Kisah Aktivis Flotilla Gaza: Disiksa, Lapar, Dehidrasi

8 hours ago 4

SEMBILAN warga negara Indonesia yang mengikuti misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla telah tiba di Indonesia pada Ahad, 24 Mei 2026. Mereka disambut keluarga dan masyarakat luas setibanya di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten, setelah sebelumnya diculik Israel dalam misi kemanusiaan ke Gaza, Palestina.

Aktivis kemanusiaan Hendro Prasetyo menceritakan pengalamannya mogok makan atau hunger strike selama ditahan militer Israel di perairan. Dia mengatakan zionis Israel memang memberikan makanan dan minuman yang terbatas untuk ratusan relawan yang diculik.

Scroll ke bawah untuk melanjutkan membaca

Namun, dia berujar para aktivis Global Sumud Flotilla kompak tidak mengonsumsi pemberian dari Israel tersebut. “Prinsip kami, segala yang mereka berikan itu semuanya adalah penderitaan. Kami tidak tahu apakah (mengandung) racun atau tidak,” ucapnya ditemui di Bandara Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten pada Ahad, 24 Mei 2026.

Mereka menahan diri untuk tidak memakan roti dan mineral yang diberikan Israel selama tiga hingga lima hari. Kondisi itu membuat para aktivis Global Sumud Flotilla mengalami kelaparan dan dehidrasi. “Dehidrasinya tidak bisa saya tahan lagi, jadi (akhirnya sempat) meminum,” kata dia.

Aktivis dari SMART-171 ini bercerita, perlakuan cukup parah juga dialami para relawan Global Sumud Flotilla ketika dipindahkan ke kurungan di suatu kapal. Dia berujar minuman yang disediakan sangat terbatas.

“Jadi kami minum semacam air keran. Kami dikasih air teko untuk dibagi ke 30 orang, per orang hanya minum tiga kali teguk,” ujar dia.

Perlakuan yang sama juga dirasakan oleh Andre Prasetyo, jurnalis TV Tempo yang mengikuti misi kemanusiaan Global Sumud Flotilla untuk mendobrak blokade Gaza. Dia berujar melakukan hunger strike selama tiga hari. “Saya hanya makan dan minum sedikit sebelum dilempar ke Asdod,” ucap Andre di Bandara Soekarno-Hatta.

Penyiksaan tak hanya asupan makan dan minum yang dibatasi. Andre bercerita selama ditahan Israel, para aktivis Global Sumud Flotilla mendapat berbagai bentuk tindak kekerasan fisik. “Teman saya dari Eropa ditembak dengan peluru karet. Kami dibangunkan dengan suara ledakan,” katanya.

Bagian tangan Andre juga terlihat memar-memar. Andre berkata luka itu didapat dari kabel ties yang secara paksa diikat di tangan para relawan Global Sumud Flotilla.

Namun, Andre menyatakan penderitaan yang ia alami tak sebanding dengan yang selama ini dirasakan rakyat Palestina. “Jadi jangan lupa untuk terus mendukung kemerdekaan Palestina. Saya meminta kepada pemerintah untuk terus mengupayakan proses diplomasi,” ucapnya.

Read Entire Article
International | Nasional | Metropolitan | Kota | Sports | Lifestyle |