Pakar: Penangkapan Relawan Indonesia oleh Israel adalah Pelanggaran HAM Berat

2 days ago 12

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pakar hubungan internasional Universitas Indonesia (UI) Prof Heru Susetyo Nuswanto menilai, penangkapan sembilan orang aktivis dan jurnalis Indonesia oleh militer Israel sudah termasuk dalam kategori pelanggaran hak asasi manusia (HAM) berat.

Menurut dia, pasukan penjajah Israel jelas-jelas telah melakukan crimes against humanity. Terlebih lagi, lanjut Heru, penangkapan atas para relawan kemanusiaan Global Sumud Flotilla (GSF) 2.0 dilakukan di laut bebas atau international waters, yang bukan merupakan wilayah de facto Israel. Karena itu, tegas akademisi UI ini, entitas Zionis tersebut telah melanggar hukum internasional.

“Jelas pelanggaran karena mereka (para relawan) ditangkap di laut bebas, bukan laut teritorial Israel. Israel tidak punya kewenangan menangkap orang di international waters,” ujar Heru kepada Republika di Jakarta pada Jumat (22/5/2026).

Ia menjelaskan, kapal-kapal relawan yang bertujuan Jalur Gaza, Palestina, dicegat di kawasan perairan internasional dekat Siprus, beberapa waktu usai mereka bertolak dari pantai Turki. Usai kapal-kapalnya dicegat, para pejuang kemanusiaan ini kemudian diculik dan dibawa ke Ashdod, wilayah Palestina yang diduduki Israel.

“Dicegat dan diculik di tengah perjalanan menuju Gaza, lalu diseret ke Ashdod. Itu sudah pelanggaran hukum internasional,” ucap Heru.

Situasi tersebut semakin serius seiring dengan munculnya laporan bahwa seluruh relawan GSF 2.0 tersebut mengalami kekerasan. Heru menegaskan, Israel tidak memiliki dasar hukum untuk membawa paksa para relawan dan mengurung mereka dalam fasilitas penahanan.

“Jadi ini sudah berada di wilayah kejahatan HAM berat, dan crimes against humanity,” ujar Heru.

Menurut dia, pemerintah RI seharusnya mengambil langkah yang lebih aktif dan tegas dalam membela seluruh warga negara Indonesia (WNI) yang diculik Israel itu. Dalam pandangannya, respons pemerintah, termasuk Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) RI hingga saat ini masih terlalu "hati-hati."

“Saya melihat, justru masyarakat yang lebih bersemangat. Pemerintah memang membantu, tetapi kecamannya masih belum terlalu keras,” ujar dia.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |