REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran memasuki minggu ketiga dengan kedua belah pihak tetap mempertahankan posisi maksimalis. Eskalasi dimulai pada 28 Februari ketika AS dan Israel melancarkan serangan gabungan terhadap Iran, yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Teheran Ali Khamenei dan lebih dari 1.300 personel militer serta warga sipil.
Iran merespons dengan membombardir Israel, pangkalan‑pangkalan AS, dan sekutu‑sekutu Amerika di Teluk, termasuk infrastruktur sipil, menggunakan rudal dan pesawat tak berawak. Akibatnya, lalu lintas energi melalui Selat Hormuz terganggu, memicu ketidakstabilan pasar energi global.
Presiden Donald Trump menolak negosiasi gencatan senjata segera. Ia mengklaim bahwa Iran ingin gencatan senjata, tetapi AS belum siap menyetujuinya karena persyaratan yang tidak memadai.
Di sisi lain, Iran membantah mencari gencatan senjata. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut klaim bahwa Teheran mencari penyelesaian perang melalui negosiasi sebagai “khayalan”.
Dalam unggahan di media sosial, ia menegaskan, "Angkatan Bersenjata Kita yang Perkasa akan terus menembak sampai Presiden AS menyadari bahwa perang ilegal yang ia timpakan kepada rakyat Amerika dan Iran adalah salah dan tidak boleh diulangi lagi."
Analisis International Crisis Group (ICG)
Menurut Ali Vaez, Direktur Proyek Iran di International Crisis Group (ICG), konflik ini semakin menjadi perang yang tidak dapat dimenangkan secara mutlak oleh siapa pun, tetapi berpotensi merugikan semua pihak.
Dalam pernyataannya kepada TRT World, Vaez menekankan, "Gencatan senjata segera akan rapuh, tidak lengkap, dan tidak memuaskan secara politik, terutama karena akan meninggalkan pertanyaan‑pertanyaan tersulit yang belum terjawab, mulai dari masa depan nuklir Iran hingga arsitektur keamanan kawasan. Tetapi itu tetap merupakan langkah yang lebih bijaksana."
Laporan terbaru ICG mengungkapkan beberapa hal:
1. Narasi Washington (dan Israel) akan berfokus pada kerusakan yang ditimbulkan terhadap kemampuan nuklir, rudal, dan drone Iran.
2. Iran dapat menulis narasi kemenangan dengan menunjukkan ketahanan mereka dan menggoyahkan ekonomi dunia, menyampaikan pesan bahwa penderitaan akan meluas jika perang kembali terjadi.
3. Vaez berpendapat bahwa melanjutkan perang demi hasil yang lebih bersih sama sekali tidak ada.

3 hours ago
2















































