REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Fenomena viralnya potongan video di media sosial kembali menjadi pengingat pentingnya literasi digital di tengah derasnya arus informasi yang tidak utuh.
Peneliti media sosial, Rizal Nova Mujahid, menilai praktik pemotongan konten yang menghilangkan konteks utuh merupakan pola klasik dalam distorsi informasi di ruang digital. Viralnya potongan video Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12, Jusuf Kalla, terkait isu SARA merupakan manipulasi konteks yang klasik. Yaitu, upaya 'dekonstektualisasi' dengan memotong video panjang menjadi pendek-pendek sehingga kehilangan konteksnya.
“Apa yang terjadi adalah video aslinya berdurasi panjang, kemudian dipotong-potong sehingga kehilangan konteks, baik secara historis maupun akademik,” ujarnya.
Menurut dia, potongan video yang beredar berisiko menimbulkan kesalahpahaman publik, terutama ketika dikaitkan dengan isu sensitif seperti agama.
Ia menjelaskan, pernyataan Jusuf Kalla yang disorot dalam video tersebut sejatinya merupakan refleksi historis terkait konflik di masa lalu, bukan ajakan atau pembenaran terhadap tindakan kekerasan.
“Dalam konteks aslinya, itu adalah penjelasan historis, tetapi ketika dipotong, maknanya bisa bergeser,” kata Rizal.
Lebih lanjut, ia melihat penyebaran konten tersebut berlangsung cepat dan luas di berbagai platform media sosial, sehingga berpotensi memperkuat persepsi yang tidak utuh di masyarakat.
Fenomena ini, menurutnya, memperlihatkan bagaimana dinamika ruang digital dapat mendorong pembentukan opini publik secara cepat, bahkan sebelum informasi diverifikasi secara menyeluruh.
Ia mengingatkan, tanpa kehati-hatian, kondisi tersebut dapat memicu polarisasi di tengah masyarakat.
“Ketika informasi yang beredar tidak lengkap, publik bisa terjebak dalam pembelahan opini yang tajam,” ujarnya.
Untuk itu, Rizal mendorong penguatan literasi digital, termasuk kebiasaan untuk melihat informasi secara utuh sebelum menarik kesimpulan.
Ia juga menekankan pentingnya peran pemeriksa fakta serta edukasi publik terkait cara kerja manipulasi konten di media sosial.
“Perlu ada kesadaran untuk tidak langsung bereaksi terhadap potongan informasi. Lihat secara utuh, pahami konteksnya,” jelasnya.
Selain itu, ia menilai dialog lintas kelompok dan penyampaian narasi yang utuh menjadi kunci untuk menjaga ruang publik tetap kondusif di tengah derasnya arus informasi digital.

1 hour ago
1














































