Menilik Sisi Gelap Ketergantungan AI di Lingkungan Kerja dan Akademik

10 hours ago 6

Image Alya Mukhbita

Teknologi | 2026-07-09 11:15:13

Image by ChatGPT

Banyak dari kita yang sudah terlanjur malas dan terjebak di comfort zone. Bukannya jadiin AI sebagai teman brainstorming buat nyari inspirasi baru, teknologi pintar ini malah dijadiin jalan pintas. Pokoknya prinsipnya itu yang penting tugas atau laporan beres secara instan tanpa perlu modal mikir keras.

Dari situlah muncul sebutan generasi plagiat instan. Begitu beres nanya ke AI, jawabannya langsung diambil mentah-mentah, tinggal copy-paste doang tanpa ribet. Sayangnya, banyak yang malas membaca ulang atau sekadar cross-check buat mastiin infonya beneran valid atau jangan-jangan cuma halusinasi si AI. Efeknya bisa terjadi daya kritis dan kemampuan kita buat nyelesain masalah pelan-pelan bisa tumpul.

Nah, yang paling bahaya itu kalau udah terlanjur nyaman sampai kebablasan. Banyak mahasiswa dan karyawan yang dengan santainya curhat dan masukin data pribadi yang super sensitif ke kolom chat AI, mulai dari strategi bisnis, sampai data pribadi. Kadang kita lupa atau bahkan ada yang gatau kalau apa pun yang diketik di sana bakal tersimpan dan dipakai buat ngelatih si mesin AI. Ujung-ujungnya malah bisa memicu kebocoran data yang ngerugiin diri sendiri atau tempat kerja.

Jadi intinya, walaupun AI emang bikin hidup kita jauh lebih gampang, kalau dipakainya berlebihan dan asal-asalan, teknologi ini malah bisa jadi bumerang. Ujung-ujungnya, kita cuma bakal terjebak jadi generasi yang malas mikir, kecanduan teknologi, dan gampang banget jadi korban kebocoran data.

Tren Jalan Pintas yang Bikin Malas

Generasi zaman sekarang sudah mulai malas baca buku teks yang tebal dan monoton, seperti buku nonfiksi. Mereka lebih memilih AI untuk membantu mereka dalam mengerjakan tugas atau kerjaan. Karena AI bisa membantu mereka tanpa harus mikir keras. Prof. Bagus Mulyadji seorang Associate Professor di Universitas Nottingham bilang bahwa generasi di zaman sekarang mempunyai kebiasaan buruk yang disebut postcolonial syndrome, yaitu mentalitas suka outsources pikiran alias pengen serba instan.

Ketergantungan akut sama AI secara nggak sadar ngebuat kita menyerahkan urusan berpikir kita ke algoritma yang dibuat oleh segelintir perusahan besar di Sillicon Valley. Prof. Bagus Mulyadji juga bilang bahwa di era teknologi sekarang, dunia bakal terbagi menjadi dua kelompok besar. Kelompok pertama adalah orang- orang yang bisa memanfaatkan dan mendikte AI untuk membantu pikiran mereka. Kelompok kedua adalah orang-orang yang cuma pasrah dan ketergantungan sama AI buat mikir. Jadi pilihannya cuma dua, yaitu kita yang menyetir teknologi tersebut atau kita yang bakal di setir dan menjadi korban lalu tergilas oleh zaman.

Budaya Asal Copy-Paste Tanpa Disaring Kembali

Tau nggak sih, kalo AI nggak benar-benar memahami kebenaran (faktual). AI itu mesin yang sangat jago membuat simulasi narasi atau karangan bebas yang kelihatan meyakinkan, ilmiah, dan menggunakan struktur bahasa yang rapi, padahal datanya bisa 100% ngaco atau hasil karangan bebas si robot.. Mereka hanya mencocokkan pola berdasarkan probabilitas matematika. Kata Prof. Bagus Mulyadji Biar kita nggak gampang ketipu, senjata utamanya adalah kemampuan berpikir analitis (analytical thinking). Jika kita menelan mentah-mentah jawaban itu tanpa cross-check, kita sedang menyebarkan hoaks atau kebohongan baru.

Nah, berpikir analitis itu ternyata erat banget hubungannya dengan kemampuan berbahasa. Kalau cara berbahasa kita aja masih ambigu dan nggak akurat, kita bakal gampang memaklumi kebohongan dan otomatis kemampuan logika kita ikutan tumpul. Tapi menurut Prof. Bagus Mulyadji, musuh terbesar sebenarnya adalah budaya feodalisme alias rasa takut terhadap hierarki struktural. Hierarki struktural itu sistem atau hubungan antara atasan dan bawahan atau guru/dosen dan murid. Dengan adanya jabatan ini orang yang posisinya dibawah sering kali nggak berani berpikir kritis karena takut dengan konsekuensinya, misalnya takut disuruh mengulang kembali atau diberi nilai jelek oleh orang yang posisinya diatas, seperti guru, dosen, atau atasan di kantor.

Kecerobohan Berbagi Data Rahasia ke Chatbot

Setiap kali kita mengetikkan sesuatu atau prompt yang kita beri, AI bakal bertindak seperti spons yang menyerap informasi tersebut untuk dijadikan bahan latihan (training data) bagi mesin mereka biar semakin pintar. Begitu data masuk, data itu menjadi milik sistem dan berpotensi dimunculkan lagi sebagai jawaban untuk pengguna lain diluar sana.

Pak Aiman hadir sebagai rekan diskusi Om Deddy dalam Podcast Close The Door, beliau merupakan Jurnalis Investigasi Senior dan Rekan Uji Coba Teknologi. Mereka menyoroti fenomena pekerja kantoran maupun mahasiswa yang saking pengen tugasnya cepet kelar, mereka tega memberikan data mentah yang super rahasia ke AI. Contohnya seperti mengunggah laporan keuangan kantor yang belum rilis, draf kode program (source code) aplikasi internal, strategi bisnis masa depan, sampai data riset sensitif kampus ke AI. Bahkan kita dengan polosnya memberikan data pribadi yang harusnya nggak diberikan karena itu bersifat privasi. Tujuannya sih sepele, cuma minta dibikinin kesimpulan atau dibetulin bahasanya. Tapi sadar nggak sih? itu yang membuat data rahasia kita bocor ke orang lain dan tanpa sepengetahuan kita.

AI itu cuma alat bantu, bukan pengganti otak kita. Jangan posisikan diri kita sebagai korban, melainkan jadilah "pahlawan" yang mengendarai ombak teknologi itu. Punya asisten super pintar kayak ChatGPT atau Gemini emang bikin hidup jauh lebih gampang, tapi kalau kita pakai tanpa kontrol diri dan masa bodoh soal privasi, kita sendiri yang bakal rugi. Yuk, mulai sekarang jadi pengguna yang cerdas, yaitu jadikan AI teman diskusi buat berkembang, tapi tetap jaga daya kritis dan ekstra hati-hati dalam menjaga rahasia data kita!

Referensi

Yahya, Helmy. (2025, 19 Desember). Bagaimana Masa Depan Literasi Indonesia di Era AI? [Video Podcast]. Dalam Helmy Yahya Bicara. YouTube. https://youtu.be/J4UUQvi3FBY?si=s8107eNCmLOLvMoa

Witjaksono, Aiman. (2026, 12 Januari). Seram, Selama Ini Kita Dibohongi AI‼️ Ini Buktinya [Video Podcast]. Dalam Close the Door. YouTube. https://youtu.be/l8qHTPQXDrg?si=s-wKxzEOg9XpP6W1

Disclaimer

Retizen adalah Blog Republika Netizen untuk menyampaikan gagasan, informasi, dan pemikiran terkait berbagai hal. Semua pengisi Blog Retizen atau Retizener bertanggung jawab penuh atas isi, foto, gambar, video, dan grafik yang dibuat dan dipublished di Blog Retizen. Retizener dalam menulis konten harus memenuhi kaidah dan hukum yang berlaku (UU Pers, UU ITE, dan KUHP). Konten yang ditulis juga harus memenuhi prinsip Jurnalistik meliputi faktual, valid, verifikasi, cek dan ricek serta kredibel.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |