadap aset AS tidak akan berhenti.
Mojtaba juga menyinggung peran faksi-faksi perlawanan di kawasan. Ia menyebut kelompok bersenjata di Yaman (Ansarullah/Houthi) akan "menyelesaikan tugasnya", sementara kelompok-kelompok di Irak disebut sangat antusias untuk "membantu revolusi Islam."
"Saya ingin berterima kasih kepada para pejuang pemberani yang melakukan tugas luar biasa di saat negara kita berada di bawah tekanan dan serangan," ujarnya sembari berjanji bahwa Iran akan terus melawan untuk mencegah upaya pembagian wilayah atau dominasi asing.
Rumor cedera
Langkah Mojtaba ini dipandang oleh para analis sebagai upaya untuk mempertegas posisi Iran yang tidak akan tunduk pada tekanan Washington. Namun, analis Timur Tengah Zeidon Alkinani mencatat bahwa pidato tersebut tidak dibacakan langsung oleh Mojtaba sendiri, melainkan oleh pembaca berita.
Hal ini memicu spekulasi mengenai kondisi kesehatan sang pemimpin baru. Muncul rumor bahwa Mojtaba kemungkinan terluka atau bahkan ikut menjadi korban dalam perang yang sedang berlangsung. "Kondisi ini menciptakan banyak ketidakpastian mengenai legitimasi dan kemampuan Pemimpin Tertinggi untuk berdiri teguh menghadapi tantangan besar," ungkap Alkinani kepada Al Jazeera.
Pernyataan Mojtaba juga dinilai lebih keras ketimbang sikap Presiden Iran, Masoud Pezeshkian. Sehari sebelumnya, Pezeshkian sempat mengisyaratkan bahwa Iran bersedia mempertimbangkan penghentian perang jika syarat-syarat tertentu dipenuhi.
Fokus Mojtaba pada perlawanan bersenjata dianggap sebagai strategi untuk mengalihkan diskusi publik dari masalah fundamental dalam negeri, seperti reformasi ekonomi dan kesulitan hidup masyarakat yang sempat memicu protes besar pada Desember dan Januari lalu.

3 hours ago
1















































