Pernah Diremehkan, Alumni UBSI Solo Kini Raih Mimpi Jadi Programmer Diskominfo

2 hours ago 2

REPUBLIKA.CO.ID, SOLO - Tidak semua perjalanan menuju kesuksesan dimulai dari kondisi yang ideal. Hal ini tergambar jelas dari kisah Wahyu Tri Cahyono, alumni Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) Kampus Solo yang kini sukses berkarier sebagai programmer di Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Pemerintah Kabupaten Bantul.

Berasal dari keluarga sederhana di pelosok desa dengan kondisi ekonomi terbatas, Wahyu tumbuh dalam lingkungan yang penuh tantangan. Ia mengakui masa lalunya tidaklah mudah.

“Saya sempat berada di titik di mana saya merasa diremehkan dan jauh tertinggal dibandingkan orang lain karena latar belakang ekonomi keluarga. Rasanya seperti berjalan di tempat sementara orang lain sudah berlari jauh,” kata Wahyu.

Namun, pengalaman pahit tersebut justru menjadi titik balik yang membentuk mentalnya menjadi lebih kuat.

Memutus Rantai Keterbatasan dengan Mindset

Perubahan terbesar dalam hidup Wahyu dimulai dari pola pikir. Ia menyadari mengasihani diri sendiri tidak akan mengubah keadaan. Prinsip kemandirian yang ditanamkan oleh sang ayah menjadi jangkar utama dalam hidupnya.

“Bapak selalu menanamkan satu hal: jangan bergantung pada orang lain. Saya sadar, tidak ada yang bisa mengubah nasib saya selain kaki saya sendiri yang melangkah,” kata dia.

Dukungan emosional juga ia dapatkan dari ibunya, yang mengajarkan tentang empati dan kesabaran. “Ibu mengajari saya bahwa tidak apa-apa merasa sedih atau lelah, asalkan jangan menyerah. Nilai-nilai itu yang membuat saya tetap bertahan meskipun situasi sedang sangat sulit,” kata dia.

Kerja Keras Sejak Bangku Sekolah

Sejak duduk di bangku SMK, Wahyu sudah terbiasa bekerja serabutan demi menyambung hidup. Pengalaman ini menempanya menjadi pribadi yang tidak manja dan memiliki etos kerja tinggi. Ia tidak menunggu peluang datang mengetuk pintu, melainkan ia sendiri yang menciptakan pintu tersebut.

“Saya tidak punya kemewahan untuk sekadar menunggu kesempatan. Fokus saya adalah bekerja keras, konsisten, dan tidak membiarkan keterbatasan lingkungan mendikte masa depan saya,” kata Wahyu.

Melawan Batasan Diri

Menurut Wahyu, hambatan yang paling nyata sering kali bukan berasal dari luar, melainkan dari rasa takut di dalam diri sendiri. Ia menekankan pentingnya keberanian untuk mengambil langkah pertama, meski dalam keadaan yang belum sempurna.

“Musuh terbesar itu sebenarnya bukan orang yang meremehkan kita, tapi rasa ragu di dalam diri sendiri. Jika kita hanya diam menunggu kondisi siap, kita akan tertinggal. Dunia ini bergerak cepat dan tidak akan menunggu siapa pun,” kata dia.

Mengakhiri ceritanya, Wahyu memberikan dorongan semangat bagi para mahasiswa dan generasi muda agar lebih menghargai waktu. Ia berharap kisah hidupnya bisa memicu semangat mereka untuk berani keluar dari zona nyaman.

“Waktu kalian masih panjang, gunakanlah untuk mencoba hal baru dan mengasah keterampilan. Jangan hanya terjebak dalam rutinitas yang tidak menghasilkan apa-apa. Mulailah sekarang, karena jalan menuju sukses itu harus dijemput, bukan ditunggu,” ujarnya.

Kisah Wahyu Tri Cahyono membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi dan latar belakang sosial bukanlah penghalang untuk mencapai impian. Dengan mindset yang tepat, kerja keras, dan keberanian untuk memulai, setiap orang memiliki peluang yang sama untuk bersinar.

Keberhasilan Wahyu ini juga mencerminkan komitmen UBSI sebagai Kampus Digital Kreatif. UBSI terus berupaya mencetak lulusan yang tidak hanya unggul dalam penguasaan teknologi, tetapi juga memiliki karakter tangguh dan adaptif dalam menghadapi dinamika dunia kerja yang kompetitif.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |